Site icon Saddam.id

Falstaff Hotel: Rumah Kecil yang Menemani Tujuh Hari di Canterbury

Saya mendapatkan rekomendasi beberapa hotel untuk menginap di Canterbury dari Ardian, teman yang memang sudah 4 tahun tinggal di kota itu.

Kriteria saya cukup mudah: dekat dengan stasiun, halte bus menuju ke kampus Kent University dan bisa jalan kaki ke pusat kota. Dari tiga hotel yang disebutkan Ardian, pilihan saya jatuh pada Falstaff Hotel.

Falstaff Hotel memenuhi semua kriteria, bahkan menawarkan lebih dari yang saya bayangkan.

Lokasi yang Strategis di Ujung Westgate

Hotel ini berada persis di ujung Westgate, gerbang batu besar yang jadi pintu masuk ke kota tua Canterbury.

Hanya dengan berdiri di depan hotel, saya sudah bisa melihat lalu-lalang kehidupan kota kecil ini: pejalan kaki, pengendara sepeda, mahasiswa, turis.

Foto Falstaff dengan Westgate sebagai latar belakang

Lokasinya benar-benar strategis — hanya sekitar sepuluh menit jalan kaki dari Canterbury West Station dan lima menit menuju kota tua atau toko-toko di High Street.

Terdapat satu halte bus persis di depan halte, di mana ada setidaknya dua nomor jurusan bus yang dapat dinaiki untuk menuju ke area kampus University of Kent. Sayangnya, ada pekerjaan konstruksi jalan di depan hotel yang membuat halte ini tidak beroperasi selama seminggu saya tinggal di sana.

Kondisi ini membuat saya harus berjalan lebih jauh ke halte berikutnya. Selain itu, sedikit mengurangi kenyamanan secara visual. Karena jika tidak ada pekerjaan konstruksi ini, mengambil foto Westgate dari ujung jalan pasti akan mendapatkan angle yang lebih menarik.

Tapi meskipun berada di titik strategis — dan ada pekerjaan pembangunan di depannya — suasana hotel sangat tenang. Mungkin karena memang pada dasarnya kota Canterbury yang juga sangat tenang. Saya bisa tidur nyenyak setiap malam.

Foto Falstaff tampak depan

Kamar Tua Tapi Tidak Usang

Kamar saya terletak di lantai dua, naik lewat tangga kayu sempit yang kadang berderit ketika diinjak. Lorong menuju kamar berliku dan temaram, dengan lantai yang dilapisi karpet berwarna merah tua.

Pada awalnya saya sedikit kaget karena sisi ini tidak nampak atau ditampilkan di galeri foto di website mereka. Tapi pada akhirnya, setelah beberapa hari, saya merasa justru lorong ini yang membuatnya terasa seperti unik, seperti rumah tua Inggris dalam novel klasik. Apalagi ditambah dengan beberapa poster film dan teater dalam bingkai yang digantung di tembok.

Tangga dari lobby menuju ke kamar

Suasana menjadi lebih dramatis karena lampu di lorong menggunakan pemicu sensor gerak yang hanya hidup ketika saya berjalan melewatinya. Saya jadi teringat suasana ketika masuk panggung pementasan teater dari belakang panggung, dan tepuk tangan penonton yang menyambut kedatangan saya.

Untungnya, kamar saya berada tidak jauh dari tangga. Jadi saya tidak perlu berlama-lama berada di lorong ini. Karena meskipun sering merasa menjadi aktor teater besar ketika melewati lorong itu, di beberapa waktu saya juga merasa seperti diintai Jack Torrance. Itu lho, karakter yang diperankan Jack Nicholson di film The Shining.

Kamar saya tidak luas, pastinya lebih sempit daripada kebanyakan hotel bintang tiga di Indonesia.

Tempat tidurnya tinggi dengan selimut tebal. Ada empat bantal besar dan dua bantal kecil yang kalau dibiarkan bisa semena-mena memenuhi keseluruhan kasur.

