Kota Canterbury dan Hari-Hari di DICE

Setelah menghabiskan waktu beberapa hari di Kota London, saya beranjak ke tujuan utama: Kota Canterbury.

Canterbury merupakan sebuah kota kecil, berjarak sekitar 100 km di sebelah tenggara London.

Saya menghabiskan waktu tujuh hari ini di sini, dengan ritme harian yang cukup teratur. Saya menginap di Falstaff Hotel, sebuah hotel bergaya klasik yang terletak tak jauh dari gerbang kota tua.

Setelah sarapan, saya berangkat ke kampus University of Kent — berjalan sekitar setengah kilometer ke halte lalu naik bus ke kampus — dan menghabiskan waktu seharian di sana.

Kembali ke hotel di waktu petang, biasanya saya turun di halte bus yang agak jauh dari hotel, sambil sedikit jalan-jalan dan membeli makan malam.

Belum berlangganan Medium? Baca cerita ini di sini.

Kota Tua Canterbury

Karena sehari penuh saya berkegiatan di kampus, praktis saya hanya punya waktu petang untuk jalan-jalan. Ditambah juga, butuh waktu untuk beranjak dari kampus Kent ke pusat kota.

Selain itu, waktu jalan-jalan saya terbatas karena semakin malam, suhu bisa terasa seperti 0 hingga minus 2 derajat. Tentu saya memilih berada di kamar hotel yang hangat.

Bangunan-bangunan di sepanjang jalan utama tampak seperti tak berubah sejak ratusan tahun yang lalu. Nuansa kota tua terasa kental, seakan menyimpan banyak cerita dan jejak sejarah.

Salah satu susut bangunan di Kota Canterbury yang sudah ada sejak abad ke-16. Sayang sekali saya datang di malam hari di musim dingin. Sila mengunjungi laman ini untuk melihat lebih banyak foto lokasi ini.

Canterbury sendiri merupakan kota ziarah penting sejak Abad Pertengahan, dikenal luas karena kisah dalam The Canterbury Tales karya Geoffrey Chaucer — sebuah kumpulan cerita dari para peziarah yang berjalan menuju Katedral Canterbury.

Setiap sore, saya berjalan melewati Westgate — sebuah gerbang batu besar yang menjadi bagian dari tembok kota tua. Westgate Tower masih berdiri kokoh di ujung jalan utama, mengawasi arus lalu lintas dan pejalan kaki yang lalu-lalang.

Westgate Tower yang juga menjadi gerbang masuk ke kota tua Canterbury. Dari hotel, saya hanya perlu dua menit jalan kaki menuju ke lokasi ini.

Tepat di sebelah Westgate Tower, ada sebuah taman kecil bernama Westgate Gardens. Ini mungkin salah satu tempat favorit saya di Canterbury. Taman ini menghampar di sepanjang Sungai Stour, dengan jalan setapak yang dikelilingi pohon-pohon tua, bunga musiman, dan bangku-bangku kayu yang mengundang siapa pun untuk duduk sebentar.

Sayang sekali saya berkunjung di penghujung musim dingin. Saya hanya bisa membayangkan betapa cantiknya taman ini saat musim semi tiba.

Westgate Garden dengan latar belakang Westgate Tower.

Di penggalan Sungai Stour yang lain, tepatnya di sekitar parkiran Sainsburry, terdapat satu keluarga biwara (beaver) yang muncul hampir setiap sore.

Banyak orang datang untuk melihat, tetapi tidak semua orang beruntung dan berhasil bertemu mereka. Saya salah satu orang yang beruntung itu. Cerita lebih lengkap tentang pertemuan saya dengan biwara akan saya tulis di kesempatan lain.

