Setelah kemarin sedikit berkontemplasi dengan melihat dan menelisik capaian musim lalu, saya jadi tergelitik untuk membandingkan seluruh performa saya bermain Fantasy Premier League (FPL).
Sebagai pemain yang tidak bisa lagi dianggap medioker (Rank 6k dunia, dan 50 besar Indonesia), momen pause and reflect seperti ini menjadi penting dan harus segera dilakukan.
Menariknya, data menunjukkan bahwa saya mengalami musim terburuk tepat setelah melewati musim terbaik.
Apa yang menyebabkannya? Bagaimana perbandingan kedua musim ini dilihat dari tren setiap minggu serta penggunaan chip? Apa pembelajaran penting yang bisa saya dapatkan dari sana?
Mari kita bedah satu per satu.
Season History
Saya telah memainkan game (jika memang bisa masuk kategori game) sejak musim 2016/17. Itu artinya, saya telah bermain sebanyak sembilan musim berturut-turut, dan ini musim ke-sepuluh saya.
Dari sembilan musim tersebut, hanya tiga kali saya finis di luar peringkat 100K — sebuah batas yang sering dijadikan patokan untuk membedakan manajer top dan medioker. Bahkan kalau boleh beralasan, musim pertama saya sejujurnya lebih mirip “coba-coba,” karena saat itu saya belum benar-benar serius bermain.

Grafik di atas dengan jelas menujukkan bahwa musim terbaik saya adalah musim 2021/22, dan musim terburuk adalah musim 2022/23.
Ironisnya, saya mengalami musim terburuk tepat setelah mendapatkan musim terbaik saya di FPL.
Saya masih ingat beberapa hal manis yang saya alami di musim terbaik saya.
Pertama, saya mendapatkan start awal yang sangat baik, berkat duo West Ham: Antonio dan Benrahma yang saya pasang di awal musim. Ini buah dari ketekunan saya menyimak pertandingan pra-musim.
Di musim tersebut, saya mengakhiri liga di peringkat ke 28 Indonesia!! Yang lebih hebat lagi, saya sempat merasakan beberapa pekan berada di posisi peringkat 2 dan 3!!.
Dan karena saya menyempatkan ikut liga-liga yang ada hadiahnya, saya ingat bahwa saya meraup hadiah total 1–1.5 juta dan 1 jersey. Bukan jumlah yang fantastis memang, tapi ini juga karena saya belum tekun mendaftar liga.
Tidak banyak yang dapat saya ingat di musim terburuk saya waktu itu. Yang jelas, faktor utama yang menyebabkan burukya prestasi saya adalah kejumawaan saya akibat capaian musim sebelumnya.
Mental saya kena. Kejumawaan di awal musim langsung terbayar kontan. Meskipun sempat memperbaiki performa, nyatanya ketertinggalan itu tetap tidak terkejar.
Ditambah dengan sibuknya saya di pekerjaan, dan melemahnya antusias teman-teman main saya, lengkap sudah musim itu saya loyo sekali.
Namun kondisi itu jadi ada hikmahnya. Untuk menambah gairah saya main FPL, saya jadi gabung ke komunitas KoFPLI regional Bogor.
Meskipun bukan menjadi anggota yang aktif, berada di grup WA dengan orang-orang sehobi ternyata menyenangkan dan membuat prestasi per-FPL-an saya kembali meningkat di musim-musim berikutnya.
Perbandingan Pekan ke Pekan
Sayangnya, saya belum disiplin melakukan perekaman data untuk setiap musim. Jikapun sempat saya simpan, lokasi file-nya sudah tidak bisa saya temukan lagi. Jadi, saya hanya punya data lengkap untuk empat musim saja, yaitu musim 2018/19, 2021/22, 2022/23, dan 2024/25.
Syukurlah, di antara yang selamat, terselip data musim terbaik dan terburuk. Jadi, analisis perbandingan dapat saya lakukan.
Setelah ini, saya akan berfokus untuk membandingkan musim 2021/22 dan 2022/23, dan menjadikan dua musim yang lain sebagai kontrol pembanding.
Secara umum, perbandingan dua musim secara detail pekan per pekan dapat dilihat di grafik di bawah ini. Musim terbaik ditunjukkan oleh grafik berwarna biru, dan musim terburuk ditunjukkan oleh grafik berwarna hijau.