Kasur tempat saya tidur

Ada jendela kecil yang menghadap ke halaman belakang, lampu baca tua dan meja kerja yang jadi tempat saya menulis catatan setiap malam. Pencahayaan di kamar cenderung lembut, tidak terlalu terang, tapi cukup untuk membuat suasananya hangat.

Kamar ini tidak ber-AC — sebaliknya, menggunakan penghangat ruangan yang baru saya tahu cara mengoperasikannya di malam ketiga. Itupun setelah saya bertanya pada Pipit — begitu saya memanggil chatGPT.

Pipa penghangat ruangan. Terdapat knob di sisi kanan untuk mengatur suhu.

Toilet Modern yang Membuat Betah

Hal yang kontras terjadi ketika saya membuka toilet di dalam kamar.

Kamar menyuguhkan pengalaman berada di hotel klasik, tapi toilet dibangun dengan sedemikian modern. Dan sebagai seseorang yang senang menghabiskan banyak waktu di toilet, saya betah berada di sini.

Toilet seperti dibagi menjadi tiga bagian. Begitu membuka pintu, saya langsung berada di depan wastafel. Dua keran, air dingin dan air panas, dapat dimanfaatkan untuk membuat ramuan air hangat pada dua gelas yang disediakan.

Cermin yang besar dan jernih langsung menampakkan wujud saya setengah badan — dan membuat saya adar sepertinya badan saya sudah bertambah beratnya barang satu hingga dua kilogram.

Di sebelah kanan, ada toilet duduk standar yang nyaman. Sayangnya, seperti kebanyakan toilet di Inggris, tidak tersedia bidet semprot. Saya dipaksa bebersih menggunakan tisu. Untung saya tidak kehilangan akal untuk tetap bebersih menggunakan air yang mengalir.

Lanjut ke sebelah kiri dari arah pintu, ada shower yang tertutup dengan pintu kaca. Dengan shower hangatnya, saya bisa menghabiskan waktu lebih lama dari yang seharusnya. Apalagi ketika pulang malam saat suhu di luar satu atau dua derajat celsius saja.

NB: di sinilah saya biasanya bebersih selepas buang air besar.

Sarapan Penuh Perhatian

Secara default, saya memang tidak sering sarapan. Tetapi di sini, saya berusaha sarapan. Hanya satu hari saya melewatkan sarapan karena kesiangan.

Sarapan disajikan di ruang makan kecil dekat lobi. Begitu masuk, saya diberikan pilihan berupa roti tawar dan beberapa roti lainnya dengan beberapa pilihan selai marmalaide dan madu. Selain itu, disediakan pula beberapa pilihan buah, biasanya apel, jeruk, dan pisang.

Untuk minum, disediakan air putih dan susu. Semua disajikan dengan rapi, dan stafnya selalu menyapa sambil menanyakan apakah saya ingin teh atau kopi panas. Lengkap dengan secangkir susu untuk menemaninya.

Sarapan tersaji di meja

Selain itu, saya diberikan daftar menu dengan setidaknya ada tujuh pilihan menu sarapan. Selama menginap di sana, saya hanya memilih tiga dari pilihan yang disediakan.

Menu favorit saya adalah Egg Royale. Saya memang menghindari menu dengan daging dengan alasan hati-hati. Hati-hati karena saya tidak tahu bagimana makanan itu diproses, dan hati-hati kalau-kalau makan daging di pagi hari terlalu berat untuk perut saya yang tidak terbiasa sarapan.

Menu sarapan di Hotel Falstaff
Egg Royale, menu favorit untuk sarapan
Egg Royale, setelah pecah telur
Avocado on Toast
Gelas dengan logo hotel yang ikonik

Saya biasanya memilih duduk di pojok ruangan, menghadap ke arah datangnya pengunjung. Dari situ, saya dapat mengamati berbagai tipe pengunjung hotel: pekerja atau enterpreneur yang melakukan perjalanan bisnis atau pasangan lansia yang menikmati liburannya.

