Site icon Saddam.id

Kembali ke London dan Mengunjungi Tower Bridge

Setelah menyelesaikan semua kegiatan di University of Kent, saya kembali ke London.

Hari ini saya berencana kembali berkeliling London sebelum pulang ke tempat Hendy. Target saya adalah membeli buku untuk saya sendiri dan beberapa oleh-oleh untuk anak dan istri.

Pagi terakhir di Canterbury

Sebelum benar-benar meninggalkan Canterbury, saya menyempatkan diri berjalan-jalan pagi sebentar ke Westgate Gardens. Biasanya saya menyusuri taman ini di sore hari, jadi saya penasaran seperti apa rasanya saat pagi baru dimulai.

Ternyata suasananya sangat berbeda. Masih sepi, kabut tipis menyelimuti sungai dan rumput, dan udara pagi terasa menggigit. Saya video call anak saya sambil memperlihatkan suasana taman — dan sesekali menggambarkan betapa dinginnya udara pagi itu, yang hanya sekitar 1 derajat Celsius.

Sepasang manusia dan seekor anjing yang berjalan-jalan di Westgate Garden

Kembali ke hotel, saya menyantap sarapan terakhir di Falstaff Hotel. Hari itu adalah hari pertama Ramadan, tapi saya memutuskan tidak berpuasa karena sedang dalam perjalanan.

Setelah sarapan, saya kembali ke kamar, mandi, dan bersiap. Semua barang sudah saya kemas malam sebelumnya, jadi tak ada yang perlu diburu. Lepas check-out, saya langsung berjalan ke Stasiun Canterbury West.

Saya membeli tiket langsung di loket — dan ternyata jauh lebih mahal dari tiket yang saya beli online saat berangkat. Selisihnya hampir 50%. Saya memang sengaja beli langsung di loket karena ingin mengetahui perbedaannya. Sayangnya, kereta yang saya incar sudah lewat, jadi harus menunggu sekitar satu jam hingga keberangkatan berikutnya pukul setengah sebelas.

Suasana stasiun terasa lengang. Suara pengumuman bergaung di ruang tunggu yang kosong. Saya duduk di bangku kayu, memandangi rel yang sepi, sambil berpikir — meski ingin, barangkali saya tidak akan kembali ke sini lagi.

Menunggu satu jam di bangku kayu stasiun — salah satu jeda yang justru menenangkan

Kembali ke London

Tiba di St. Pancras, saya berjalan ke King’s Cross untuk melihat Peron 9¾. Ternyata, kali ini antreannya jauh lebih panjang dibanding saat kunjungan minggu lalu. Jadi saya langsung memutuskan untuk segera beranjak saja.

Setelah salat di masjid yang minggu lalu saya kunjungi, saya mulai menjelajahi beberapa toko buku bekas dan mencari oleh-oleh, baik untuk diri sendiri maupun untuk anak dan istri.

Ada tiga toko buku yang saya kunjungi hari itu: Skoob Books di Brunswick Centre, Any Amount of Books di Charing Cross Road dan The Riverside Bookshop.

Masing-masing punya suasana dan keunikannya sendiri.

Any Amount of Books adalah toko kecil yang padat dengan rak tinggi dan aroma kertas tua yang khas. Skoob Books lebih luas, dan tersembunyi di bawah tanah seperti perpustakaan rahasia. Rak-rak buku membentuk lorong-lorong yang dipenuhi buku dari lantai sampai langit-langit. Sementara The Riverside Bookshop berada di tepi Sungai Thames, tak jauh dari London Bridge. Toko ini terasa lebih tenang dan rapi, dengan pencahayaan lembut dan jendela besar yang menghadap ke sungai.

Skoob Books yang berada di lantai bawah tanah
Any Amount of Books yang ramai oleh pengunjung
The Riverside Bookshop, tempat saya beli buku untuk Kali

Pada akhirnya, saya tidak mendapatkan buku yang saya suka. Tapi saya tidak merasa kecewa. Justru, kunjungan ke toko buku seperti ini adalah bentuk oleh-oleh tersendiri — pengalaman yang tak bisa dibungkus plastik dan dimasukkan ke koper.

Sebagai oleh-oleh, saya akhirnya membeli tempelan kulkas bergambar London dan mobil-mobilan berbentuk bus merah — untuk Kali, anak saya yang suka bis dan kereta. Oh, saya juga akhirnya dapat buku juga. Bukan buat saya, tapi buat Kali.

