Kemarin siang, di sela-sela kegiatannya memasak, Ibuk Kali — istri saya — mengajak ngobrol soal pesawat India Air yang jatuh setelah gagal lepas landas.
Kami tidak sadar kalau pembicaraan itu di dengar Kali. Dengan polosnya, Kali bertanya:
“Kalau pesawatnya jatuh berarti terbakar? Berarti orang-orang pada meninggal?”
Hening beberapa saat.
“Emm, kasian”, kata Kali berikutnya saat ibuknya menjawab pertanyaannya.
Saya sudah selesai berkemas. Saya harus berangkat ke Banda Aceh untuk urusan pekerjaan. Sebagai informasi, dapat dibilang saya cukup sering pergi keluar kota untuk urusan kantor. Tahun lalu bisa mencapai dua belas perjalanan.
Kali sebenarnya sudah terbiasa ditinggal berdua dengan Ibuknya, bahkan untuk durasi lebih dari dua minggu. Tapi sepertinya, kali ini agak berbeda baginya.
Tadi malam, saya sedang berada di dapur untuk mencuci piring setelah makan malam. Dari kejauhan, terdengar samar-samar percakapan Kali dengan Ibuknya.
“Ibuk, kalau besok pesawatnya Bapak jatuh…”
Mendengar itu, istri saya segera memotong omongan Kali. Dia berkata agar Kali tidak perlu berkata yang tidak-tidak.
Tapi beberapa detik kemudian dia berubah pikiran dan meminta Kali untuk mengulang mengungkapkan apa yang ingin dia katakan. Saya baru dapat konfirmasi setelahnya, kalau istri melakukan itu karena Kali sudah mimbik-mimbik menahan air mata.
“Kalau besok pesawat Bapak jatuh.. terus Kali nungguin Bapak ga pulang-pulang..nanti Kali sedih terus nangis…”
Istri segera gerak cepat memeluk Kali. Kali segera meluapkan emosinya di dalam pelukan ibuknya. Saya pun tak tahan, segera menghampiri mereka dan ikut tenggelam dalam pelukan itu, dengan air mata yang berderai.
Tentunya ini bukan kali pertama, tapi saya tidak bisa ingat kapan terakhir kali saya merasa sangat tak nyaman dalam sebuah proses tinggal landas. Jujur saja, perasaan saya campur aduk: takut, khawatir, sambil berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan hati — walau nyatanya tetap tak berhasil.
Saya selalu mengabari dan berpamitan pada istri sebelum pesawat tinggal landas. Tapi kali ini bukan istri yang membalas. Melainkan Kali, lewat voice note.
“Hati-hati ya Bapak.. semoga pesawatnya tidak jatuh.”
Saya mengingat, setidaknya sudah dua kali Kali mengatakan hal yang sama sejak sebelum saya berangkat tadi pagi. Saya menanggapinya dengan mengajak Kali dan ibuknya berdoa bersama.
Ketika pesawat benar-benar tinggal landas, suara pengumuman pilot benar-benar mengeskalasi emosi saya. Detik-detik itu saya lewati dengan penuh dzikir dan doa-doa. Aneh memang, tapi itu terjadi. Baru mengingat Allah pada momen-momen seperti ini. Saya sedikit malu karenanya.
Di ketinggian, saya jadi banyak kepikiran tentang kematian.
Bukan karena saya takut akan kematian itu sendiri—tapi karena saya takut meninggalkan orang-orang yang saya cintai. Saya hampir saja gagal menahan air mata ketika mengingat ucapan Kali pada suatu hari.
“Bapak sayang enggak sama Kali? Kalau sayang, Bapak jangan mati, ya”.
Dan iya, betul. Itu adalah kata-kata yang diucapkan seorang anak berumur lima tahun.
Saya juga teringat perasaan yang saya rasakan saat membaca kabar duka kemarin, seorang penyanyi, produser musik dan entertainer yang hampir setiap hari menemani hari-hari saya di kantor, meninggal dunia di usia dua puluh lima tahun. Terkejut dan sedih secara bersamaan. Kepergian yang begitu cepat dan mendadak.
Beberapa hal yang terjadi kemarin dan hari ini, benar-benar membuat saya kembali menyadari: Kematian hampir tidak berjarak dengan kehidupan.
Saya mulai mengingat lagi betapa jauhnya saya dengan Sang Pencipta pada beberapa waktu terakhir, juga sudah terlalu lama saya tidak menelpon orangtua. Campur aduklah perasaan saya.
Saya pikir memang betul, pada beberapa konteks, saran untuk selalu mengingat kematian adalah salah satu cara untuk bersyukur pada kehidupan yang kita punya.
Kematian memang misteri, tapi ia selalu jadi pengingat: bahwa kita hidup memang untuk kembali, untuk pulang—pada keluarga, pada Tuhan, dan pada diri sendiri.
Biarlah ia menjadi misteri, sebab apa asyiknya hidup tanpa misteri.
Tulisan ini saya akhiri sambil menahan sakit di telinga ketika proses pesawat descending menuju pendaratan.
Saya tidak sabar untuk segera mengabari Kali bahwa bapaknya selamat. Tidak sabar untuk segera menelpon Bapak dan Ibuk di rumah. Dan yang paling penting, ingin segera sholat dan menumpahkan semuanya.
I love you, kalian semua.