Yang saya suka dari ruang sarapan ini adalah ketenangannya. Tidak ada suara musik keras, tidak ada tamu dan pekerja hotel yang terburu-buru ataupun mengobrol dengan bersuara bising. Semuanya berjalan pelan, seperti kota ini.

Ruang sarapan

Fasilitas di Luar Kamar

Di lantai satu hotel, ada Falstaff Bar & Caffe yang terbuka untuk umum. Lokainya tepat berada di lobby dan beberapa ruang di sekitarnya.

Sejujurnya, saya tak pernah mengunjunginya. Tetapi, pastinya setiap hari — pagi dan malam — saya melewatinya saat hendak menuju ke kamar. Interiornya selaras dengan bangunan utama: kayu gelap, sofa empuk, dan pencahayaan temaram yang sepertinya cocok untuk duduk lama-lama.

Salah satu sudut cafe. Ini adalah ruang di belakang lobby. Foto ini saya ambil di pagi hari.
Sudut yang lain di ruang yang sama
Kenampakan bar di pagi hari
Toilet untuk pengunjung restoran dan bar

Cafe-nya tidak besar, tapi hampir selalu ramai di malam hari. Beberapa kali saya harus tersenyum dan menganggukkan kepala jika kebetulan bertemu pandang dengan salah satu pengujung.

Sebagai pengunjung yang menginap di hotelnya, sebenarnya saya mendapat kesempatan menikmati Happy Hour yang menawarkan promo beli satu gratis satu untuk wine, bir atau koktail, ditambah cemilan gratis berupa keju atau biskuit.

Sudah barang tentu promo ini tidak saya gunakan. Selain karena makanan dan minuman yang ditawarkan bukan merupakan sebuah pilihan, pada jam-jam tersebut saya masih berjalan-jalan di kota.

Kupon happy Hour yang diberikan pada pengunjung yang menginap

Pelayanan Ramah Tanpa Basa-Basi Berlebihan

Staf hotel tidak berlebihan dalam menyambut tamu. Ketika proses check in, saya hanya menunjukkan voucher pemesanan yang berupa file pdf dengan layar handphone.

Anehnya, saya tidak diminta menunjukkan paspor saya sama sekali. Saya sempat heran, tapi juga merasa dimudahkan — meskipun dalam hati bertanya-tanya soal prosedur keamanan di sini.

Saya dilayani dengan ramah, tanpa banyak pertanyaan basa-basi yang memang sering tidak dibutuhkan. Hanya memberi kunci, menjelaskan arah tangga, dan membiarkan saya menjalani hari tanpa interupsi yang tidak perlu.

Mereka juga cepat tanggap ketika dibutuhkan. Saat saya bertanya tentang fasilitas laundry di hotel, mereka menjawab tidak ada, sembari keluar dan menunjukkan tempat laundry di seberang jalan.

Di hari ketiga, saya sempat merasa tidak enak badan dan mengalami kedinginan yang teramat sangat — meskipun penghangat ruangan sudah saya set hingga maksimal. Seorang staf hotel datang dan menawarkan penghangat portabel yang dapat digunakan di bawah selimut.

Buat saya, pelayanan seperti ini cukup ideal: ramah tanpa basa-basi, sopan tanpa terlalu formal, dan yang penting selalu membantu dengan cepat dan tepat saat diminta.

Falstaff: Miniatur Canterbury dalam Bangunan Hotel

Setelah enam malam menginap di sana, saya merasa Falstaff terasa seperti versi ringkas dari Canterbury itu sendiri — tenang dan perlahan. Lorong kayunya, pencahayaan temaram, hingga keramahan staf yang seperlunya, semua mencerminkan suasana kota yang santai dan apa adanya.

Mungkin itu yang membuat saya merasa cocok. Karena selama tinggal di kota kecil ini, saya memang mencari pengalaman baru yang mungkin tidak saya temui di tempat lain.

Dan Falstaff, dengan caranya sendiri, membantu saya menemukannya. Seperti Canterbury yang memberi ritme baru — yang lebih lambat, lebih diam, dan lebih dalam.

Exit mobile version