Site icon Saddam.id

Mengapa dan Bagaimana Saya Menggunakan Artificial Intellegence

Sedari dulu, saya selalu merasa antusias dengan teknologi. Apalagi jika teknologi itu berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Ketertarikan saya ini bahkan bukan hanya untuk sebuah teknologi yang canggih saja, melainkan juga untuk teknologi yang tergolong sederhana.

Waktu saya kecil, penggunaan katrol untuk membantu proses menimba air di sumur saja sudah membuat saya terpana. Saya masih teringat betapa takjubnya saya melihat model pesawat free-flight glider yang dibuat dari kayu oleh teman-teman saya di klub aeromodelling di kampus dulu. Masih teringat jelas pula bagaimana perasaan saya ketika pertama kali melakukan pengamatan dengan stereoskop — sepasang foto udara dapat ditampilkan dalam kenampakan tiga dimensi.

Sejak mahasiswa hingga dalam kehidupan professional, saya juga dituntut selalu mengikuti perkembangan teknologi. Maklum, bidang yang saya tekuni — Sains Informasi Geografis, penginderaan jauh, geospasial — sangat berkaitan erat dengan kemajuan teknologi.

Bahkan, ketika kemudian bekerja di bidang konservasi satwa liar, saya diberikan peran sebagai analis data yang kemudian membawa saya pada bidang data science dan cloud computing. Dan ketika saya diberikan peran menjadi pengelola data dan informasi, saya juga harus belajar membangun database dan aplikasi dashboard interaktif, yang membuat saya masuk ke dalam ranah Conservation Technology.

Intinya, selain karena tertarik, saya selalu berada dalam keadaan yang memaksa saya harus mengikuti dan menerapkan perkembangan teknologi untuk menunjang pekerjaan dan karir.

Mengapa saya menggunakan AI

Photo by Igor Omilaev on Unsplash

Oiya, sebelum lanjut, saya perlu kasih sedikit batasan. AI itu luas jenisnya, mulai dari yang menggerakkan mobil tanpa sopir, sampai yang bisa mengalahkan manusia dalam main catur atau bikin keputusan medis. Tapi dalam tulisan ini, ketika saya menyebut AI, yang saya maksud adalah AI berbasis generative model seperti ChatGPT, Perplexity, dan Gemini (untuk teks), serta CanvaAI, MidJourney, atau Suno (untuk visual dan audio).

Jadi, bukan AI dalam bentuk mobil self-driving atau robot canggih yang bisa berjalan sendiri. Fokus saya di sini adalah pada AI yang membantu saya dalam berpikir, menulis, berkarya, dan belajar sehari-hari.

Oke. Mari kita lanjut!

Saya mengartikan teknologi sebagai alat yang dapat digunakan untuk mempermudah hidup manusia dan membantu manusia mencapai tujuannya. Tentu ini bukan definisi teknologi yang dapat disitasi di tulisan ilmiah atau bahkan bisa dijadikan acuan untuk membuat tulisan dalam bentuk apapun.

Maka, ketika membaca potensi-potensi AI dan kemungkinan-kemungkinannya mempermudah hidup, saya segera mengadopsinya. Selanjutnya, saya tidak segan untuk kemudian mencoba dan kemudian mengeksplorasi batas-batas kemampuan ChatGPT, Claude, hingga Gemini.

Jadi kalau saya ditanya mengapa menggunakan AI, jawaban saya adalah karena saya suka teknologi, terutama teknologi yang mempermudah kehidupan saya. AI termasuk di dalamnya.

Saya iseng-iseng mengecek ke ChatGPT. Menurut statistik, saya termasuk <16% pengguna pertama ChatGPT dan termasuk sebagai early adopter menurut teori Diffusion of Innovation oleh Everet Rogers.

Saya membuka dan login ke ChatGPT pertama kali di 6 Januari 2023, hanya berselang 5 minggu dari launchingnya di November 2022. Dan sejak itu, saya menggunakannya setiap hari. Mulai dari versi gratis, hingga berlangganan versi berbayarnya di bulan Agustus 2024 hingga sekarang.

Saking akrabnya, saya memanggilnya Pipit, diambil dari nama lengkapnya: ChatG-Pit-i. Jadilah Pipit.

