Site icon Saddam.id

Enam Pelajaran yang Saya Dapatkan dari Mengisi TTS

Konon, sebelum dunia dipenuhi notifikasi dari layar sentuh, dan sebelum jempol kita sibuk membuka-buka aplikasi dan scrolling tak terkendali, dulu Pakdhe dan Budhe saya mengisi waktu luang mereka dengan mengisi teka-teki silang.

TTS, begitu nama populernya.

Barangkali ada yang belum tahu. TTS adalah permainan kata yang disusun dalam kotak-kotak saling berpotongan. Ada petunjuk mendatar, ada petunjuk menurun. Jawabannya harus pas. Satu huruf saja meleset, bisa bikin seluruh kotak lain ikut kacau.

Dulu, hampir di setiap koran dan majalah ada rubrik TTS. Tak sedikit yang dilombakan. Pembaca bisa mengirimkan jawabannya ke redaksi, dan berpeluang mendapatkan hadiah. Tapi sebagian besar, seperti Pakdhe dan Budhe saya, mengisinya hanya kesenangan atau membunuh kebosanan belaka.

Adapula buku kumpulan TTS yang dijual murah. Laris di pasaran. Ini menandakan mengisi TTS memang betul aktivitas yang mengasyikkan.

Saya dan TTS

Saya juga punya kenangan sendiri soal TTS. Waktu kecil, saya sering mengisi TTS di kliping majalah Bobo yang dibelikan oleh Bulik. Tentu saja saya tidak pernah mengirim jawabannya ke mana pun. Saya hanya suka menebak isi kotak-kotak kosong itu. Kadang benar, kadang ngawur. Tapi tetap terasa seru.

Nah, ketika saya mencoba kembali permainan mengisi kotak kotak kosong yang saling terhubung ini, barulah saya menyadari sesuatu.

Barangkali mengisi TTS itu mirip-mirip dengan cara menjalani hidup.

Agak lebay memang. Tapi biasanya memang pelajaran seperti ini muncul pada momen yang tak disangka-sangka. Barangkali juga karena momentum saja.

Tapi apapun itu, inilah beberapa hal yang bisa saya bagikan:

Pelajaran pertama: tidak semua pertanyaan bisa langsung kita jawab.

Ketika buntu menjawab TTS, kita bisa menutupnya, lalu menjawabnya lagi di lain waktu ketika kesempatan lebih longgar dan mood sedang lebih baik. Biasanya teknik ini manjur.

Maka, sebagaimana dalam hidup: saat mentok, tak apa jika kita rehat sejenak.

Nanti, saat pikiran lebih tenang dan suasana lebih lapang, jawabannya bisa muncul sendiri. Kadang bukan karena kita jadi lebih pintar, tapi karena waktu itu kita lebih siap untuk melihat ulang.

Pelajaran kedua: jawaban satu menuntun ke jawaban yang lain.

Ini seperti konsep keterhubungan. Segala sesuatu akan saling terhubung dan terkait satu sama lain.

Dalam mengisi TTS, kita mengisi jawaban satu per satu. Dan huruf-huruf yang muncul dari jawaban satu pertanyaan akan menjadi petunjuk tambahan untuk menjawab pertanyaan berikutnya.

Sama halnya dengan hidup. Memulai dari yang kita tahu bisa membuka jalan ke arah yang sebelumnya samar.

Pelajaran ketiga: mulailah menjawab yang mudah dulu

TTS juga mengajarkan kita bahwa salah satu cara menjawab soal sulit adalah dengan menjawab soal mudah lebih dulu.

Syukur-syukur ini adalah kata yang paling panjang dan yang kotak-kotaknya banyak terhubung dengan pertanyaan lainnya.

Seperti hidup. Pasti ada pertanyaan besar yang belum bisa kita pecahkan. Gambaran besar yang masih terlihat samar.

Tapi jika kita jalani yang kecil-kecil dengan sepenuh hati, dan lambat laun tanpa kita sadari, petunjuk akan membentuk dirinya sendiri.

Pelajaran keempat: kejelasan akan datang setelah kita memulai.

Semakin banyak kotak yang terisi, semakin mudah mengisi sisanya.

Di awal, semuanya tampak sulit. Tapi begitu beberapa kata mulai masuk, satu per satu, sisa-sisanya pun mulai terlihat bentuknya.

Seringkali, kejelasan sering datang bukan di awal, tapi setelah kita bergerak. Maka langkah kecil pun tidak pernah sia-sia.

Pelajaran kelima: kita bisa salah meskipun sudah sangat yakin

Kadang, ada jawaban yang terasa sangat meyakinkan, tapi ternyata salah. Ia pas di petunjuknya, tapi tidak cocok dengan kotak lain yang beririsan.

Ini mengingatkan bahwa dalam hidup pun kita bisa begitu. Kita yakin pada sesuatu, merasa itu sudah benar, padahal sebenarnya hanya cocok dari sudut pandang kita sendiri.

Dan ketika satu jawaban keliru dipertahankan terlalu lama, kotak-kotak lain jadi ikut berantakan.

Kadang kita perlu menghapus sesuatu yang sudah sempat kita yakini, agar keseluruhan bisa kembali tersusun.

Pelajaran keenam: kotak hitam juga sama pentingnya.

Kotak hitam dalam TTS tidak diisi. Tapi tanpanya, arah huruf jadi kacau. Batas-batas ini justru yang membuat huruf-huruf punya tempat. Tanpa kotak hitam, semua jawaban bisa saling berbenturan.

Seperti dalam hidup, tidak semua ruang harus kita isi. Ada batas yang perlu dijaga. Ada kekosongan yang justru membuat kita bisa bernapas.

Di sinilah saya teringat kembali pandangan saya tentang cara berpikir dalam menghadapi batas: bahwa hidup memang penuh dengan box atau kotak-kotak.

Sering kali kita diminta untuk thinking outside the box, bahkan thinking without the box, seolah kotak itu harus ditinggalkan.

Padahal, kotak tidak selalu membatasi. Ia memberi arah, struktur, bahkan batas perlindungan. Dalam TTS, kotak hitam tidak harus kita taklukkan. Ia hanya perlu dikenali. Dan justru dari batas itulah, jawaban- jawaban bisa ditemukan.

Bagi saya, pendekatan terbaik bukanlah keluar dari kotak, apalagi menganggap kotak itu tidak ada, tetapi menjembatani antar kotak—connecting the boxes.

Menebak dengan tepat, menyusun dengan sabar

Begitulah. Mungkin itu sebabnya Pakdhe dan Budhe dulu begitu tekun mengisi TTS sore-sore.

Ada kenikmatan kecil dalam menyusun sesuatu yang belum lengkap. Ada semacam penghiburan dalam melihat satu per satu kotak mulai terisi. Ada pelajaran hidup yang diam-diam mereka dapatkan.

Ketika hidup terasa seperti kumpulan pertanyaan yang tak kunjung selesai, mungkin kita tak perlu buru-buru mencari jawaban yang sempurna. Cukup mulai dari satu hal yang kita tahu. Biarkan jawaban itu memberi petunjuk ke yang lain.

Dan ketika bertemu batas, jangan langsung berusaha menerobos. Kadang batas itulah yang menjadi penunjuk jalan. Seperti kotak hitam dalam TTS.

Lagipula, kan hidup sudah diberi kisi-kisi atau petunjuk, kenapa masih nekat menabrak yang tak seharusnya ditabrak?

Atau jangan-jangan… kita cuma sering lupa membaca petunjuk itu?

Exit mobile version