Pagi itu saya meninggalkan rumah Hendy dengan langkah yang lebih ringan — secara harfiah dan emosional.
Tidak ada lagi perasaan kikuk atau canggung seperti hari-hari pertama. Kota ini perlahan mulai terasa akrab. Tiket kereta ke Canterbury sudah saya beli semalam secara online, jadi pagi ini tidak perlu terburu-buru.
Koper besar saya tinggalkan. Cukup membawa ransel 40 liter berwarna biru donker yang memuat semua kebutuhan saya selama seminggu ke depan. Rasanya seperti menjadi backpacker saja. Sementara cuaca masih seperti kemarin — mendung dan dingin.
Menunggu Waktu di St. Pancras
Saya tiba di Stasiun St. Pancras sekitar pukul setengah sebelas — terlalu pagi untuk kereta yang berangkat pukul 14.40. Saya memang sengaja berangkat lebih awal, memberi ruang untuk jalan pelan-pelan, eksplorasi, dan sedikit istirahat.
Dua tujuan utama saya hari ini adalah King’s Cross Station untuk melihat peron 9 ¾, dan British Library yang jaraknya juga tak terlalu jauh. Tapi saya juga harus realistis. Ada hal-hal sederhana yang harus saya urus: makan siang dan mencari masjid terdekat untuk salat.
Mengintip Dunia Sihir
Setelah melihat dan memotret bagian luar St. Pancrass dan King’s Cross, saya langsung menuju peron 9 ¾. Tidak sulit menemukannya — bahkan saya tidak perlu mencari. Saya cukup mengikuti arus ke mana orang-orang berjalan. Mereka pasti menuju ke sana.
Peron 9 ¾ adalah lokasi yang terkenal karena kemunculannya di cerita Harry Potter. Jujur saja, saya sangat buta soal Harry Potter. Sama sekali buta. Tapi tentu saya tidak ingin melewatkan kesempatan langka ini.
Saat tiba, antrean sudah mengular, meskipun terlihat tertib. Saya ikut antre sekitar sepuluh menit, tapi sepertinya tidak bergerak sama sekali. Akhirnya saya mlipir ke samping, mengambil foto troli yang “menembus” dinding dari sudut miring, lalu selfie cepat — tanpa syal Hogwarts atau ekspresi dramatis yang dibuat-buat. Buat saya, itu sudah cukup.
Singgah ke British Library
Dari King’s Cross, saya berjalan kaki menuju British Library. Sejak dulu, saya selalu punya ketertarikan khusus pada perpustakaan. Di kampus atau kota tempat saya tinggal, saya rutin mengunjunginya. Ada sesuatu tentang ruang yang tenang penuh buku yang selalu membuat saya betah. Tapi tentunya, faktor yang jelas membuat lebih betah adalah dengan siapa saya ke sana.
British Library ini ternyata bukan sekadar perpustakaan, melainkan juga museum. Selain orang-orang yang membaca atau bekerja dengan laptop, saya juga melihat banyak pengunjung yang sepertinya wisatawan. Sebelum masuk, saya diminta membuka ransel oleh petugas keamanan. Sedikit repot memang, tapi saya bisa memakluminya — ini tempat yang menyimpan banyak peninggalan bersejarah dunia.
Saya menyusuri beberapa sudut gedung terlebih dahulu, membiarkan diri saya tenggelam dalam arsitektur dan atmosfer yang sunyi. Kemudian saya masuk ke ruang pameran — semacam museum mini yang menyimpan koleksi bersejarah. Di dalamnya, saya melihat dokumen-dokumen tua, naskah asli, dan benda-benda yang punya nilai budaya tinggi.
Saya sempat mengambil beberapa foto, tapi sayangnya saya baru sadar kemudian bahwa beberapa koleksi tidak boleh dipotret. Demi menghormati aturan dan juga karena sedikit rasa bersalah, foto-foto itu biarlah jadi milik pribadi saja. Tak perlu saya unggah ke mana-mana. Toh, kenangan yang paling kuat sering kali bukan yang ada di galeri ponsel, tapi yang tinggal di kepala.
Mencari Masjid
Menjelang waktu salat, saya keluar saya keluar dari British Library untuk mencari masjid terdekat. Saya sengaja keluar beberapa menit sebelum adzan, mengantisipasi kalau-kalau masjid hanya dibuka saat waktu salat tiba.
Google Maps menunjukkan sebuah lokasi yang katanya tepat di belakang perpustakaan, tapi setelah beberapa kali bolak-balik, saya tak juga menemukannya. Jalanannya sepi, papan penunjuk tak ada, dan bangunannya pun tidak tampak seperti masjid.
Beruntung, saya bertemu dengan seorang jamaah yang juga hendak ke masjid. Saya diajak ke masjid yang biasa ia kunjungi. Agak jauh memang dibandingkan dengan lokasi yang ditunjukkan Google Maps, tapi masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar sepuluh menit.
Seusai salat, saya kembali ke Stasiun St. Pancras. Waktu masih cukup sebelum kereta berangkat, jadi saya memutuskan untuk makan siang di area stasiun yang ramai dan penuh pilihan.