Selain itu, saya sempat mengunjungi Canterbury Cathedral di suatu petang. Bangunan yang sudah berdiri sejak abad ke-6 ini luar biasa megah. Saking besarnya, saya tidak bisa mencari sudut dan jarak foto yang bisa menangkap keseluruhan bangunan. Dari batu-batu tua itu, saya bisa merasakan bagaimana sejarah berlapis-lapis membentuk kota ini.

Canterbury Cathedral di malam hari

Setiap malam, saya mencari makan di sekitaran hotel. Lokasi hotel yang strategis membuat saya tidak kesulitan mencari makanan halal. Meski pilihannya terbatas: restoran turki atau timur tengah. Pastinya, terdapat pilihan tak terbatas jika saya tidak mencari label halal.

Setidaknya ada tiga restoran halal dalam radius 5 menit jalan kaki, salah satu yang ternama Chicken Cottage. Tapi pilihan favorit saya adalah restoran bernama Munchies. Rasanya lumayan tetapi jangan dibandingkan dengan menu serupa di Kota London.

Saya sempat beberapa kali mengobrol dengan Sulaiman, koki yang juga merangkap sebagai pramusaji dan kasir. Pemuda yang baru dua bulan tinggal di Inggris ini sangat terperanjat ketika saya berkata bahwa tidak ada musim dingin di Indonesia.

Di malam terakhir, dia memberi saya diskon dan bonus berupa minuman kaleng. Mungkin karena saya yang sudah beberapa kali beli di sana. Atau mungkin karena malam itu malam pertama Ramadhan.

Munchies, tempat saya biasa membeli makan malam. Ada logo halalnya.
Sulaiman sedang mempersiapkan makanan saya
Menu shis dan doner dari Munchies
Menu nasi dan ayam dari Chicken Cottage. Maafkan meja yang berantakan

Hari-Hari di DICE

Hari-hari saya di Canterbury sebagian besar dihabiskan di kampus University of Kent, tepatnya di Durrell Institute of Conservation and Ecology (DICE). Tempat ini menjadi tujuan utama dari kunjungan saya — sebuah kesempatan langka untuk belajar langsung tentang systematic conservation planning dari para ahlinya.

University of Kent merupakan salah satu tempat penting di Canterbury. Bahkan saat pertama kali turun dari kereta di Stasiun Canterbury West, saya langsung disambut papan bertuliskan ‘Selamat Datang’ — dan nama University of Kent terpampang di sana.

University of Kent dijuluki “UK’s European University” karena letaknya yang strategis dekat Eropa daratan, serta keragaman mahasiswanya dari berbagai negara. Kampusnya yang tenang dan dikelilingi alam membuat suasana belajar terasa lebih reflektif dan mendalam.

Papan selamat datang di Canterbury oleh University of Kent. Papan ini berada di Stasiun Canterbury West

Hari pertama di DICE, saya mengikuti sesi dengan Prof. Bob Smith — salah satu nama besar di bidang ini. Ia memperkenalkan dasar-dasar perencanaan konservasi berbasis spasial. Saya juga dipinjami buku tebal mengenai conservation planning yang menemani proses belajar saya. Hari itu matahari bersinar terang, tapi tetap saja dingin terasa menusuk — semacam “matahari palsu” khas musim dingin.

Selain Bob, ada dua orang yang juga menjadi mentor saya yaitu Dr. David Seaman dan Dr. Laura Kor. Dave menjadi mentor saya sehari-hari, tempat saya bertanya jika mengalami kesulitan atau menemui error secara teknis.

Rasanya seperti mendapat latihan intensif untuk bersiap menggantikan David Raya saja (semoga paham maksud saya!). Selain mendapat rekan kerja yang ramah dan suprortif, saya juga mendapat ruang kerja dan meja kerja yang sangat nyaman.

