Saya bangun sahur di rumah Hendy dengan makanan sederhana. Ini hari kedua Ramadan, sekaligus hari terakhir saya di Inggris.
Setelah sahur, saya salat subuh di Masjid North Finchley. Saya naik bus menuju masjid, tapi kartu Jenius saya entah kenapa gagal terbaca. Untungnya, sopir bus tetap mempersilakan saya naik tanpa banyak tanya. Hal serupa terjadi lagi saat perjalanan pulang.
Saya hanya bisa mengucap terima kasih dan mendoakan mereka dalam hati berkali-kali. Di tengah pagi yang dinginnya menusuk tulang dan membekukan embun, kebaikan kecil seperti ini terasa begitu hangat.
Greenwich dan Cutty Sark
Setelah pulang dari masjid, saya mulai nyicil beres-beres dan packing. Sekitar jam 10 pagi, saya berangkat ke Greenwich bersama Hendy, beserta istri dan kedua anaknya.
Hendy sempat membenarkan pronounciation saya ketika menyebut Greenwich. Sejak SD, saya menyebutnya dengan Green-wich. Padahal ternyata, penyebutan yang benar adalah Green(w)ich, huruf “w” tidak dilafalkan. Memang begitu ya, orang-orang Inggris memang suka mengucap suka-suka hatinya.
Dari stasiun, kami berjalan menuju kawasan Cutty Sark, sebuah kapal tua pengangkut teh yang sekarang dijadikan museum yang menyediakan layanan pengalaman naik rig layar.
Di depannya terdapat beberapa tenda makanan cepat saji dengan beragam menu dari berbagai negara: Spanyol, Turki, Nepal, hinggaJamaika. Dengan bangga, mereka bahkan memasang bendera negara ukuran besar di depan tendanya.
Bukan cuma sekali langkah saya terhenti dan mengamati menu yang disajikan. Sayang sekali, saya berpuasa hari ini. Kenapa tempat seperti ini baru saya temui sekarang, bukan kemarin-kemarin?
Lokasi ini cukup ramai pengunjung, mayoritas adalah turis, dan beberapa adalah orang yang mampir usai olahraga pagi.
Dari tempat itu, kami menyempatkan diri untuk turun ke tepi sungai Thames, yang mengalir melewati beberapa kota terkenal seperti Oxford, Reading, dan London, sebelum bermuara di Laut Utara. Saya membayangkan betapa serunya Ed Pratt, seorang petualang yang menyusuri sungai ini dengan kayaknya, mulai dari sumbernya di Thames Head, Gloucestershire, hingga menyelesaikannya di Sheerness, Kent, menempuh sekitar 338 km selama 19 hari.
Garis Nol Derajat Bujur
Dari sana kami beranjak, melewati University of Greenwich, lalu naik ke Greenwich Park, titik tertinggi di area itu. Dari sana, kami bisa melihat London dari ketinggian. Bangunan-bangunan kota terlihat rapi, dan langit cerah memberi cahaya lembut ke seluruh lanskap.
Kami lanjut ke area Royal Observatory. Di sana, kami tidak masuk ke bagian dalam yang menunjukkan garis nol derajat bujur, karena antrean dan waktu yang terbatas.
Bagi saya, berada di sini saja sudah cukup — sudah sampai secara simbolis. Ini garis imajiner yang menjadi titik nol pemetaan geografis dan menjadi acuan waktu dunia — dan sekarang saya berdiri tepat di dekatnya.
Saya dan Hendy berfoto di depan Shepherd Gate Clock, yang menjadi acuan GMT (Greenwich Mean Time) hingga 1900-an awal. Kini, sistem GMT telah digantikan oleh UTC (Coordinated Universal Time), yang lebih presisi dan menggabungkan pengukuran waktu berdasarkan atom dan rotasi Bumi.
Seakan semesta memberi restu, kami berfoto ketika waktu tepat menunjukkan pukul 12.00, sehingga konfigurasi jarum jam ini nampak unik.
Museum Maritim Nasional
Kami kembali berjalan menuruni bukit untuk sampai ke National Maritime Museum. Saya sempat membaca penjelasan-penjelasan sejarah pelayaran Inggris: kapal dagang, kapal perang, serta barang-barang kecil seperti kompas dan alat pemetaan.
Di awali dengan melihat pameran foto-foto langit yang ditampilkan dalam layar yang terang, saya menikmati setiap alur kisah yang seakan diceritakan langsung oleh museum ini. Pengunjung layaknya dibawa berlayar dari zaman paling awal hingga modern, menapaki jejak cerita di setiap peristiwa penting, serta diperkenalkan kemajuan teknologi pelayaran yang berkembang di sepanjang zaman.
Ada beberapa alasan yang membuat museum ini menarik.
Pertama, karena saya memang suka mengunjungi museum. Kedua, karena pelayaran banyak terkait dengan pemetaan dan sejarah dunia. Ketiga, karena saya sambil membayangkan menjadi bajak laut, bersaing dengan Monkey D. Luffy, berlayar mencari One Piece.
Khayalan saya seakan semakin nyata ketika melihat foto-foto bajak laut Edward Teach alias Blakbeard, yang menjadi inspirasi Oda — mangaka One Piece — membuat karakter dengan julukan yang sama. Juga saat melihat video ilustrasi perang Trafalgar, — yang menjadi inspirasi tokoh Trafalgar Law — di mana Inggris dengan armada 27 kapal berhasil mengalahkan armada Spanyol dan Perancis yang berjumlah 33kapal. Zehahahaha… Kaizoku o ni orewa naru!
