Site icon Saddam.id

Perjalanan Pulang dan Pengalaman Penerbangan London-Jakarta dengan Singapore Airlines

Salah satu hal yang masih saya ingat tentang pagi hari di kepulangan saya adalah rasa dingin yang luar biasa.

Pertama, karena memang waktu itu suhu di luar mencapai -2 derajat Celcius. Kedua, karena saya sudah tidak pakai kostum musim dingin. Dua lapis jaket yang saya gunakan tak mampu menepis segala kedinginan waktu itu. Untung saya hanya berada di luar sebentar, yaitu saat jalan dari pintu rumah ke taksi, diselingi bersalam-pelukan dengan Hendy.

Saya memang berniat tidak puasa hari itu. Maklum, mau perjalanan. Tapi saya tetap menjadi anak mandiri yang bangun pagi dan langsung mandi. Setelah itu, saya menunggu waktu Subuh, menunaikan salat, lalu menunggu taksi online yang sudah saya pesan di malam sebelumnya.

Taksi Bolt yang saya pesan datang tepat waktu, pukul 5.30 waktu setempat. Dari sini, saya menempuh perjalanan selama 41 menit, dan harus membayar sekitar 41 GBP. Meer, driver asal Afganishtan, membawa mobilnya dengan santai, sambil terus mengajak ngobrol dengan ramah.

Bandara Heathrow

Mobil Volkswagen Sharan yang membawa saya sampai di Terminal 2, The Queen’s Terminal, Bandara Heathrow sekitar pukul 6.15. Bandara Heathrow, salah satu bandara terbesar dan tersibuk di dunia, terletak sekitar 24 kilometer barat pusat kota London. Dengan lima terminal yang melayani lebih dari 80 juta penumpang setiap tahunnya, bandara ini benar-benar menjadi pusat transportasi internasional yang megah.

Setelah keluar dari mobil, saya langsung menuju ke area check-in. Sebenarnya, saya sudah melakukan proses online check-in dua hari sebelumnya melalui aplikasi Singapore Airlines. Prosesnya sangat mulus — tanpa perlu login ulang karena notifikasi dikirim langsung via email. Saya hanya perlu klik, isi beberapa data, lalu kursi sudah aman dipesan. Kali ini, saya memilih kursi dekat jendela agar bisa melihat langit dari ketinggian 40 ribu kaki.

Meskipun sudah check-in online, rupanya saya harus check-in mandiri untuk bagasi saya. Ini pertama kalinya saya menggunakan sistem check-in mandiri dengan fitur self-baggage drop. Agak kikuk, karena saya sempat bingung mencari tombol yang tepat di layar. Tapi untung ada petugas yang langsung tanggap membantu saya dari belakang.

Koper saya — satu koper kabin ukuran 20 inch — ditimbang dan langsung digiring ke konveyor. Beratnya masih di bawah 15 kg, aman tanpa biaya tambahan. Jatah bagasi Singapore Airlines untuk kelas ekonomi adalah 25 kg, jadi saya masih punya ruang untuk oleh-oleh seandainya saya belanja lebih banyak (tapi saya tidak).

Sedikit cerita di Heathrow

Suasana pagi di Bandara Heathrow masih sangat tenang, meskipun sudah ada beberapa penerbangan yang lepas landas. Meskipun saya masih memiliki dua jam hingga penerbangan saya, tidak ada informasi mengenai gerbang keberangkatan saya. Tentu saja, ketegangan mulai terasa.

Saya berjalan-jalan sebentar di sekitar terminal, memeriksa beberapa toko yang belum buka dan beberapa kafe yang baru mulai menyiapkan barang dagangan mereka. Tiba-tiba saya merasa ingin membeli minum, namun entah kenapa saya menunda-nunda. “Nanti saja kalau sudah dekat dengan gerbang keberangkatan,” pikir saya.

Pikiran ini muncul karena ada yang lebih mendesak, yaitu mencari toilet untuk buang air besar. Entah kenapa, perut saya mulai bertingkah. Saya harus dua kali melakukan pembuangan di lokasi yang berbeda pagi itu.

Menyadari waktu semakin mepet, saya langsung menuju ruang tunggu depan gate, berharap bisa membeli sesuatu untuk minum di sana. Ternyata, ruang tunggu depan gate sangat minim fasilitasnya — tidak ada kios minuman atau makanan. Hanya ada kursi-kursi kosong dan beberapa penumpang yang duduk menunggu penerbangan mereka. Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak membeli minum sama sekali. “Tak apa, nanti bisa minta di dalam pesawat,” pikir saya.