Beberapa insight penting yang didapatkan dari melihat grafik di atas, secara singkat adalah sebagai berikut:
Tren lintas musim
2018/19 – slow start, strong finish; stabil naik dan finis ~24K.
Kurva OR-nya sempat zig-zag di awal (70k–900k), lalu menukik kuat sekitar GW10–12 dan menutup musim dengan run-in bagus. Ini biasanya terjadi saat keputusan chip/transfer di paruh kedua tepat: jadwal berpihak, rotasi bisa diprediksi, dan struktur skuad makin solid.
2021/22 – paling stabil; cepat masuk <100K dan terus merayap turun hingga top few-thousand.
Sejak awal cepat menembus <100k dan terus merayap turun hingga top few-thousand. Kurvanya mulus — minim lonjakan tajam — menandakan lantai poin terjaga hampir setiap GW. Di balik itu ada kombinasi: kapten yang aman, pemain minutes-secure, dan chip di momen DGW besar.
2022/23 – paling volatil; start >3M, sempat turun, lalu naik-turun tajam dan finis 353K.
Start >3M, turun cepat, lalu berulang kali memantul di 1M–300k. Pola ini sering muncul saat keputusan starting line-up tidak konsisten (PB tinggi), transfer agresif tapi tidak selalu tepat, dan beberapa bad week menahan laju OP kumulatif.
2024/25 – start buruk tapi recovery cepat, finish di ~72K.
Mulai dengan sangat buruk, namun struktur skuad membaik dan nilai tim naik, sehingga OR bergerak ke ~72k. Ini contoh bahwa defisit di awal masih bisa dikejar kalau 10–15 GW berikutnya konsisten.
Perbandingan poin per pekan
Selanjutnya, perbandingan nilai per pekan (gameweek point) pada musim terbaik dan terburuk. Gameweek 7 di musim 2022/23 menunjukkan nilai NA (tidak ada data) karena memang tidak ada pertandingan akibat masa berkabung istana Inggris.

Beberapa insight dari grafik di atas:
Rata-rata GWP: 2021/22 72.1 vs 2022/23 67.9 → selisih +4.2 poin/GW (≈ 200+ poin sepanjang musim).
Tambahan empat poin per pekan tampak kecil, tapi akumulasi 38 GW menjadikannya jurang besar untuk OR. Ini muncul dari banyak pekan “stabil” (60–70 poin) ketimbang berharap satu pekan 120+.
Start & mid-season menentukan
Rata-rata GWP GW1–10: 2021/22 70.0 vs 2022/23 60.4.
Sedangkan rata-rata GW11–28: 2021/22 70.8 vs 2022/23 62.3.
Musim 2022/23 sebenarnya kuat di run-in (GW29–38: 78.7 vs 76.5), tapi defisit poin di awal–tengah musim sudah telanjur “mengunci” OR.
Bad weeks (<50 poin): 2021/22 5x vs 2022/23 8x.
Bad week adalah musuh utama OP. Tiap masuk <50, kita bukan cuma tertinggal dari rata-rata, tapi juga memberi momentum kompetitor (EO tinggi). Strategi yang baik menekan frekuensi bad week sambil tetap membuka peluang spike.
Melihat tren PB, TM dan TC
Berikut adalah tabel total angka Point in Bench (PB), Transfer Made (TM), dan Transfer Cost (TC).

Beberapa insight dapat ditarik adalah:
Transfer & Bench: 2022/23 punya Point in Bench (PB) tertinggi dan Transfer Made (TM) paling agresif, sedangkan Transfer Cost (TC) tertinggi justru 2021/22.
Apa maknanya? Agresif transfer tidak otomatis menghasilkan poin jika pemilihan starting line up kurang optimal — tanda PB tinggi. Saya baru sadar ketika melihat ini, tingginya poin yang tersia-sia ini sangat berpengaruh pada rank di musim 2022/23.
Di sisi lain, minus (TC) bisa bernilai bila timing + target tepat (DGW, kapten minutes-secure). 2021/22 menunjukkan bahwa meskipun banyak mengambil minus, banyak juga yang menghasilkan poin. Itu artinya kualitas keputusan mengalahkan kuantitas mengambil minus.
