Ada banyak hal yang membuat langkah tertunda.
Tapi di antara semuanya, mungkin yang paling licin adalah pikiran kita sendiri.
Dulu saya mengira, semakin cerdas seseorang, semakin mudah ia mengambil keputusan. Tapi ternyata, yang terjadi seringkali sebaliknya.
Semakin tajam cara berpikir, semakin dapat kita lihat retakan kecil dalam sistem, dalam orang lain, dan dalam diri kita sendiri.
Dan di situlah segalanya bermula.
Kutukan Socrates
Mungkin inilah kutukan Socrates. Bahwa semakin tahu, semakin sadar bahwa kita tak tahu apa-apa.
Di banyak kepala orang pintar — seperti kita — logika dan analisis beroperasi seperti pabrik yang terus-menerus bekerja lembur.
Pabrik ini menghasilkan limbah sampingan: keraguan, ketakutan, asumsi. Dan ingat betapa bahayanya asumsi, mengutip kata-kata Don Corleone di film Godfather: “Assumption is the mother of all problems.”
Sayangnya, pabrik ini tidak bisa dimatikan. Tapi mungkin kita bisa memilih mana produk utama dan mana limbahnya.
Saya mengerti kenapa kepala kita suka ribut sendiri. Dunia memang terlalu kompleks untuk dihadapi tanpa rasa ragu.
Kita ragu, bukan karena lemah. Itu karena kita pintar. Kita terlalu sering berhadapan dengan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi.
Kita jadi terlalu peka, terlalu awas, terlalu banyak mempertimbangkan hal-hal yang mungkin tidak dipertimbangkan orang lain.
Jebakan Perfeksionisme
Teori Dunning-Kruger Effect menjelaskan bahwa orang yang tahu sedikit sering lebih percaya diri. Sedangkan yang paham lebih dalam justru lebih banyak menunduk, menggumam pelan, “Saya kok nggak yakin.”
Orang bodoh itu pede karena nggak sadar dia bodoh.
Orang pintar malah overthinking karena sadar betapa besar yang tidak ia tahu.
Sungguh ironis. Orang pintar — seperti kita — malah sering terjebak dalam lingkaran overthinking, over-research, over-prepare.
Kita terobsesi ingin tampil sempurna. Kita merasa belum cukup siap, sementara orang lain yang lebih biasa-biasa saja sudah melangkah duluan.
Tapi sebenernya, perfeksionisme itu bukan karena ingin segalanya sempurna. Kalau saya pikir-pikir, perfeksionisme itu lebih kepada tidak ingin tampak cacat atau kurang saja.
Apapun itu, nyatanya perfeksionisme punya cara brilian untuk membungkam keberanian.
Ia menyamar jadi kehati-hatian. Ia berbicara dalam suara lembut, seperti nasihat paling bijak.
“Belum bagus ini. Lengkapi dulu. Besok kerjain lagi. Tunggu sebentar. Tunggu momen yang tepat.”
Tapi momen yang tepat itu, tidak akan pernah datang, kawan.
Ingat, perfeksionisme adalah musuh terbesar dari momentum.
Dan sebelum kita sadar, kita sudah terlalu sering menutup peluang hanya karena ingin masuk atau tampil dengan cara yang sempurna. Atau sekedar tanpa cela.
Mendapatkan Kejelasan
Dalam dunia yang menilai siapa yang bicara paling cepat, bukan siapa yang berpikir paling dalam, orang yang banyak berpikir — seperti kita — sering dianggap lambat.
Padahal, kita sedang melakukan sesuatu yang lebih sulit daripada sekadar menjawab pertanyaan. Kita selalu memeriksa diri.
Kita selalu menggugat kemungkinan salah dalam argumen sendiri. Lalu membuat argumen lagi. Bertanya lagi. Lalu malah memunculkan ribuan alasan untuk membela diri mengapa kita belum mengambil langkah pertama.
Psikologi modern punya istilah keren untuk ini: paralysis by analysis.
Ini seperti main catur melawan diri sendiri, dan semua pionnya adalah keraguan diri —alias self doubt. Lawan kata dari ini adalah keyakinan yang muncul karena kejelasan.
Nah, seringnya, clarity atau kejelasan tidak datang sebelum melangkah. Ia datang setelah kita mulai bergerak.
Setelah kita mencoba, jatuh, mencoba lagi.
Setelah kita menulis walau ragu, berbicara walau tidak yakin, bertindak meski belum tahu ujungnya akan seperti apa.
Jangan-jangan kita terlalu mengamalkan pepatah Jawa, “alon-alon asal kelakon.” Jadinya, kita malah terlalu alon sampai enggak kelakon-kelakon.
Menghadapi Keraguan Diri
Menurut saya, cara terbaik menghadapi keraguan diri bukan dengan mengusirnya, apalagi melawannya mati-matian. Tapi dengan mendengarkannya seperti kita mendengarkan alarm di pagi hari. Seperti penanda akan sesuatu.
Bahwa kadang kita nggak butuh semua jawaban. Bahwa kadang kita hanya butuh satu keberanian kecil untuk memulai. Seperti menekan tombol kirim, mengangkat tangan dalam rapat, atau membuka timeline yang sudah kita tutup berbulan-bulan.
Lalu diam sebentar, tarik napas, dan membiarkan dunia berputar sambil berkata, “Tak apa, inilah aku hari ini.”
Sudah barang tentu, saya menulis ini bukan karena saya sudah selesai dengan semua keraguan saya.
Saya justru menulis ini karena saya masih sering terjebak ragu. Masih sering menunda. Masih menunggu tulisan saya sempurna. Masih sering menemukan alasan pintar untuk tidak melakukan hal yang membawa saya lebih dekat ke arah kebaikan.
Tapi saya percaya satu hal dan ingin kamu percaya juga: keraguan tidak selamanya negatif.
Keraguan adalah bagian dari kita yang ingin hati-hati karena dia pernah jatuh. Dan kita hanya perlu menggandengnya pelan, sambil berkata,
“Ayo. Kita jalan bareng. Aku usahakan kita nggak akan terjatuh kali ini.”
Jadi camkan, kalau kamu sedang ragu sekarang, itu bukan pertanda kamu lemah. Kamu hanya sedang berhati-hati.
Selanjutnya, ingatlah bahwa tinggal satu hal yang perlu kamu (dan saya) lakukan: Mulailah melangkah.