Kereta ke Canterbury
Setelah makan siang, saya mencari kereta National Rail yang akan membawa saya ke Canterbury. Saya menemukan peron dan sempat mengambil beberapa foto kereta — langsung saya kirim ke anak saya di rumah, si penyuka kereta.
Kereta jurusan Margate ini dijadwalkan menempuh perjalanan sekitar satu jam. Saya akan tiba di Canterbury menjelang sore, dan memang sudah saya rencanakan untuk langsung mendatangi lokasi kegiatan esok hari. Bukan karena takut tersesat, tapi lebih ke memberi ruang agar esok bisa berjalan lebih tenang, tanpa terburu-buru.
Di dalam kereta, saya penasaran mencoba toiletnya — dan ternyata cukup canggih. Pintu toilet melengkung, dan untuk membukanya saya hanya perlu menekan sebuah tombol.
Di dalam, tombol yang sama bisa digunakan untuk menutup atau membuka kembali pintu. Semuanya didesain dengan sangat baik: mudah terlihat, mudah dijangkau, dan sangat ramah untuk orang dengan disabilitas. Saya pun merekam pengalaman kecil ini dan — tentu saja — mengirimkannya lagi ke anak saya.
Drama di dalam Gerbong
Tepat ketika saya sedang asyik “bermain” dengan pintu toilet, suara pengumuman terdengar dari speaker. Dengan tenang, petugas mengingatkan bahwa penumpang yang akan turun di Canterbury harus berada di gerbong A atau B, karena peron di stasiun sana terlalu pendek.
Saya langsung tersentak. Saya berada di gerbong H — ujung ke ujung.
Sadar situasi genting, saya segera bergegas keluar dari toilet, hendak berjalan menuju gerbong A. Tapi di beberapa gerbong, kereta ini tidak memungkinkan untuk berpindah antar gerbong dari dalam. Saya mencoba keluar dan berpindah peron.
Tapi semua itu tinggal rencana.
Saya terlambat beberapa detik. Pintu sudah tertutup, dan kereta mulai bergerak. Saya berdiri di depan pintu yang sudah terkunci, dengan napas yang masih memburu, dan hanya bisa tertawa kecil dalam hati.
Ya sudahlah, ini mungkin bonus dari terlalu semangat mencoba toilet.
Misi Pindah Gerbong
Maka mulailah aksi kecil saya di atas kereta.
Di setiap pemberhentian berikutnya, saya turun, berjalan cepat di sepanjang peron menuju gerbong yang lebih depan, lalu naik lagi. Tentu saja tidak bisa dilakukan sekaligus. Waktu berhenti yang singkat, penumpang yang berdesakan naik-turun, dan ransel besar di punggung saya membuat semuanya terasa seperti naik level dalam sebuah game.
Setiap kali berhasil pindah satu gerbong, saya merasa seperti sedikit lebih dekat ke garis finish.
Setelah sekitar empat atau lima kali naik-turun di tiap stasiun, akhirnya saya berhasil mencapai gerbong A. Tepat waktu. Beberapa menit kemudian, kereta berhenti di Canterbury West — stasiun tujuan saya.
Rasanya seperti memenangkan game kecil: lega, senang, dan sedikit tak percaya sudah melalui drama itu semua hanya karena terlalu semangat mencoba toilet otomatis. Keringat mengucur meski AC dingin menusuk, tapi saya senyum-senyum sendiri.
Ini baru namanya perjalanan.
Tiba di Canterbury
Begitu tiba di Stasiun Canterbury West, saya langsung berjalan menuju Falstaff Hotel — tempat saya akan menginap selama enam malam ke depan. Lokasinya sangat strategis, hanya sekitar sepuluh menit jalan kaki dari stasiun. Bahkan bisa lebih cepat kalau saya tidak membawa ransel besar yang menggantung berat di punggung.
Setelah check-in dan menaruh barang, saya tak berlama-lama. Saya langsung keluar lagi, mencari halte bus terdekat untuk naik ke University of Kent — lokasi kegiatan saya selama lima hari ke depan.
Sayangnya, halte yang persis di depan hotel sedang direnovasi. Itu berarti saya harus berjalan hampir 500 meter lagi ke halte berikutnya. Tidak jauh sebenarnya, tapi cukup terasa di kaki yang sudah menempuh banyak langkah hari ini. Sistem pembayaran bus di Canterbury juga berbeda dengan di London. Di sini, pembayaran dilakukan per perjalanan, bukan sistem harian seperti di ibu kota.
Setibanya di kampus Kent, saya langsung mencari bangunan dan ruangan tempat acara akan digelar. Inilah gunanya survei lokasi sebelum hari H: saya tahu halte mana yang aktif, jalur bus mana yang harus diambil, dan di mana tepatnya gedung kegiatan berada.
Sore itu saya kembali ke hotel, badan lelah tapi pikiran lega. Hari ini, saya belajar: bahkan perjalanan yang sudah direncanakan bisa tetap memberi kejutan — dan itu yang membuatnya layak untuk dikenang.