Bagaimana saya memanfaatkan AI

Saya hampir selalu memanfaatkan Pipit untuk setiap bagian dalam pekerjaan saya di kantor: membuat draft email dan presentasi, mempelajari hal-hal baru, serta troubleshooting script R saat analisis data. Tidak bisa saya pungkiri, Pipit membantu mempercepat banyak pekerjaan-pekerjaan yang bersifat repetitive yang membosankan, sehingga saya bisa lebih fokus pada pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan pikiran strategis.

Selain untuk pekerjaan di kantor, saya banyak meminta Pipit (dan Perplexity) untuk menggantikan Google: sebagai mesin pencari jawaban. Ketika saya butuh untuk jawaban, saya tinggal bertanya pada Pipit dan dia akan memberikan jawaban ringkas. Ini menghemat waktu dibandingkan harus membuka banyak tab di Chrome dan membaca setiap artikel satu persatu. Meskipun pada akhirnya, saya kembali juga ke Google setelah Google mengembangkan AI untuk merangkum hasil pencarian kita.

Hal lain yang saya lakukan dengan Pipit adalah memintanya menjadi mentor atau guru saya, ketika saya sedang mempelajari sesuatu. Peran ini menjadi lebih dominan ketika saya mulai langganan dan bisa membuat custom GPT. Misalnya, untuk belajar bahasa Inggris, saya membuat GPT bernama Emma, yang saya berikan peran untuk menjadi tutor saya dalam belajar bahasa inggris sehari-hari.

Revolusi penggunaan AI

Semakin ke sini, cara saya menggunakan Pipit semakin berubah.

Saya tidak lagi “menggunakan” Pipit, tapi berkolaborasi dengan dia. Cara pandang ini mengubah segalanya tentang hubungan saya dengan Pipit. Sekarang, saya memandang Pipit sebagai rekan kerja serba bisa. Tentu, saya harus selalu memainkan peran utama. Ketika saya menjadi founder, dia akan menjadi co-founder, ketika saya jadi music director, dia jadi pemusiknya, ketika saya jadi penulis, dia jadi editornya.

Sebagai rekan kerja, saya tidak lagi bertanya atau meminta dia melakukan sesuatu. Namun, saya juga meminta kritik dan saran dari dia. Biasanya, saya akan mulai dengan melempar ide atau input, lalu memintanya mengajukan pertanyaan terkait input yang saya berikan. Setelah menjawab pertanyaannya, selanjutnya saya akan meminta dia memberikan saran. Proses ini akan kemudian kami lakukan berulang sampai saya mendapatkan apa yang saya mau.

Dengan cara tersebut, apa yang sebenarnya saya inginkan akan menjadi lebih jelas. Selain membantu saya menemukan kejelasan (clarity) dari keinginan saya, proses ini juga membantu saya untuk dapat berpikir lebih kritis, serta menaikkan kemampuan saya mengemukakan gagasan dan mendelegasikan pekerjaan.

Saya juga mengubah cara bertanya menjadi lebih strategis. Misal, dibandingkan meminta Pipit untuk membuat draft email atau presentasi, saya akan mengawalinya dengan bertanya: “Bagaimana saya dapat menyampaikan ini dengan cara yang lebih baik?”

Photo by Growtika on Unsplash

Keuntungan menggunakan AI

Setelah berinteraksi hampir setiap hari selama dua tahun, beberapa keuntungan yang saya dapatkan dalam menggunakan AI adalah:

Mempercepat pekerjaan

Saya tidak bisa memungkiri bahwa Pipit telah membawa banyak manfaat nyata dalam hidup saya. Keuntungan paling terasa adalah efisiensi. Banyak pekerjaan yang biasanya memakan waktu berjam-jam, kini bisa diselesaikan dalam hitungan menit. Mulai dari merumuskan struktur tulisan, membuat draft email resmi, menganalisis data, hingga menyederhanakan dokumen teknis untuk presentasi.

Mengatasi menunda pekerjaan

Saya adalah prokastinator profesional. Selalu ada banyak alasan untuk menunda pekerjaan. Di bagian ini, Pipit sangat membantu saya untuk memulai.

