Untuk urusan pekerjaan, saya berkesempatan mengunjungi Inggris. Tujuan utama saya adalah mengikuti kegiatan di DICE, University of Kent, di Kota Canterbury.
Saya cukup beruntung karena bisa berangkat lebih awal dan punya waktu lebih lama di London sebelum melanjutkan perjalanan ke Canterbury.
Awalnya, saya tidak berhasil mendapatkan tiket pada hari yang sudah saya rencanakan. Kebetulan, waktu keberangkatan saya bersamaan dengan puncak liburan sekolah di sana, sehingga harga tiket melambung.
Kantor akhirnya memutuskan untuk membelikan tiket dua hari lebih awal, yang membuat saya bisa berangkat lebih cepat dan menikmati waktu ekstra di London. Tentunya, keputusan ini saya sambut dengan mata berbinar dan lubang hidung yang membesar.
Drama sebelum berangkat
“Kali udah mau ditinggal?” tanya Ibuk saya, nenek Kali, saat saya berpamitan lewat panggilan video, satu malam sebelum berangkat.
“Aman, Buk,” jawab saya mantap.
Kali, anak saya yang berusia lima tahun, sebenarnya sudah terbiasa ditinggal pergi ke luar kota. Tapi kali ini, dia tampak enggan ditinggal dan selalu membicarakan hal ini setiap hari. Meski begitu, sekitar tiga hari sebelum keberangkatan, akhirnya dia memberi izin pada bapaknya untuk pergi.
Namun, di hari keberangkatan, kondisinya justru berbalik 180 derajat.
Kali terus ngelondot dan akhirnya menangis sejadi-jadinya saat taksi yang akan mengantar saya ke bandara datang. Trik mengajak dia naik taksi dan mengantar saya ke depan gerbang juga gagal.
Di depan gerbang, dia dipaksa ibuknya untuk keluar dari taksi — masih terus menangis. Jadilah saya berangkat dengan hati yang berat. Untungnya, video call sepanjang perjalanan dari Bogor ke Bandara cukup untuk menenangkan hatinya, juga hati saya.
Drama ini menjadi pelengkap berbagai kejadian melelahkan yang diawali dengan persiapan keberangkatan yang mepet.
Saya baru mendapat kepastian keberangkatan sekitar dua bulan sebelum jadwal, namun pengurusan visa tertunda karena libur akhir tahun. Rencana pun mundur lagi karena saya harus ke Banda Aceh, dan akhirnya persiapan baru dimulai pertengahan Januari.
Bayangkan, dengan waktu yang mepet dan libur nasional, saya baru menerima visa dua hari sebelum berangkat, dan approval perjalanan pun baru keluar di hari keberangkatan!
Tentunya, semua ini bukan karena kurangnya kesigapan. Sebaliknya, keberangkatan ini justru bisa terlaksana dengan lancar berkat kerja sat set bat bet dari semua pihak yang terlibat. Mulai dari admin kantor, teman-teman yang membantu, pihak DICE, hingga pihak VFS yang menepati janjinya dengan mengeluarkan visa tepat waktu, dalam 15 hari kerja.
Tentang penerbangan Jakarta-London dengan Emirates
Emirates dikenal sebagai salah satu maskapai terbaik di dunia, dan penerbangan saya dari Jakarta ke London Heathrow via Dubai memberi saya kesempatan untuk mencoba dua jenis pesawat yang berbeda:
✈ Boeing 777–300ER untuk rute Jakarta — Dubai (00.20–05.40)
✈ Airbus A380 untuk rute Dubai — London. (09.40–14.10).
Itu artinya, saya akan transit di Bandara Dubai sekitar 4–5 jam-an.
Proses online check-in saya lakukan dengan mudah. Proses ini dapat dilakukan mulai dari 48 jam sebelum keberangkatan. Saya tidak mau kehabisan kursi. Jadi, saya langsung check in begitu mendapatkan notifikasi yang dikirim ke email. Sungguh, email ini sangat bermanfaat untuk mengingatkan calon penumpang untuk segera check-in.