Di antara banyak lainnya, satu benda yang paling menarik perhatian saya adalah baju kemeja putih — yang tentunya sekarang kusam — berlumuran darah yang dikenakan oleh seorang jendral saat mati tertembak di perang. Satu kesan yang saya bawa: bahkan barang-barang kecil dan sepele bisa menjadi sangat berharga seiring waktu.
Dan seperti biasa, sejarah memang ditulis oleh mereka yang menang. Tidak banyak sisi dari mereka yang ditaklukkan, diceritakan.
Hendy mengingat ada ruang untuk salat di museum ini — salah satu alasan mengapa kami mampir. Namun saat dicari, ternyata ruang itu sudah berubah fungsi semenjak adanya renovasi. Saya cukup terkejut saat petugas museum dengan ramah membantu, menawarkan satu ruangan kosong yang bisa kami gunakan untuk salat dengan tenang.
Memandang London dari Cable Car
Kami berjalan ke halte dan naik bus menuju IFS Cloud Cable Car, kereta gantung yang melintasi Sungai Thames. Dari halte tempat turun dari bus, kami melewati O2 Arena, yang dari kejauhan tampak seperti tenda besar raksasa.
Naik cable car, kami bisa melihat sisi lain dari London. Cuaca sedang cerah. Pemandangan gedung-gedung menunjukkan sisi modern London yang belum sempat saya lihat kemarin-kemarin.
Rencananya, kami ingin mampir ke Canary Wharf, tapi waktu sudah terlalu sore. Hendy dan keluarganya memutuskan pulang duluan untuk berbuka di masjid dekat rumahnya. Sedangkan saya masih punya satu misi lagi: cari oleh-oleh. Saya memilih mencari Sainsbury terdekat, karena baru tahu: hari Minggu semua toko tutup jam 17.00.
Berburu Oleh-Oleh di Camden
Saya naik kereta menuju Camden.
Saya berjalan melewati Trafalgar Square, berhenti sejenak, mendengarkan sebuah band jalanan yang tampil dengan kualitas yang luar biasa. Sayang, saya harus terus berjalan.
Suasana Camden sore itu masih ramai, meskipun beberapa toko mulai bersiap tutup. Saya bahkan tidak sempat menyimak dan merekam suasana. Sampai di Sainsbury jam 16.30. Saya buru-buru membeli oleh-oleh: teh, coklat, keju, dan selai marmalade.
Setelah belanja, saya ingat belum salat Ashar. Saya cari masjid terdekat dan berjalan kaki ke sana. Beberapa kali terkecoh oleh Google Maps yang menunjuk masjid, padahal bukan. Saya salat Ashar di Ar-Rahman Mosque & Education Center dan memutuskan menunggu waktu Maghrib sekalian. Juga untuk mencari takjil gratisan.
Saat waktu berbuka tiba, jamaah menyambut hangat dan mengajak makan bersama. Ternyata ini adalah masjid komunitas Afrika. Menu makanan mereka unik, tapi masih terasa familiar di lidah — ada aroma bumbu seperti kari, campuran nasi dan kacang.
Kawanan Rubah Pelengkap Cerita
Saya berangkat salat Isya ke masjid yang sama dengan malam sebelumnya. Kali ini saya hanya ikut Isya saja. Badan sudah lelah dan malam ini saya harus packing. Subuh besok, saya harus berangkat ke bandara untuk kembali ke Indonesia.
Dalam perjalanan berangkat, Hendy menunjuk ke sesuatu yang bergerak di balik mobil yang terparkir rapi. Saya sempat melihat selama dua detik sebelum mereka berlari menjauh dan masuk ke dalam semak.
Mengutip kata Hendy, lengkap sudah perjalanan saya di London. Yang saya lihat barusan adalah kawanan rubah kota yang berkeliaran di malam hari. Mereka tinggal di semak dan celah bangunan. Saya memang tak sempat mengambil foto, tapi saya melihat kawanan Vulpes vulpes itu dengan jelas, meski sebentar.
Malam Terakhir dan Diri yang Lain
Kembali ke rumah, saya tidur malam itu dengan koper yang sudah siap, dan pikiran yang mulai melayang ke bandara. Sebelum terlelap, sebagian kesadaran saya yang masih tersisa merenung, memaknai setiap langkah, mengingati setiap jengkal tanah yang saya tapaki.
Saya percaya setiap perjalanan itu mengubah. Saya tidak hanya mengunjungi kota-kota yang asing, tapi juga mengunjungi sisi lain dari diri saya sendiri.
Sisi kanak-kanak yang mengingat pertandingan sepakbola di televisi — hingga akhirnya mengunjungi stadionnya — juga soal mimpi yang ternyata tak pernah mati, hanya bersembunyi di balik keruwetan pikiran dan kebimbangan hati.
Saya datang ke Inggris membawa daftar tugas dan tujuan, tapi pulang dengan oleh-oleh yang lebih bermakna: rasa syukur, kerinduan akan pulang, dan kesadaran atas jarak antara mimpi dan realita yang ternyata lebih dekat dari yang selama ini saya kira.