Dan inilah awal malapetaka.

Meskipun tetap bisa minta minum ke kru kabin dalam pesawat, memiliki sebotol dua botol air mineral adalah wajib hukumnya. Apalagi dalam penerbangan berdurasi 13 jam ini. Ini menjadi pelajaran bahwa dalam perjalanan, kadang-kadang kita cenderung menunda-nunda hal-hal yang penting, bahkan yang sederhana seperti makan dan minum. Tentu saja, saat itu saya hanya bisa tersenyum kecut.

Suasana Bandara heathrow di pagi hari
Tangga berjalan panjang menuju pintu keberangkatan

Tentang penerbangan London-Jakarta dengan Singapore Airlines

Perjalanan pulang saya ditempuh melalui dua penerbangan berturut-turut dengan Singapore Airlines:

✈ SQ 305 — Boeing 777–300ER | London (09:10) → Singapore (06:00+1)
✈ SQ 950 — Boeing 777–300ER | Singapore (06:50) → Jakarta (07:35)

Ada dua hal yang membuat saya sedikit kepikiran.

Pertama adalah durasi penerbangan London-Singapore yang mencapai 13 jam. Betul bahwa saya sudah survived di dua penerbangan berdurasi 8 jam-an, tetapi menambahkan durasi hingga lima jam ini tentu membuat saya sedikit was-was. Apalagi saya sudah mantab memutuskan duduk di kursi dekat jendela.

Hal kedua adalah terkait waktu transit di Bandara Changi yang hanya 50 menit. Mengingat kemarin di Dubai transit 5 jam serasa tidak cukup, tentu 50 menit ini akan terasa seperti sekejap saja. Dari awal, saya sudah bersiap untuk tidak membuang waktu di Singapore sana.

Saya mencoba menenangkan diri dengan mengingat reputasi maskapai internasional yang banyak mendapat penghargaan ini. Namun demikian, kekhawatiran saya akhirnya terbukti. Cerita detailnya, kita ungkap pelan-pelan.

Kru Kabin

Di ruang tunggu keberangkatan, saya berkali-kali mencocokkan papan pengumuman elektronik, papan nama pintu keberangkatan, dan boarding pass di tangan saya. Hal itu saya lakukan karena waktu boarding tinggal belasan menit lagi, namun saya masih duduk sendiri di ruang tunggu ini. Saya yakin tidak membuat kesalahan di sini. Tapi, di mana kawan sepenerbangan saya yang lain?

Pada akhirnya, calon penumpang mulai berdatangan. Mepet sekali, pikir saya. Saya sempat mencuri lihat boarding pass penumpang lain (maafkan sayaa..) dan bertanya untuk memastikan saya tidak salah tempat. Dan benar, saya tidak salah gerbang. Saya tidak bohong, lega sekali rasanya.

Namun hal aneh tidak juga berhenti. Waktu boarding sudah tiba, tapi belum ada tanda-tanda adanya petugas. Saya mulai celingukan lagi. Kali ini bukan lagi was-was, hanya merasa aneh saja. Untuk menambah keanehan, saya memperhatikan penumpang-penumpang lain, dan tak satupun dari mereka menunjukkan kegelisahan.

Pada akhirnya, kru dan pramugara-pramugari datang juga, mesti terlambat cukup lama, menurut standar saya. Saya mencoba untuk tidak kesal, malahan sebenarnya saya lega karena pada akhirnya saya dipastikan tidak salah gerbang dan ruang tunggu. Selanjutnya, saya benar-benar terkesan dengan apa yang dilakukan oleh pramugara-pramugari setelah ini.

Seorang pramugara senior, langsung memperkenalkan diri. Dia mengaku bernama John (atau Joe?), dan merupakan semacam pimpinan atau ketua pramugara di perjalanan ini. Dengan cepat, dia menyambut semua penumpang dan memperkenalkan rekan-rekannya (tentu tidak semua) dengan cepat. John nampak elegan dan ramah pada saat yang bersamaan.