Sekedar tips: Kalau kamu suka membaca, buku bisa menjadi oleh-oleh untuk dirimu sendiri. Dan kalau kamu punya waktu tinggal agak lama di UK, beli buku online jauh lebih efisien. Harganya murah, banyak yang original, dan bisa dikirim dalam 1–2 hari. Bahkan buku bekas pun banyak yang masih dalam kondisi sangat baik.

Saya sempat ingin mampir ke British Museum, karena kebetulan lewat sana. Sayangnya, saya gagal masuk. Petugas langsung menghadang saya di antrean karena saya membawa ransel besar.

You can leave your backpack somewhere, maybe at a public cloakroom, and come back here. You still have time,” katanya ramah.

Saya tidak tahu di mana lokasi penitipan barang, dan hari sudah cukup sore. Jadi saya putuskan untuk tidak jadi masuk dan langsung berjalan keluar.

Museum yang harus dilewati begitu saja karena ransel terlalu besar
Di perjalanan hari itu, saya sempat berjalan melewati Trafalgar Square.

Tower Bridge dan sore yang cerah

Hari sudah menjelang sore, sekitar pukul 15.30. Saya menghubungi Hendy, bilang bahwa saya akan segera ke rumahnya. Ternyata, ia menyarankan untuk ke Tower Bridge, mumpung langit cerah dan waktu masih cukup panjang.

Awalnya saya ragu karena tubuh sudah lelah, ransel di punggung juga makin berat. Tapi akhirnya saya putuskan untuk jalan saja. Kapan lagi, pikir saya.

Dan betul, ini keputusan terbaik hari itu.

Foto The Shard, gedung tertinggi di London yang saya ambil dari dalam kereta yang berjalan

Saya sampai di Tower Bridge sekitar satu jam kemudian. Langit sore itu benar-benar cerah. Cahaya matahari jatuh miring ke dinding-dinding bata dan air sungai memantulkan pantulan jembatan baja yang megah.

Foto-foto yang saya ambil pun jadi luar biasa cantik. Momen di Tower Bridge seperti penutup sempurna untuk perjalanan hari itu.

Kali ini saya tidak hanya selfie. Seorang pria membantu saya mengabadikan momen. Kami sama-sama turis. Dia membantu mengambil foto saya setelah saya menawarkan diri untuk memotretnya. Ini juga sedikit tips, sebelum meminta tolong untuk difoto, pastikan kita menawarkan bantuan terlebih dahulu.

Tower Bridge di sore yang cerah. Sumber: dokumentasi pribadi.
Tower Bridge menjelang matahari terbenam
Foto di Tower Bridge

Tarawih di Komunitas Afrika Tengah

Malamnya, saya ikut tarawih di sebuah community center tempat komunitas Somalia, yang digunakan juga sebagai tempat ibadah selama Ramadan. Salat dilakukan dalam 11 rakaat, tapi durasinya hampir dua jam. Imam membaca ayat-ayat surah panjang Al-Baqarah setelah bacaan amin. Saya merasa, Imam menamatkan Juz pertama malam itu.

Seharusnya tidak masalah, tapi kaki saya — terutama betis — mulai menjerit-jerit juga. Mungkin karena akumulasi lelah berhari-hari dan jalan kaki seharian sambil bawa ransel.

Saya berdiri di barisan belakang, di antara orang-orang yang wajah dan bahasanya asing, tapi gerakan dan diamnya sama seperti saya.

Inilah hebatnya salat.

Ada rasa persaudaraan aneh yang lahir hanya karena kami berbaris menghadap ke arah yang sama dan bersujud pada Tuhan yang sama.

Salat tarawih

Ketika perjalanan pulang, Hendy seperti celingukan mencari sesuatu.

“Ada satu hal khas London yang belum kamu lihat, Dam”, katanya.

Ternyata, di sekitar rumah Hendy, yang juga tersebar di pinggiran kota London, ada kawanan rubah yang berkeliaran. Mereka tinggal di semak dan pepohonan di sekitar pemukiman.

Malam itu, kami tidak bertemu mereka.

Obrolan Malam dan Rencana Esok Hari

Pulang tarawih, saya duduk sebentar bersama Hendy sambil mengobrol. Ia mengajak saya ke Greenwich keesokan harinya untuk melihat titik 0 derajat bujur.

Sebagai orang yang pekerjaannya membuat peta, kami sepakat itu lokasi yang sangat menarik untuk dikunjungi.

Saya langsung mengiyakan.

Meski tubuh sudah penat, rasanya saya masih ingin memberi satu halaman terakhir di kisah perjalanan saya di kota ini.

Exit mobile version