Foto dengan Prof. Bob Smith. Dia sebenarnya jangkung dan harus sangat menunduk ketika selfie ini.
Fotot bersama Laura, Dave dan Emily
Foto dengan Febri dan Roby, orang Indonesia yang sedang menjalani studi doktoral di DICE

Di hari-hari berikutnya, saya belajar menggunakan CLUZ. CLUZ adalah plugin dalam QGIS yang digunakan untuk merancang rencana konservasi berbasis spasial, dengan menjalankan Marxan untuk simulasi skenario perencanaan kawasan konservasi.

Plugin ini memang dikembangkan oleh Bob. Saya beruntung bisa mencoba versi ter-update plugin yang belum terbuka untuk umum secara luas.

Saya mengerjakan latihan mandiri menggunakan dua tutorial yang tersedia di web — dan satu tutorial khusus — serta mulai mencoba data dari Rote, lokasi kegiatan saya.

Sempat beberapa kali mengalami error, terutama saat saya mulai menggabungkan CLUZ dengan Marxan with Zone. Tetapi seperti biasa, dari error dan bugs inilah saya belajar lebih dalam mengenai troubleshooting dan menghafal setiap detil prosesnya — karena mengulang-ulang proses yang sama puluhan kali!

Ruang kerja saya di sana, dipinjami meja di ruang E3 Innovation Office
Quote yang diganti setiap beberapa waktu sekali
Setup kerja saya di sana

Saya juga ikut dalam pertemuan mingguan dan diskusi informal di DICE, menjadi tamu sekaligus anggota dari tim Bob. Salah satu momen yang berkesan adalah DICE Monthly Talks, di mana saya menyimak paparan riset dari mahasiswa bimbingan Bob.

Ada tiga orang mahasiswa undergraduate yang menjadi pembicara. Sam menyampaikan tentang pengaruh pengalaman terhadap hasil survey biodiversitas, Katie membawakan topik tentang persepsi lokal dalam pembentukan Marine Protected Area di suatu tempat di Islandia, dan Ella dengan presentasinya mengenai pengaruh karakter personal dengan pelatihan biodiversitas.

Di sela-sela jam belajar, saya menyempatkan diri jalan-jalan sore di area kampus yang asri. Pohon-pohon, rumput dengan bangku taman yang tersedia untuk siapa saja. Karena berada di atas bukit, saya bisa memandang kota Canterbury dari ketinggian.

Menyimak DICE Monthly Talks edisi Februari 2025
Suasana kampus di sore hari
Pemandangan ke arah kota dari Kampus Kent. Canterbury Cathedral nampak dari jarak berkilometer jauhnya.
Lorong yang saya lewati dari ruang kerja ke toilet
Nonton bola di sebuah sport bar di kampus

Satu hal yang selalu saya anggap keberuntungan, adalah satu-satunya masjid di Canterbury terletak sangat dekat dengan kampus — sekitar 10 menit jalan kaki saja. Bagaimana tidak, selain memudahkan dalam urusan ibadah, masjid ini mempermudah saya dalam urusan buang hajat — karena bisa bebersih menggunakan air, bukan hanya dengan tisu.

Menutup Perjalanan di Canterbury

Saya menutup perjalanan saya di Canterbury dengan melihat biwara di malam terakhir dan mengunjungi Westgate Garden di keesokan harinya.

Siapa sangka, momen melihat biwara malam itu memicu kejadian tak terduga — sebuah cerita yang justru menjadi kenangan paling membekas di sepanjang perjalanan saya selama dua minggu di Inggris.

Kota ini kadang mengingatkan saya pada Kota Jogja, kampung halaman saya di Indonesia. Di Canterbury, orang-orang tidak terburu-buru. Mereka berjalan santai, membawa anjing, membeli roti di toko kecil, atau sekadar duduk minum kopi di teras restoran.

Saya pun tanpa sadar memperlambat langkah. Belajar menikmati sore tanpa target, membiarkan waktu berjalan tanpa harus terus melihat jam.

Saddam Hussein
Saddam Hussein
Articles: 137

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Link QQ88

Daftar QQ88

QQ88

slot gacor terbaru

QQ88