John lalu menjabat tangan seorang penumpang, dan sedikit berbasa-basi. Mungkin kebetulan, mungkin juga memang dia sudah mengincar penumpang ini. Penumpang yang diajak bicara ini mrupakan penumpang kelas bisnis, sama seperti kabin di mana John bertugas. Oiya, saya tidak sedang menguping, karena sepertinya John sengaja menunjukkan apa yang dilakukkannya ke sebanyak-banyak orang. Barangkali begitu, atau barangkali itu prasangka saya saja.

Selain John, beberapa pramugari yang lain — tidak semuanya — juga melakukan hal yang sama, mengajak ngobrol para penumpang. Hal ini mereka lakukan sembari proses boarding berjalan. Bagi saya, ini tidak berlebihan. Apa yang saya lihat adalah sebuah pelayanan ramah yang sudah seharusnya mendapat pujian.

Keramahan mereka terbukti juga saat berada di pesawat. Terasa berbeda dengan kru dalam pesawat maskapai internasional yang saya gunakan dalam proses keberangkatan, maupun maskapai-maskapai dalam negeri. Top!

Pesawat

Singapore Airlines menggunakan pesawat Boeing 777–300ER untuk kedua rute saya — baik dari London ke Singapura, maupun dari Singapura ke Jakarta. Untuk perjalanan panjang seperti ini, kenyamanan kabin tentu jadi pertimbangan utama.

Boarding dilakukan per blok sesuai nomor kursi. Prosesnya cepat, tidak perlu berdesakan, dan semuanya tertib. Begitu masuk ke dalam pesawat, saya langsung disambut interior kabin yang bersih dan terasa cukup lapang.

Konfigurasi tempat duduk di kelas ekonomi adalah 3–3–3, formasi yang lazim untuk Boeing 777. Ruang antar kursi sangat lega untuk kaki saya yang pendek. Saya memang tidak pernah mendapat masalah tentang ini. Tapi yang terasa berbeda adalah, kursi di pesawat ini sepertinya lebih pendek dari pesawat kebanyakan. Jarang saya bisa merasakan bantalan yang benar-benar pas dengan kepala saya. Kursi sebelah kiri saya kosong tanpa penumpang, menambah kenyamanan saya karena saya hanya perlu melewati satu penumpang untuk pergi ke toilet atau sekedar jalan-jalan.

Saya duduk di kursi dekat jendela, benar-benar ingin menikmati pemandangan pergantian hari yang cepat, karena terbang dari barat ke timur. Tidak salah, hari itu matahari sudah terbenam saat waktu di jam tangan saya (masih GMT +0) masih menunjukkan pukul 14.57. Karena sudah mengantisipasi hal ini, saya bisa menyiasati waktu salat yang pendek antara Dzuhur ke Ashar, dan Ashar ke Maghrib.

Satu pemandangan yang saya ingat — bahkan sampai sekarang — adalah di malam itu, saya melihat bulan ada di bawah saya. Bulan sabit yang terang itu hanya sedikit lebih tinggi dari deretan pegunungan, yang di bawahnya nampak gemerlap lampu kota yang tak kalah indahnya. Percayalah, saya berkali-kali mencoba merekam ini dengan kamera ponsel, baik berupa foto maupun video — tapi tidak ada yang berhasil. Tepat di momen ini, saya bertekad suatu hari saya akan mengajak istri dan anak saya untuk mendapatkan pengalaman yang serupa.

Kursi dengan bantalan yang pas dengan kepala. Rambut sudah benar-benar hilang warnanya, tinggal pirang-pirang bleaching saja.
Momen matahari terbenam
Salah satu pemandangan sebuah kota di Pakistan dari pesawat saya

Entertainment

Satu hal yang langsung menarik perhatian saya begitu duduk di kursi adalah layar hiburan KrisWorld. Ukurannya yang cukup besar 11,1 inci — hampir sebesar iPad Air saya — layar lebar dengan tampilan tajam dan responsif.

Navigasinya juga modern dan intuitif. Saya bisa geser-geser layar seperti main smartphone — swipe kiri kanan untuk memilih film, tap untuk lihat detail, dan slide atas bawah untuk atur volume dan kecerahan. Sebuah peningkatan besar dibanding sistem hiburan di banyak maskapai lain yang masih mengandalkan tombol panah yang lambat dan antarmuka jadul. Terdapat juga remote dengan bentuk seperti joystick game, yang memang digunakan untuk memudahkan dalam memainkan game dalam sistem ini.

