Site icon Saddam.id

Generalisasi Peta: Pengertian, Tujuan, Jenis-jenis, dan Klasifikasi

hands of woman placing flag on map of iberian peninsula

Photo by Marina Leonova on Pexels.com

Ingin mengetahui lebih banyak mengenai generalisasi peta dalam ilmu katografi? Kami jelaskan lengkap di artikel ini.

Generalisasi peta adalah proses penyederhanaan peta dengan tetap mempertahankan ciri atau karakteristik utama dari peta tersebut. Generalisasi merupakan proses reduksi informasi, biasanya terkait dengan kenampakan grafis fitur yang kita petakan. Generalisasi peta merupakan salah satu proses penting dalam pembuatan peta.

Definisi generalisasi dalam proses pembuatan peta

Apa itu generalisasi peta?

Generalisasi peta adalah proses penyederhanaan peta dengan tetap mempertahankan ciri atau karakteristik utama dari peta tersebut.

Generalisasi merupakan proses reduksi informasi, biasanya terkait dengan kenampakan grafis fitur yang kita petakan.

Bagaimana kaitannya dalam proses kartografi?

Generalisasi peta merupakan salah satu proses penting dalam kartografi.

Kartografi merupakan ilmu pembuatan peta.

Sedangkan peta sendiri diartikan sebagai suatu penyajian (gambaran) unsur-unsur atau kenampakan nyata yang dipilih di permukaan bumi atau benda angkasa, atau kenampakan abstrak yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau benda angkasa, dan pada umumnya digambar pada suatu bidang datar dan diperkecil (diskalakan).

Melalui definisi ini, generalisasi peta berperan dalam proses “memilih” kenampakan atau objek.

Mengapa generalisasi diperlukan?

Generalisasi peta diperlukan karena peta tematik hanya memuat informasi-informasi sesuai dengan isi tema yang disampaikan.

Dalam kenyataannya, biasanya data-data sebagai input untuk informasi isi tema tersedia dalam jumlah yang begitu banyak dan tidak mungkin disampaikan semuanya secara mentah dalam suatu peta tematik.

Alasan lainnya adalah peta tematik biasanya dibuat dalam skala yang lebih kecil daripada peta dasar, sehingga reduksi skala bagaimanapun akan mengurangi kedetilan informasi yang akan disampaikan.

Sehingga generalisasi harus dilakukan.

Contoh praktisnya, jika kenampakan fitur dalam peta terlihat saling menumpuk dan bersinggungan (padahal seharusnya tidak), maka data kita perlu dilakukan generalisasi.

Sedangkan untuk fitur berupa area, pedoman yang sering digunakan digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan MMU atau Minimum Mapping Unit atau ukuran polygon terkecil yang dapat tampil di peta.

Ketentuan umum yang biasa digunakan untuk MMU adalah sebesar 0,2×0,2 mm di peta. Menggunakan aturan ini, polygon-poligon yang memiliki luas kurang dari MMU dapat dihilangkan, sehingga peta lebih mudah untuk dibaca.

Hal yang paling penting adalah pembuat peta harus bisa memastikan bahwa informasi yang hilang itu tidak mengurangi nilai dari peta yang kita buat. Level generalisasi harus disesuaikan dengan skala peta.

Tujuan generalisasi peta

Tidak ada generalisasi yang “sempurna” atau bahkan “optimal”. Namun, ada enam tujuan filosofis mendasar yang harus menginformasikan dan mendorong semua jenis generalisasi:

Hal yang harus diperhatikan dalam proses generalisasi

Beberapa hal harus diperhatikan dalam proses generalisasi, yaitu:

Tujuan peta dan penggunanya

Generalisasi menyebabkan kerugian informasi, maka esensi dari peta asli harus dijaga. Hal ini merupakan implikasi mempertahankan akurasi gemetris dan atributnya, serta kualitas estetika peta.

Hasilnya berbeda disesuaikan dengan penggunanya. Misal, peta untuk atlas referensi dan atlas sekolah akan memiliki informasi yang berbeda.

Besarnya reduksi skala

Semakin besar reduksi skala, maka generalisasi lebih banyak terjadi, dan semakin banyak informasi peta yang hilang.

Faktor teknis dan manusia

Faktor-faktor teknis meliputi ukuran dan resolusi monitor, juga mengenai algorotma-algoritma apa yang palik baik dilakukan untuk generalisasi pada sebuah peta. Faktor manusia berpengaruh terutama mengenai subjektivitasnya.

Proses generalisasi setiap ahli kartografer akan menghasilkan peta yang berbeda, meskipun dilakukan untuk tujuan yang sama pada reduksi skala yang sama.

Metode generalisasi peta

Ada 12 jenis generalisasi peta yang dapat digunakan oleh pembuat peta untuk menggeneralisasi visualisasi data spasial pada peta, yaitu:

Berikut penjelasan yang dikutip dari website saddam.id di laman ini.

Untuk lebih jelas mengenai generalisasi, perhatikan gambar berikut.

Metode generalisasi peta

Generalisasi Grafis dan Konseptual

Proses generalisasi peta dapat dibedakan menjadi

Perbedaan di antara generalisasi grafis dan generalisasi konsep terkait pada metode yang terlibat pada proses generalisasi.

Generalisasi grafis tidak akan mempengaruhi jenis dan penataan simbol.  Generalisasi grafis terdiri atas:

Generalisasi grafis

Generalisasi konseptual terkait dengan proses

Generalisasi konseptual

Sebagai akibatnya, simbol-simbol pada peta mungkin berubah. Generalisasi grafis berhubungan dengan komponen geometrik dan spasial, generalisasi konseptual mempengaruhi komponen atribut.