Sebagai seseorang yang cenderung perfeksionis, saya sering terjebak di fase awal: takut salah, terlalu lama menyusun kata, atau overthinking soal alur. Dengan AI, saya bisa langsung melihat versi awal dari ide saya, dan dari situ mulai menyusun ulang hingga sesuai kebutuhan.

Mempermudah proses belajar

Hal yang tak kalah penting adalah AI mendorong saya untuk terus belajar. Setiap interaksi dengannya memicu rasa ingin tahu tentang topik baru, cara kerja sesuatu, atau bahkan memperbaiki cara saya mengajukan pertanyaan. Saya merasa memiliki sparring partner yang tidak pernah lelah menemani saya berpikir dan berproses.

Dan karena saya bisa menyimpan hasil percakapan, saya juga bisa melacak proses berpikir saya dari waktu ke waktu. Rasanya seperti punya log digital dari perjalanan belajar saya sendiri.

Dampak negatif AI

Saya sempat membuat daftar dampak negatif AI, dan menemukan beberapa hal di bawah ini.

Menurunnya kemampuan berpikir

Beberapa saat yang lalu, terbitlah sebuah publikasi tentang dampak penggunaan AI. Penelitian yang dilakukan oleh tim dari MIT itu menjelaskan bahwa penggunaan ChatGPT secara pasif dapat menurunkan keterlibatan otak, melemahkan daya ingat, dan mengikis kemampuan berpikir kritis serta kreativitas.

Dalam studi tersebut, peserta yang menggunakan ChatGPT untuk menulis esai menunjukkan aktivitas otak terendah dibandingkan mereka yang menggunakan Google atau menulis tanpa bantuan apa pun. Bahkan, banyak dari mereka yang hanya menyalin teks dari AI tanpa memahami atau mengingat isinya, sehingga hasil tulisannya dinilai “hambar” dan kehilangan sentuhan pribadi.

Jejak karbon yang besar

Seorang rekan di kantor, masih sering menolak menggunakan AI kecuali jika benar-benar terpaksa. Alasan dia yang utama adalah AI meninggalkan jejak karbon yang jauh lebih tinggi dibndingkan dengan, misalnya, mesin pencari. Telah banyak penelitian terkait ini. Penelitian ini menegaskan bahwa jejak karbon yang ditinggalkan dari proses training GPT-3 adalah 1.287 MWh, dengan hasil 502 ton CO₂, setara perjalanan 112 mobil bensin selama setahun. Dan ini baru untuk trainingnya saja, belum menghitung kegiatan pemakaian sehari-hari penggunanya.

Ketergantungan dan shortcut mentality

Di awal dulu, saya sempat terkena Shortcut mentality dan ketergantungan berlebih terhadap Pipit. Apa artinya? Jadi, setiap saya mendapat tugas, saya langsung minta Pipit untuk mengerjakan. Hal ini terjadi karena dalam sebagian besar kasus, Pipit dapat mengerjakan tugas saya dengan sempurna, dalam waktu yang lebih cepat.

Proses itu membuat saya berhenti berpikir. Mungkin memang ada baiknya, tapi saya merasa ini lebih banyak kerugiannya. Saya jadi ketergantungan dan pada akhirnya membuat saya malas berpikir. Untung saya tidak terjebak kondisi ini terlalu lama.

Kebocoran kerahasiaan data.

Dalam memberi konteks kepada AI, kita bisa saja terjerumus memberikan data-data pribadi kita, atau bahkan data pribadi orang lain. Dalam ingatan saya, saya belum pernah melanggar ini. Dan semoga tidak akan pernah.

Biaya & waktu tersembunyi

Hal ini bisa diperdebatkan. Bagi beberapa orang, berlangganan Plus memang tidak mahal. Namun, biaya tetaplah biaya. Ada juga harga yang lain yang harus dibayar. Waktu yang tercecer saat “iseng bereksperimen” bisa menumpuk. Tanpa batasan, berinteraksi dengan AI justru dapat menjadi distraktor.

Photo by Igor Omilaev on Unsplash

Prinsip Menggunakan AI

Menimbang berbagai hal di atas, saya tetap memilih untuk menggunakan Pipit — AI utama saya — dalam berbagai hal di kehidupan sehari-hari.