Saya langsung antre bagasi begitu sampai di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Dalam standar saya, saya sudah terlambat meskipun waktu masih menyisakan sekitar 90 menit sebelum take off. Ingat cerita saya di awal tadi? Keterlambatan ini disponsori oleh kerewelan Kali.
Saya tidak salah. Lagi antre dapat setengah, panggilan alam datang dengan berapi-api. Sudah tidak dapat menahan lagi, saya langsung lari membawa koper saya ke toilet terdekat. Untungnya saya masih punya waktu untuk antre menaruh bagasi kembali. Sekali lagi, meskipun cukup mepet menurut standar saya.
Setelah dimintai KTP dan bukti check-in online, koper saya pun ditimbang. Saya memang tidak membawa banyak barang, cukup satu koper ukuran 20 inch. Beratnya pun kurang dari 10 kg, sehingga saya tidak dikenakan biaya tambahan. Seperti penerbangan internasional pada umumnya, Emirates menyediakan 20 kg bagasi gratis untuk penumpangnya.
Pesawat Boeing 777 dan Airbus A380
Saya berkesempatan naik di dua pesawat yang berbeda, yaitu Boeing 777–300ER dan Airbus A380.
Sekilas keduanya nampak sama. Sama-sama besar. Tapi setelah dilihat lagi, terlihat juga bedanya.
Dari luar Airbus A380 memiliki ukuran lebih besar, ditandai dengan ruang penumpangnya yang dua lantai. Jelas pasti ada istilah tertentu untuk ini. Tapi biarlah kita gunakan istilah “lantai” saja.
Di dalam, kedua pesawat menggunakan konfugurasi kursi pesawat 3–4–3 (seperti formasi Inter Milan) pada kelas ekonomi.
Secara ukuran, jelas terlihat bahwa kursi di Airbus A380 memiliki ukuran yang lebih besar, terutama jarak antara kursi dengan kursi depannya. Tapi bagi saya yang kakinya pendek, perbedaan ini tidak begitu terasa. Kursi yang nyaman saya rasakan di keduanya.
Oiya, ada bintang-bintang di langit-langit pesawat Boeing 777 yang kelihatan saat malam datang dan lampu dimatikan. Enggak tahu kalau buat orang lain, tapi bagi saya ini membantu proses tidur, yang ternyata susah juga karena terlalu excited.
Review Makanan yang Tidak Berbohong
Sebelum berangkat, saya sempat menanyakan pengalaman teman dan membaca beberapa review soal Emirates. Dari sekian yang saya baca, yang paling banyak dipuji adalah soal makanannya. Dan memang, review itu sama sekali tidak berbohong.
Dalam nampan ini, terhampar seporsi nasi basmati hangat yang disajikan bersama semangkuk chicken curry bercitarasa rempah — kuahnya kental, berwarna oranye kemerahan, dengan potongan ayam empuk yang terlihat lembut dan berminyak menggiurkan. Taburan bawang goreng di atas nasi menambahkan aroma gurih yang menggugah selera.
Selain nasi dan ayam kari, saya juga menikmati hidangan lainnya. Hidangan kecil ini tampak seperti salad sayur berpadu dengan mashed potato bercampur potongan kecil tuna atau ayam — teksturnya lembut dengan bumbu herbs dan crumb renyah. Di dasar wadah, daun selada hijau segar menambah kontras renyah dan kesegaran, sehingga setiap suapan terasa ringan dan menenangkan setelah hidangan utama berempah.
Entertainment System
Untuk hiburan, Emirates memiliki ICE yang merupakan singkatan Information, Communication and Entertainment.
Ternyata ICE ini adalah sistem media pemenang penghargaan. Saya dapat menikamati sajian berita, film, acara tv, musik, podcast, permainan dan lainnya.
Meski sistem software-nya sama, ternyata ada perbedaan dalam konfigurasi hardware antara pesawat Boeing 777 dan Airbus A380-nya Emirates ini.
Layar di Airbus A380 memiliki ukuran yang lebih luas yang membuat sedikit lebih lega ketika menonton film.
Selain itu, untuk memudahkan interaksi pengguna, ICE di Airbus A380 menggunakan remote yang berbentuk dan berupa stik dalam konsol game. Ini berbeda dengan Boeing 777 yang menggunakan perangkat yang berbentuk seperti remote tivi.