Penggunaan Chip
Untuk melihat keberhasilan penggunaan Triple Captain, Free Hit dan Bench Boost, saya membandingkan poin ketika chip digunakan (GWP_at_chip) dengan poin rata-rata (SeasonMean_GWP). Selanjutnya, hasil perubahan ini dapat dilihat di kolom Delta vs Season Mean.
Sedangkan untuk melihat keberhasilan Free Hit, saya menambah variabel ranking ketika chip digunakan (GWR_at_chip). Hal ini dikarenakan Free Hit biasanya digunakan untuk “menyelamatkan” poin ketika blank Gameweek. Ini berarti, sudah wajar ketika poin lebih rendah karena jumlah pertandingan juga lebih sedikit.

Pendekatan berbeda saya lakukan untuk melihat keberhasilan Wildcard. Efek Wildcard seharusnya berjangka lebih panjang. Maka, saya membandingkan tiga gameweek sebelum dan sesudah Wildcard. Variabel yang saya gunakan adalah rata-rata poin dan perubahan ranking. Untuk menambah derajat kepercayaan, saya juga melakukan perbandingan dalam rentang lima gameweek sebelum dan sesudah Wildcard.

Afterburner 3-GW
- 22/23 WC9: ΔGWP +15; OR membaik ~+578k
- 22/23 WC26: ΔGWP +34–35; OR ~+460k
- 21/22 WC8: ΔGWP +21.5; OR membaik tipis
- 21/22 WC34: ΔGWP +30.3; OR netral/nyaris netral
Afterburner 5-GW
- 22/23 WC26: ΔGWP +18; OR ~+580k (sangat kuat)
- 22/23 WC9: ΔGWP −7.5; OR ~+400k (struktur pasca-WC tetap menolong)
- 21/22 WC8 & WC34: ΔGWP +12–14; OR netral (baseline OR sudah bagus → ruang perbaikan kecil)
Insight cepat
Musim 2021/22
- Triple Captain (GW26) dan Bench Boost (GW36) memberikan lonjakan di atas rata-rata musim (Δ positif besar) dan GWR sangat bagus → ini kontribusi besar pada finish elite.
- Free Hit (GW27/GW37): salah satunya memberi Δ positif moderat; yang lain cenderung netral — tetap membantu manajemen blank/DGW tanpa merusak rata-rata.
- Wildcard (GW8 & GW34): efek langsung di GW aktivasi mungkin tidak meledak, tapi terlihat momentum perbaikan di GW-GW setelahnya (sesuai kurva OR yang makin turun).
Musim 2022/23
- Bench Boost (GW29) menghasilkan Δ positif, namun Triple Captain (GW34) tidak sebesar 2021/22 (Δ lebih kecil).
- Free Hit (GW32) cenderung netral/di bawah rata-rata → tidak memberi dorongan berarti.
- Dua Wildcard (GW9 & GW26): dampak langsung beragam; melihat tren OR musim itu, perbaikan tidak stabil — selaras dengan tingginya PB dan volatilitas GWP.
Implikasi
- TC & BB paling berdampak saat ditembakkan pada DGW kuat dan skuat siap (minim rotasi), terbukti di 2021/22.
- FH efektif jika landscape GW benar-benar ekstrem (blank besar/EO premium terpecah). Jika tidak, hasilnya cenderung netral.
- Wildcard lebih berfungsi sebagai enabler momentum (efek multi-GW) dibanding boost instan di GW aktivasi — ukur keberhasilan lewat 3–5 GW setelahnya.
Faktor lain yang menentukan
Efek pandemi & jadwal tersebar (spreaded schedule)
Musim 2021/22 membawa “ekor” pandemi: penundaan, re-schedule, dan double gameweeks (DGW) yang mengumpul di beberapa kluster. Dampaknya:
- Lebih banyak info mepet deadline. Preskon, kebocoran susunan pemain, dan update cedera mengalir T-60/T-15 menit. Ini menciptakan keunggulan informasi bagi manajer yang disiplin memantau jelang deadline.
- DGW besar (mis. GW26, GW36) memberi leverage chip: Triple Captain dan Bench Boost jadi jauh lebih bernilai jika menit pemain kunci terjamin.
- Blank gameweeks (BGW) menguji kedalaman skuat: manajer yang siap dengan struktur (bukan sekadar punt) bisa menjaga lantai poin dan menekan bad week.