Klasifikasi dalam proses generalisasi peta

Generalisasi untuk data atribut ini adalah klasifikasi, untuk mengelompokkan data menjadi kelas-kelas tertentu.

Klasifikasi termasuk dalam proses generalisasi karena hal ini membuat data menjadi lebih umum dan terkelompok menjadi kelas-kelas.

Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam melakukan klasifikasi adalah penentuan jumlah kelas, panjang kelas dan batas kelas.

Penentuan jumlah kelas paling umum digunakan adalah dengan Rumus Sturges.

Rumus ini megatakan bahwa jumlah kelas bergantung pada jumlah observasi pada datanya.

Jumlah kelas menurut rumus ini adalah:

2n  < x < 2n+1

Dengan x = jumlah observasi

Dan n = jumlah kelas.

Perhatikan contoh berikut.

Seseorang akan membuat peta berdasarkan jumlah provinsi di Indonesia.

Jumlah pengamatan (x) = 34 provinsi, maka jumlah kelas adalah

(25 = 32) < 34 < (26 = 64).

Jadi jumlah kelas yang tepat menurut rumus Sturges adalah 5-6 kelas.

Terdapat banyak metode untuk melakukan klasifikasi peta. Berikut beberapa di antaranya:

Metode teratur

Metode teratur merupakan metode yang paling sederhana.

Penentuan panjang kelas dilakukan dengan mengurangkan nilai terbesar dan terkecil dan membaginya dengan jumlah kelas.

Sedangkan penentuan batas kelas dilakukan dengan menjumlahkan panjang kelas dengan batas bawah kelas dimulai dengan nilai terkecil data.

Kelebihan dari metode ini adalah cara perhitungannya yang sederhana dan kecepatan dalam proses pembuatannya. Metode ini menghasilkan kelas-kelas yang apabila dibuat grafiknya, akan membentuk garis lurus.

Hal ini menunjukkan bahwa pertambahan nilai pada kelas sama sehingga metode ini kurang sesuai dengan data yang diberikan dengan range yang lebar dan distribusi yang tidak merata.

Metode kuantil

Metode kuantil juga merupakan metode yang sederhana. Penentuan panjang kelas dilakukan dengan membagi jumlah data dengan jumlah kelas.

Penentuan suatu data masuk ke suatu kelas berdasarkan pengurutan data mulai yang paling kecil ke yang paling besar dan membilangnya dari urutan terkecil sesuai dengan panjang kelas.

Kelebihan dari metode ini adalah cara perhitungannya yang sangat sederhana.

Sedangkan kelemahan dari metode ini adalah proses pengurutan data yang cukup lama jika dilakukan secara manual dan tingkat ketelitian klasifikasi yang cukup rendah.

Selain itu, akan ada hambatan ketika terdapat beberapa data yang sama yang berurutan dan menjadi batas kelas.

Metode aritmatik

Metode ketiga yaitu metode aritmatik. Penentuan panjang kelas dan batas kelas dilakukan dengan perhitungan sesuai deret hitung atau deret aritmatik.

Kelemahan dari metode ini adalah proses perhitungan yang rumit dan membutuhkan waktu yang cukup lama.

Grafik yang dihasilkan dari metode ini adalah garis lengkung, semakin mendekati data tertinggi maka grafik akan semakin naik dengan interval yang lebih tinggi.

Metode geometrik

Metode keempat yaitu metode geometrik.

Penentuan panjang kelas dan batas kelas dilakukan dengan perhitungan sesuai deret ukur atau deret geometrik.

Kelemahan dari metode ini adalah proses perhitungan yang lebih rumit dan membutuhkan waktu yang cukup lama karena melibatkan operasi perpangkatan dan logaritma.

Seperti metode aritmatik,metode ini menghasilkan garis lengkung, namun dengan kelengkungan yang lebih ekstrim.

Metode dispersal graph

Metode terakhir yaitu metode dispersal graph.

Dalam metode ini, penentuan panjang kelas dan batas kelas dilakukan dengan menentukan berdasarkan persebaran atau distribusi datanya.

Untuk mengetahui distribusi data ini, pembuat peta mengeplot masing-masing data pada grafik dengan garis horisontal (x) adalah data jumlah penduduk per desa dan garis vertikal (y) merupakan sebuah nilai yang konstan.

Hal ini dilakukan karena nilai y tidak akan berpengaruh karena distribusi data hanya dilakukan berdasarkan distribusi nilai x.  

Kelemahan dari metode ini adalah proses pengeplotan data yang lama.

Jika dibandingkan dengan metode yang lain, metode ini merupakan metode yang paling subyektif, karena penentuan kelasnya berdasarkan pembuat.

Namun, pembagian kelas dengan data yang distribusinya tidak merata dan mengelompok dalam bentuk klaster-klaster sesuai jika dibagi dengan metode ini.

Kesimpulan

Generalisasi peta adalah proses penyederhanaan peta dengan tetap mempertahankan ciri atau karakteristik utama dari peta tersebut.

Generalisasi peta merupakan salah satu proses penting dalam kartografi. Melalui definisi ini, generalisasi peta berperan dalam proses “memilih” kenampakan atau objek.

Generalisasi peta diperlukan karena peta tematik hanya memuat informasi-informasi sesuai dengan isi tema yang disampaikan.

Hal yang paling penting adalah pembuat peta harus bisa memastikan bahwa informasi yang hilang itu tidak mengurangi nilai dari peta yang kita buat.

Exit mobile version