Yang paling membedakan adalah adanya sambungan kabel usb dan stop kontak di sebelah kanan dan kiri layar. Stop kontak ini bisa digunakan untuk colokan kaki dua maupun kaki tiga. Mutlak ini adalah kebutuhan mayoritas penumpang untuk menjaga gadgetnya tetap hidup.
Pertama kali long-flight
Ini adalah pertama kalinya saya melakukan penerbangan jarak jauh, dan awalnya saya sempat merasa khawatir. Bukan karena apa-apa, tapi saya memang tidak betah kalau harus menahan pipis. Biasanya saja, untuk penerbangan lebih dari dua jam, saya selalu memilih kursi lorong supaya bisa ke toilet dengan leluasa kapan saja.
Kali ini saya memilih kursi lorong untuk penerbangan Jakarta-Dubai. Perjalanan Jakarta-Dubai di malam hari, dan saya memang berencana untuk tidur saja. Namun, saya tidak mau melewatkan perjalanan pagi harinya, sehingga memesan kursi dekat jendela untuk penerbangan Dubai-London. Ternyata, saya bisa menyesuaikan diri juga. Tentu saja, kuncinya adalah mengatur waktu ke toilet dengan bijak.
Setiap sebelum masuk pesawat dan sesaat sebelum pesawat tinggal landas, saya memastikan untuk menyempatkan diri ke toilet. Dengan begitu, saya cukup sekali saja lagi pergi ke toilet ketika in-flight, sambil juga berjalan-jalan sebentar dan melakukan peregangan. Ternyata, dengan sedikit perencanaan, perjalanan panjang ini menjadi lebih nyaman daripada yang saya bayangkan sebelumnya.
Sedikit cerita di Bandara Dubai
Begitu pintu pesawat terbuka, saya berpindah ke bus penjemput. Bayangan transit singkat langsung lenyap ketika bus itu mulai berjalan perlahan ke terminal abu-abu raksasa Bandara Dubai. Bus ini dipenuhi oleh rombongan dari Indonesia yang hendak berangkat umrah. Saya sempat ngobrol ringan dengan sepasang pasutri muda yang saya taksir berumur lebih muda dari saya. Mereka mengira saya hendak “kabur aja dulu” ke Eropa.
Empat puluh lima menit berlalu di dalam bus dengan pintu tertutup rapat dan kursi plastik membuat semua penumpang hanya bisa duduk menunggu. Setelah setengah jam berliku di landasan, akhirnya bus menepi baru kemudian bergerak perlahan hingga berhenti di pintu kedatangan.
Saya pun buru-buru keluar, mengejar waktu Subuh yang hampir usai, lalu menunaikan salat di mushala terminal sebelum mencari papan informasi gate penerbangan ke London. Rupanya harus berpindah cukup jauh, berjalan kaki, lalu naik
Sarapan saya tunda, nanti saja di pesawat. Saya hanya sempat mampir ke toilet untuk buang air besar sebagai persiapan penerbangan lanjutan. Meski waktu transit hampir empat jam, semua terlewat begitu cepat: antara sholat, antre toilet, dan mengecek jadwal boarding. Saya sama sekali tak sempat duduk lama untuk beristirahat.
Sampai di London
Saat memasuki wilayah London, layar ICE pesawat menampilkan jejak melingkar tiga kali di atas kota — manuver holding pattern karena cuaca mendung dan hujan tipis yang menyambut kedatangan.
Dari jendela, saya hanya melihat sayap pesawat menembus lapisan awan tebal, kota di bawahnya tersembunyi kabut lembap. Sensasi sedikit berdebar sebelum akhirnya pesawat menukik perlahan, lalu roda pesawat menyentuh landasan basah Heathrow.
Begitu pintu terbuka, aroma udara dingin London langsung menyambut. Rasa lelah seketika hilang tergantikan antusiasme. Di luar, hujan rintik-rintik yang menari di permukaan aspal mulai reda. Saya pun melangkah keluar, siap memulai pengalaman baru di Inggris , dengan semangat membara meski langit masih basah dan suhu dingin menyapu wajah.