“Eye test” & ritme menonton
Karena jadwal tersebar, saya lebih banyak menonton pertandingan. Efeknya:
- Validasi data dengan konteks lapangan: set-pieces, pergeseran peran (inverted/underlap), late runs.
- Deteksi risiko menit: membantu menilai siapa yang aman 70–90 menit vs rawan ditarik 60-an — krusial untuk bench management.
Kombinasi eye test + data (xMins, form, jadwal) membuat keputusan lebih tajam, menurunkan PB, dan menjaga konsistensi GWP.
Dinamika harga & momentum informasi
Bandwagon bergerak cepat. Masuk lebih awal pada pemain minutes-secure memperkuat team value; inilah salah satu alasan nilai tim 2021/22 tinggi, memungkinkan kombinasi dua premium + bench fungsional.
Intinya: 2021/22 terasa “lebih mudah” karena kelebihan informasi (dan perhatian) + ritme menonton yang sinkron dengan jadwal tersebar.
Lesson Learned
Hasil analisis perbandingan ini membuat saya dapat menarik pembelajarn penting sebagai berikut:
- Konsistensi mengalahkan ledakan.
Naik +3–5 poin/GW secara konsisten menghasilkan selisih ratusan poin di akhir. Fokus pada keputusan yang menaikkan poin: kapten aman, pilih XI berdasarkan xMins, dan hindari -4 impulsif tanpa ROI jelas. - Rencana chip = ROI beberapa pekan, bukan satu GW.
Data afterburner 3–5 GW menunjukkan Wildcard paling konsisten meningkatkan performa setelah chip — terutama saat fixture swing (contoh 22/23 WC GW26 → ΔGWP +18, OR membaik ~+580k). TC/BB maksimal saat DGW besar dengan menit “pasti”. FH untuk menutup BGW ekstrem, bukan mengejar lonjakan panjang. - Saat TM tinggi, perketat keputusan bench.
Agresif transfer sering menggoda untuk punt, tapi itu harus diimbangi dengan disiplin benching. Cek prediksi menit, set-pieces, dan EO — siapa yang lebih aman untuk starting XI ketimbang mengejar diferensial tipis. - Minus itu alat, bukan dosa.
2021/22 membuktikan minus bisa mengangkat OR jika alasan jelas: menggandakan peluang di DGW, mengamankan kapten, atau memperbaiki struktur sebelum kluster jadwal. Kuncinya di proses evaluasi (siapa keluar/masuk, kapan, dan dampak 3–5 GW ke depan). - Target checkpoint OR (guardrail).
Pasang patokan realistis: GW5 <500k, GW10 <200k, GW15 <100k. Ini memaksa untuk menilai ulang strategi lebih dini: apakah perlu WC, atau cukup dua FT beruntun untuk tune-up skuad. - Replikasi “edge informasi” di musim normal.
Musim 2021/22 diuntungkan jadwal terpencar (efek COVID) → lebih banyak info mepet deadline. Tirukan dengan pre-deadline checklist: alarm T-60 & T-15, cek preskon terakhir, kabar line-up terpercaya, cuaca, dan pastikan kapten/vice & urutan bench sudah “fixed”. - Gagal merancang, merancang kegagalan.
Beri perhatian lebih terhadap permainan kalau mau sukses. Tidak perlu setiap GW, cukup beberapa GW sekali. Fokuskan perhatian pada: fixture swing, form pemain, dan sebanyak-banyaknya “eye-testing”. Fokus untuk merancang transfer 3–5 GW ke depan. Jangan mudah terpancing melakukan rage transfer, terutama setelah bad gameweek.
Simpul
Musim terbaik saya terjadi saat konsistensi menjadi strategi utama: minim bad week, chip ditembakkan pada saat paling bernilai, dan minus dipakai dengan agresif dengan tetap menjaga kualitas pengambilan keputusan. struktur.
Musim terburuk mengingatkan bahwa agresif transfer tanpa manajemen XI yang ketat justru memperbesar PB dan varians negatif.
Dengan menyalin disiplin 2021/22 : terutama perencanaan transfer, eye test yang terarah, checklist jelang deadline, dan rencana chip berorientasi multi-GW , mengejar finish <100k menjadi target realistis setiap musim.
Meskipun demikian, target finish <10k harus selalu jadi standar untuk pemain sekaliber saya. Haha.