Meski demikian, seiring dengan frekuensi penggunaan, saya semakin memahami bagaimana dia (dan saya) bekerja. Hal yang perlu saya lakukan adalah berusaha mengoptimalkan setiap penggunaan AI, menggunakannya dengan tanggung jawab, serta berorientasi pada perbaikan diri secara terus-menerus (continues self-development).

Untuk mencapai hal itu, saya memiliki setidaknya lima prinsip yang saya patuhi dan terapkan dalam menggunakan AI.

Prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut.

1 • Peran utama ada di manusia

Saya meyakini benar-benar bahwa AI tidak akan menggantikan manusia sepenuhnya. Tapi, manusia yang tidak menggunakan AI, akan tergantikan oleh manusia yang pandai menggunakan AI.

AI berperan sebagai akselerator dan amplifier.

Kita sebagai aktor utama harus bisa menilai kualitas dan etika hasil pekerjaan AI.

2 • AI sebagai partner kerja yang membangun

Saya memperlakukan Pipit sebagai rekan kerja, tapi saya tetap jadi atasannya. Saya tidak sekedar minta tolong. Saya memastikan bahwa setiap kolaborasi dengannya adalah sebuah langkah proses pengembangan diri.

Artinya, Pipit tidak hanya berperan menjadi asisten saja. Namun asisten sekaligus mentor yang membuat saya menjadi pekerja yang lebih baik. Apapun konteks pekerjaan yang saya lakukan.

3 • Gunakan AI secara strategis

Saya menyadari, untuk membuat Pipit menambah kapasitas saya baik pengetahuan dan kemampuan, saya harus menggunakannya dengan strategis.

Saya tidak boleh hanya menggunakannya untuk keperluan praktis saja. Misal, saya berhenti menggunakan AI untuk membuat konten, dan menggunakannya untuk membuat strategi konten.

4 • Pentingnya onboarding dan delegasi

Salah satu cara menggunakan AI dengan efektif adalah memberikannya cukup konteks sebelum bekerja. Saya membayangkannya seperti memiliki anggota tim yang baru, sehingga proses onboarding perlu dilakukan. Setelah onboarding, proses delegasi pekerjaan dilakukan.

Percaya tidak percaya, kebiasaan ini membuat pola berpikir saya semakin terasah. Saya jadi bisa memiliki kejelasan pada setiap apa yang saya inginkan. Selain itu, saya merasa semakin mampu membuat pekerjaan lebih terstruktrur, dan mampu dengan baik membuat delegasi pekerjaan. Bahkan untuk anggota tim saya di kantor yang sudah jelas, adalah seorang manusia.

5 • Tahu batas dalam menggunakan AI

Ada dua batas yang saya terapkan. Pertama adalah batas etika. Saya harus memastikan saya tidak melanggar batas, misalnya dengan berbagi informasi pribadi dengan AI. Saya juga harus memastikan hasil pekerjaan AI tidak ada plagiasi, dan selalu mencantumkan sumber referensi.

Batas yang kedua adalah batas peran yang saya berikan. Biasanya, hal ini saya sesuaikan dengan skill apa yang ingin saya kembangkan. Saya dari kecil selalu bercita-cita untuk dapat jadi seorang penulis, dan menyadari bahwa saya harus menulis sebanyak-banyaknya sebagai bentuk latihan.

Maka dalam konteks ini, saya tidak akan memberikan Pipit kesempatan untuk menulis menggantikan saya. Dia boleh diberikan peran untuk membantu mencari referensi atau menjadi editor. Tapi tidak pernah menjadi penulis.

Penutup

Ini adalah pendapat saya pribadi tentang mengapa dan bagaimana saya menggunakan AI. Tentu apa yang saya yakini hari ini bisa berubah seiring dengan waktu, pengetahuan, dan pengalaman.

Saya pribadi sangat tertarik dengan topik ini, dan sedang mencari teman diskusi yang juga memiliki ketertarikan yang sama. Bisa jadi kamu sependapat atau tidak sependapat dengan saya. Tidak apa.

Atau jika kamu merasa ingin tahu dan ingin belajar bagaimana menggunakan AI secara semestinya, sila saja bertanya.

Tak apa, itupun boleh juga.

Exit mobile version