Tulisan ini adalah bagian kedua dari tulisan berikut:
Dari Buckingham Palace, kami bergerak ke arah utara melewati Green Park, lalu belok kanan ke Green Park Station. Jarak ke Piccadilly Circus sebenarnya hanya sekitar satu kilometer — bisa ditempuh dalam sepuluh menit berjalan kaki.
Namun sepertinya Hendy punya alasan khusus mengajak ke sana lewat jalur bawah tanah.
Piccadilly Circus Station
Sejak pertama kali tiba di London, saya memang berharap bisa merasakan langsung salah satu stasiun bawah tanah paling ikonik di kota ini. Dan Stasiun Piccadilly Circus ini adalah jawabannya.
Stasiun yang terletak di salah satu jantung kota London ini sangat ikonik.
Stasiun ini adalah satu-satunya yang tidak memiliki bangunan stasiun di atas tanah; semua akses masuknya melalui lorong bawah tanah dari trotoar sekitar. Selama Perang Dunia II, Stasiun Piccadilly Circus berfungsi sebagai tempat perlindungan dari serangan udara Jerman, menampung hingga 7.000 orang setiap malam yang turun ke bawah tanah untuk mencari keselamatan.
Stasiun ini adalah salah satu yang tersibuk di London, dengan lebih dari 40 juta orang keluar-masuk setiap tahunnya. Dengan desain arsitektur yang kompleks, kami harus naik dua level ditambah berbelok-belok menelusuri lorong untuk sampai di pintu keluar stasiun.
Melihat tanda logo London Underground yang disebut paling ikonik dan menelusuri lorong dan tangga di dalam stasiun, saya merasakan salah satu pengalaman paling “London” di perjalanan ini. Tidak heran, stasiun ini dan persimpangan di atasnya telah muncul di banyak film, video musik, dan acara TV.
Piccadilly Circus
Ketika hendak keluar dari lorong terakhir stasiun menuju ke atas permukaan, Hendy meminta saya mengeluarkan ponsel dan merekam video. Selanjutnya, saya merekam sesuatu yang kontras sekali.
Di dalam stasiun, dominasi suasana klasik sangat terasa. Meskipun ramai dengan orang-orang yang berjalan cepat, dinding keramik putih khas London Underground membuat nuansa itu tetap terjaga.
Sebaliknya, begitu keluar stasiun, yang terasa adalah keramaian khas kota besar. Orang-orang berjalan, lalu-lalang menyeberang jalan, menuju ke persimpangan.
Saya sempat bertanya-tanya: kenapa disebut “circus”? Rupanya, istilah ini bukan berarti sirkus dalam arti hiburan, melainkan mengacu pada “lingkaran” atau pertemuan banyak jalan — seperti bundaran besar. Boulevard mungkin istilah yang lebih familiar di telinga saya.
Piccadilly Circus bukan sekadar persimpangan. Ia berada di pertemuan beberapa jalan utama dan menjadi pusat aktivitas kota.
Hal pertama yang paling mencolok adalah papan iklan yang besar-besar. Sebuah tradisi yang konon sudah terjadi sejak awal 1900-an. Hal kedua adalah patung Anteros di tengah-tengah persimpangan, yang sering dianggap sebuah patung Eros, Dewa Cinta Yunani yang lebih populer.
Outernet London
Dari Piccadilly Circus, kami berjalan ke arah timur laut, menuju Outernet London. Outernet London adalah sebuah area hiburan digital yang terletak tepat di samping stasiun Tottenham Court Road. Proyek ini resmi dibuka pada tahun 2022 dan menjadi salah satu atraksi budaya terbaru dan paling futuristik di Inggris.
Kami mampir ke The Now Building. Bangunan setengah terbuka ini memiliki layar LED ultra-HD setinggi 4 lantai dengan tampilan 360 derajat. Layar ini digunakan untuk menampilkan seni digital, pertunjukan visual, dan iklan interaktif.
Kami berhenti sekitar 15 menit di sana, menikmati setidaknya tiga video pertunjukan: alien, ubur-ubur dan tetris. Untuk yang terakhir ini, kita sebenarnya bisa ikut bermain secara interaktif. Namun saya agak terlambat menyadarinya dan kuota sudah penuh ketika saya sign in.
Jujur saja, saya sangat menikmati pertunjukan pada layar canggih super besar ini. Bayangkan saja, saya yang betah berlama-lama melihat TV besar di Electronic City, mendapatkan sajian super canggih seperti ini. Jika tidak diburu waktu, saya bisa menghabiskan waktu seharian di sini.
Melihat waktu sudah pukul satu siang lebih, kami harus segera mencari tempat terdekat untuk sholat Dzuhur. Pilihan kami jatuh pada area Muslim World League, yang menyediakan tempat sholat di lantai dua.