Pilihan filmnya? Banyak. Bahkan terlalu banyak. Saya sampai bingung sendiri mau mulai dari mana. Namun, karena memang saya dari awal berniat menikmati pemandangan luar dan mulai menulis pengalaman-pengalaman saya di Inggris kemarin, film yang saya putar akhirnya saya tonton setengah hati dengan berkali-kali menekan tombol pause.

Oiya, satu lagi: earphone yang dibagikan tidak perlu dikembalikan. Memang disediakan untuk dibawa pulang. Earphone-nya sudah kompatibel dengan colokan jack 3.5 mm, jadi bisa langsung dipakai di laptop atau ponsel pribadi. Tapi itu hanya teori. Bentuk colokannya akan sangat menyulitkan jika dipasang di perangkat. Lagipula, jaman sekarang sudah sangat jarang ada orang yang menggunakan earphone kabel, apalagi dengan kualitas yang “cukup” seperti ini.

Dashboard KeisWorld, entertainment systemnya SIA
Earphone yang reusable
Ini bentuk earphone-nya. Colokannya double.

Makanan

Secara total, saya tiga kali makan di perjalanan ini: dua kali di perjalanan London-Singapore, dan sekali di perjalanan Singapore-Jakarta. Tidak banyak hal yang bisa saya ceritakan soal makanannya. Tidak bisa dibilang enak, tapi ya bukan yang tidak enak gitu juga. Menunya lengkap mulai dari makanan pembuka hingga makanan penutup.

Untuk menu makan malam, saya mendapatkan pasta dengan ayam dan jamur. Sebagai pelengkap, diberikan pula roti (bread), biskuit dan yogurt. Kita bisa request berbagai macam minuman seperti susu, soda, hingga wine. Kalau saya mah, pesen air putih saja.

Di penerbangan Singapore-Jakarta, saya juga mendapatkan sarapan, meski durasi penerbangan hanya dua jam. Menunya waktu itu bubur ayam. Tentu bagi saya, ini tidak lebih enak dari bubur ayam cianjur yang mudah saya temui di Bogor.

Menu makan malam di pesawat London-Singapore
Menu makan malam: pasta dengan ayam, jamur dan kacang-panjang
Sarapan di penerbangan Singapore-Jakarta
Bubur. Menu sarapan yang Asia banget

Ketepatan Waktu

Jika saya boleh komplain, inilah aspek yang menjadi perhatian saya. Semoga kalian belum lupa soal kegelisahan saya saat keberangkatan di Bandara Heathrow. Keterlambatan dalam proses boarding tentu diikuti keterlambatan proses tinggal landas. Akhirnya, pesawat baru tinggal landas sekitar pukul 9.50 an, terlambat sekitar 40 menit dari jadwal keberangkatan.

Hal ini pulalah yang membuat saya kembali gelisah ketika waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi (di hari berikutnya) dan belum ada tanda-tanda pesawat memulai proses descending untuk medarat. Bagaimana tidak, pesawat ini dijadwalkan mendarat pukul enam tepat, dan penerbangan saya selanjutnya dijadwalkan pukul 6.50.

Terbayang sudah proses buru-buru mengejar pesawat di bandara nanti. Saya membayangkan betapa melelahkannya, harus berlai-lari dengan tubuh yang kurang tidur dan kurang minum.

Berjibaku di Bandara Changi

Pada akhirnya, pesawat kami baru mendarat di Bandara Changi, Singapore sekitar pukul setengah tujuh. Artinya, saya hanya punya waktu sekitar dua puluh menit untuk mengejar penerbangan berikutnya.

Saya diarahkan untuk menemui petugas untuk proses transit. Dia menjelaskan, bahwa penerbangan saya ke Jakarta dipindah ke jadwal berikutnya, dan bahwa informasi itu sudah disampaikan via email, tadi malam. Tadi malam. Alias ketika saya sudah di dalam pesawat.

Sempat sedikit merasa lega, adrenalin saya kembali dipicu melihat boarding pass baru yang memperlihatkan waktu boarding pada pukul 06.40. Saya langsung komplain ke petugas sambil menunjukkan waktu di jam tangan saya yang menunjukkan angka yang sama.

“This is your boarding time, Sir — not the departure time. You can still make it if you hurry,” katanya sambil menunjukkan ke arah mana gerbang keberangkatan saya. Rupanya saya masih harus ganti terminal. Saya harus berjalan, naik kalayang dan berjalan kaki lagi.

