Barangkali otak manusia memang dirancang untuk jatuh cinta pada permulaan dan menghindari komitmen pada penyelesaian.
Mungkin itu juga alasan kenapa banyak orang lebih semangat mengatur dan mempersiapkan wedding daripada menjalani pernikahan.
Karena di awal, segalanya masih menarik: ide-ide yang segar, antusiasme yang meledak, dan harapan yang mengembang. Tapi setelah itu datanglah keraguan, bosan, capek, dan godaan untuk berhenti dan pindah ke hal baru.
Pesta dalam Otak
Ketika kita memulai sesuatu yang baru, otak kita sebenarnya sedang berpesta.
Novelty alias kebaruan memicu pelepasan dopamin. Hormon ini yang bikin kita merasa senang, antusias, dan penuh energi. Inilah kenapa awal mula terasa begitu menggairahkan.
Di fase ini, kita merasa ide kita brilian, segala kemungkinan terbuka lebar, dan dunia seolah menyambut kita dengan tepuk tangan.
Lalu berikutnya kita memasuki fase tengah. Fase di mana pekerjaan mulai repetitif, tantangan mulai muncul, dan hasil belum kelihatan. Dopamin pun menurun.
Di sinilah muncul yang namanya cognitive fatigue atau kelelahan kognitif. Otak kita mulai merasa jenuh dan fokus mulai terganggu. Kita pun mulai melirik hal-hal baru lain yang tampak lebih menarik.
Kita bisa saja tiba-tiba semangat belajar programming atau ikut kelas Bahasa Mandarin, padahal belum selesai ikut kelas berkebun atau masak makanan Eropa.
Ini adalah masalah kita yang pertama: hal lain akan tampak lebih menarik.
Dan itu bukanlah satu-satunya alasan mengapa pekerjaan yang kita mulai tidak juga kita selesaikan.
Jebakan Perfeksionisme
Alasan yang kedua adalah berlaku sebaliknya: jebakan perfeksionisme.
Perfeksionisme membuat kita ingin segala sesuatunya ideal, tepat, memuaskan. Padahal sempurna sering kali jadi musuh dari yang selesai. Kita revisi terus draft tulisan, desain, rencana karena merasa apa yang kita hasilkan belum cukup. Hingga akhirnya mandek.
Jadi, kalau nanti ada hasrat untuk tiba-tiba merevisi hasil yang sebenarnya sudah selesai, bisa jadi itu jebakan. Sekali lagi, jebakan.
Jebakan untuk membuat versi “fix”, “fix_final_1”, hingga “fix_final_banget_bismillah”.
Padahal, kalau kita mau menelusur lebih dalam, perfeksionisme ini sebenarnya bukan karena ingin hasil atau tampil sempurna. Melainkan, keinginan membuat orang lain tidak melihat kelemahan atau kekurangan kita.
Motivasi dan Grit
Oke. Lanjut ke alasan ketiga.
Di tengah jalan kita mulai mempertanyakan: kenapa aku melakukan ini, sih?
Padahal sebelumnya kita begitu yakin, lho. Begitu bersemangat.
Tapi tiba-tiba pertanyaan itu muncul begitu saja saat pikiran bawah sadar kita menyadari masih banyak yang belum selesai.
Selanjutnya, kita mulai meragukan motivasi awal kita. Kita bongkar alasan-alasan yang dulu terasa kuat, tapi kini lemah setipis tisu. Lalu kita sok-sokan bertanya kembali untuk mendapatkan alasan baru yang lebih logis dan lebih kuat.
Tapi bukannya dapat alasan untuk lanjut, kita malah menemukan berjuta alasan untuk berhenti atau berpindah fokus.
Hingga datang godaan terakhir yang paling licik: pikiran bahwa tak selesai itu bukan masalah besar.
Kita bilang ke diri sendiri bahwa “nggak apa-apa kok, nggak selesai juga nggak berdosa, yang penting udah mencoba, ternyata nggak cocok aja.”
Kita mulai membuat pembenaran. Bahwa berhenti itu bagian dari proses, bahwa kita butuh jeda, bahwa semua ini toh tak penting.
Ya mungkin, ada benarnya. Tidak semua yang tidak selesai itu gagal.
Memang akan ada hal-hal yang harus kita lepaskan di tengah jalan. Barangkali memang bukan karena kita menyerah, tapi karena diri kita telah berubah. Dan mungkin menyadari bahwa kita sudah salah jalan dari awal.
Apa yang dulu terasa penting bisa saja kehilangan maknanya, seperti lagu favorit yang tak lagi menggugah setelah kita ditempa waktu dan peristiwa.
Albert Einstein pernah bilang, ‘It’s not that I’m so smart, it’s just that I stay with problems longer.’
Saya yakin bahwa kecerdasan Einstein berperan besar dalam keberhasilannya. Tapi saya juga yakin bahwa kecerdasannya bukan satu-satunya alasan.
Grit, alias kombinasi antara konsistensi minat dan ketekunan usaha sangat berperan dalam proses ini.
Alon-alon Waton Kelakon
Barangkali kita bisa belajar dari orang Jawa.
Mereka punya cara bijak untuk menghadapi proses panjang yang tak selalu mulus: ‘alon-alon waton kelakon’. Secara bebas bisa diartikan: (nggak apa apa) pelan-pelan, asal terlaksana (atau terjadi).
Saat jalan mulai menanjak dan tenaga mulai habis. Saat mulai tak yakin dan fokus mulai berkurang. Bolehlah kita istirahat sejenak.
Tapi bukan untuk menyerah. Tapi bukan untuk berhenti.
Mari kita selesaikan prosesnya untuk memberi penghargaan pada waktu dan usaha yang telah kita curahkan.
Ayo bertahan melewati fase bosan, fase ragu, fase ingin kabur, dan tetap memilih setia untuk memberi titik di akhir kalimat.
Bukan demi hasilnya saja, tapi demi menghormati versi diri kita yang dulu pernah percaya dan pernah memulai.
Tentu meskipun tulisan ini bisa dibaca dan mungkin nantinya bisa mempengaruhi banyak orang, tulisan ini sebenarnya ditujukan untuk dibaca diri saya sendiri.
Dan fakta bahwa akhirnya tulisan ini selesai, adalah bukti bahwa kalau kita mau, kita bisa menyelesaikan banyak “sesuatu yang sudah kita mulai” lainnya.