Grant Museum of Zoology dan Kampus UCL
Seusai sholat, kami melanjutkan perjalanan ke University College London (UCL). Selain mengunjungi ruang kerja Hendy dan berfoto di depan gedung utama UCL — yang sedang dipugar untuk menyambut ulang tahunnya ke 200 — kami sempat mampir di Grant Museum of Zoology.
Museum ini menawarkan pengalaman unik, terutama bagi siapa pun yang tertarik pada sejarah alam, evolusi, dan keanekaragaman hayati. Begitu melangkah masuk, kami disambut suasana yang mengingatkan pada ruang koleksi rahasia: rak-rak kayu tua yang menjulang, pencahayaan hangat, dan koleksi spesimen — dengan jumlah lebih dari 68.000 buah — yang ditata rapat namun memikat.
Selain melihat koleksi, kami juga sempat memainkan sebuah permainan tebak-tebakan. Di sebuah meja besar, seorang petugas akan memperlihatkan beberapa kerangka tiruan dari beberapa spesies, berikut foto spesiesnya.
Pengunjung lalu diminta untuk memasangkan kerangka dengan foto spesies dengan tepat. Petugas yang menjadi game master memandu permainan berikut menjelaskan ekologi setiap spesies dengan antusias namun tetap ramah. Sayangnya, selain kami, pengunjung lain nampak kurang tertarik ikut memainkan permainan menyenangkan ini.
Woody’s Grill di Camden Town
Dari kampus UCL kami berjalan ke Tavistock Square Garden dan naik bus menuju Camden Town. Meskipun Camden Town juga populer di kalangan wisatawan, tujuan kami ke sini sebenarnya adalah untuk makan. Tapi ya, bolehlah mencicipi suasana ramai di area ini — meskipun bukan di jam puncak.
Woody Grill di Camden Town adalah restoran cepat saji yang menyajikan hidangan khas Turki dan Mediterania, terkenal dengan kebab dan grills-nya.Dengan suasana yang sederhana dan nyaman, restoran ini dikenal dengan pelayanan yang ramah dan cepat.
Kami memesan mix doner, yang terdiri atas doner dari daging ayam dan domba, serta shish domba. Kami bisa memilih nasi atau kentang goreng untuk karbohidrat. Sedangkan salad beserta kelengkapan lainnya seperti buah zaitun, saus dan roti pipih sudah termasuk dalam paket. Meskipun sempat terintimidasi dengan porsinya yang besar, nyatanya kami bisa menghabiskan makanan kami. Mungkin karena kondisi kami yang kelaparan — tetapi yang jelas rasanya memang luar biasa.
Kembali ke Emirates Stadium
Kami berhenti sejenak di Masjid Al-Risalaah untuk sholat Ashar, lalu kembali naik bus ke Stadion Emirates. Meskipun kemarin saya sudah mengunjungi stadion itu, tetapi hari ini terasa berbeda. Pertandingan derby melawan West Ham United sedang berlangsung, dan saya ingin mencicipi suasana stadion saat Arsenal bermain.
Pertandingan sudah memasuki menit tujuh puluhan ketika kami sampai. Rupanya kami tidak sendiri, orang-orang yang datang untuk sekedar menikmati atmosfer dari luar pertandingan. Ada satu hal yang menarik perhatian saya ketika kami tiba. Ada sekelompok pasukan penjaga pertandingan yang berkeliling naik kuda. Tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh saya.
Arsenal tertinggal satu gol meskipun mendominasi pertandingan — sebuah keadaan yang sangat khas, Arsenal sekali.
Dari luar, gemuruh suara “ooohh” ketika saat peluang nyaris gol beserta suara tepuk tangan mengapresiasi permainan terdengar dengan sangat jelas.
Orang-orang di luar — para pendukung Arsenal — menunggu adanya gemuruh “yeaaahhh” setelah goal terjadi. Namun sayang, suara yang ditunggu ini tidak kunjung terdengar hingga peluit tanda akhir pertandingan dibunyikan.
Ada momen di akhir pertandingan di mana suara teriakan dan tepuk tangan sepertinya mencapai maksimal. Itu terjadi ketika momen David Raya, penjaga gawang Arsenal yang ikut menyerang, berlari kencang sejauh setengah lapangan. Ia berhasil mengejar dan memberikan tackle ke pemain lawan yang menggiring bola.
Selepas pertandingan, saya menyaksikan puluhan ribu orang keluar dari bangunan stadion dengan tertib. Ekspresi kekecewaan jelas banyak terlihat di wajah mereka.
Ini adalah tujuan terakhir untuk hari ini. Saya melihat penanda di smartwatch, lebih dari sembilan belas ribu langkah telah saya tempuh hari ini.
Saya tidak ingin tubuh terlalu lelah, karena bahkan agenda utama saya di UK belum dimulai. Saya juga tidak mau pulang terlalu malam karena malam ini harus packing.
Besok saya harus menempuh perjalanan ke kota tujuan utama saya, Canterbury.