“You can still make it, Sir”, katanya kembali untuk menenangkan saya.

Harus saya akui, saya mengumpat berkali-kali di dalam hati. Namun karena malas berdebat, saya langsung berjalan ke arah stasiun kalayang. Bukan berjalan ding tepatnya — setengah berlari.

Notifikasi perubahan penerbangan yanh baru saya “buka” di Bandara Changi

Keluar dari kalayang, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh. Menurut jadwal, pesawat yang akan membawa saya ke Jakarta akan berangkat pukul 7.40. Itu artinya tidak ada pilihan lain. Saya harus berlari.

Ternyata saya tidak berlari sendiri. Seorang pria paruh baya berkebangsaan Inggris (saya tahu dari logatnya) dengan setelan jas lengkap dengan dasinya, ikut berlari bersama saya.

“From London to Jakarta?” dia bertanya.

Pertanyaan yang hanya saya jawab dengan “Yes”.

Kami sempat hampir tersesat karena berlari mengikuti rombongan yang lain, yang ternyata merupakan rombongan ke Kuala Lumpur. Untuk pria berjas tadi segera sadar dan mengingatkan saya untuk berlari ke kiri, bukan ke kanan.

Pada awalnya kami memang berlari bersama, meskipun pada prosesnya dia mulai meninggalkan saya. Atau lebih tepatnya, saya yang melambat. Pria itu sempat beberapa kali melambat dan membuat gesture dengan tangannya untuk menyemangati saya.

Sayangnya, nafas saya sudah tinggal sisa-sisa dan betis saya seperti terbakar api unggun rasanya. Sudah jelas badan saya memang sangat tidak fit karena jarang berolahraga. Tapi pagi itu, kondisi itu diperparah dengan saya yang kurang tidur dan kurang minum, serta membawa ransel — depan-belakang.

Saya sudah hampir pasrah ketika tiba-tiba melihat pria berjas yang berlari sekitar dua puluh meter di depan saya melambat, dan akhirnya berhenti. Rupanya kami akhirnya sampai di ruang tunggu di depan pintu keberangkatan. Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 7.15. Antara bersyukur dan kesal, saya melihat penumpang masih duduk dengan santai. Bahkan, proses boarding pun belum dimulai.

“Good catch”, pria berjas berkata dengan pelan sambil masuk ke ruang tunggu.

Saya hendak membalas, tapi sadar bahwa untuk bernafas pun sulit. Sambil membungkuk, saya menangkap sebanyak-banyak udara. Akhirnya, saya hanya sempat memberikan sinyal berupa jempol kanan saya kepadanya.

Sekali lagi, saya misuh-misuh alias mengumpat di dalam hati. Banyak yang saya pisuhi sebenarnya. Tapi pisuhan saya yang jelas karena di kondisi itu, saya tidak punya air minum sama sekali. Dan tidak ada toko atau apapun yang menjual air di situ.

Sampai di Jakarta

Saya bisa bernafas lega begitu saya duduk di kursi pesawat yang akan membawa saya ke Jakarta. Anehnya, meski proses boarding terlambat, pesawat ini hanya terlambat semenit-dua menit dari jadwal keberangkatannya. Itu artinya, proses boarding sangat cepat dan efisien.

Di pesawat ini, saya duduk di bagian tengah, di kursi sisi kanan. Saya duduk di baris paling depan bagian tersebut, jadi layar hiburan saya menempel di dinding. Tapi saya sudah tidak begitu peduli dengan posisi kursi, apalagi dengan layar hiburan itu. Keringat saya saja belum kering.

Saya tersenyum begitu melihat pria dengan setelan jas — kawan berlari — berjalan ke arah saya, dan duduk di kursi sebelah saya. Melalui obrolan, saya akhirnya tahu kalau dia sedang ada perjalanan bisnis ke Palu.

Ketika pesawat mendarat di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, tidak ada perasaan lain yang saya rasakan selain kangen yang sudah memuncak pada anak dan istri. Kali, anak saya ngotot untuk menjemput bapaknya ke bandara.

Setelah melewati proses imigrasi yang cukup panjang — sekali lagi, saya masuk ke antrean merah — serta melewati sedikit drama tas selempang yang hilang, saya akhirnya bisa duduk makan soto sambil menunggu jemputan datang. Entah kenapa, soto betawi yang saya makan waktu itu, berkali-kali lipat lebih enak dari biasanya.

Exit mobile version