Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya pesawat Airbus A380ER yang saya tumpangi mendarat juga di Bandara Heathrow, London. Waktu setempat menunjukkan pukul 14.10.
Saya mengecek jam tangan yang masih menunjukkan waktu WIB—pukul 21.10. Jakarta lebih cepat tujuh jam dari London, yang menjadi acuan waktu dunia. Rasanya aneh menyadari bahwa di sana, hari sudah hampir berganti, sementara di sini masih siang.
Saya menghembuskan nafas panjang begitu melihat papan tulisan “Welcome to Terminal 3, Heathrow”. Lega. Akhirnya sampai juga, setelah menempuh hampir 20 jam perjalanan, dan berhari-hari persiapan.
Bandara ini menyediakan papan penunjuk jalan yang sangat jelas dan ditempatkan di lokasi yang strategis. Mulai dari pengecekan paspor dan urusan imigrasi, pengambilan bagasi, hingga keluar menuju moda transportasi yang lain pun terasa sangat lancar.
“Indonesia, Bali, Nasi Goreng. Welcome.” Sapa seorang petugas di bagian antrean di urusan imigrasi begitu melihat lambang garuda di paspor saya.
Saya bertemu dengan Hendy di gerbang kedatangan. Kami sempat melakukan selfie setelah sekadar bertanya kabar. Foto itu selanjutnya saya kirim ke istri, sebagai tanda suaminya sintas dari lebih dari 20 jam perjalanan.
Hendy adalah teman sedari SMA. Dia kini tinggal di London, sedang dalam masa studi S3 di kampus ternama yang sering masuk rangking sepuluh besar dunia. Saya akan menginap di rumahnya selama di London.
Bukan hanya itu saja, dia juga meminjami pakaian musim dingin, bersedia menjemput di bandara, serta mengajak jalan-jalan keliling kota. Seorang teman yang baik. Sangat baik malahan.
“Sepuluh menit naik tube, lalu lima puluh menit naik bus”, kata Hendy ketika saya tanyakan berapa lama perjalanan menuju rumahnya.
Hendy meminjamkan kartu Oyster, yang bisa digunakan sebagai alat bayar untuk naik bus dan kereta di London. Cara pemakaiannya gampang. Cukup tap di gerbang masuk dan keluar stasiun atau di bus. Tarif akan dihitung akumulasi satu hari, dan ditagihkan keesokan harinya. Tarif harian berkisar 10-12 pounsterling tergantung zona yang dilewati.
Kami menaiki tube, begitu mereka menyebut kereta bawah tanahnya, tipe Elizabeth Line. Di sebuah stasiun yang saya lupa namanya, kami berhenti dan keluar jalan kaki ke halte untuk naik bus.
Begitu menjejakkan kaki keluar stasiun, angin dingin menerpa wajah. Langit terlihat kelabu dengan sedikit mendung gelap. Merasa kedinginan, saya mengecek suhu kota London di Google. Delapan derajat Celcius. Suhu yang pastinya sangat jarang saya temui di Indonesia.
“Kamu beruntung datang minggu ini. Kalau datang seminggu atau dua minggu lalu, suhunya masih minus. Ini sudah hangat di sini”, kata Hendy sambil menawarkan jaketnya.
Saya hanya menanggapinya dengan tersenyum kecil dan menolak tawarannya. Dinginnya masih bisa saya toleransi, meskipun batin saya jelas menolak untuk menggunalan kata hangat untuk kondisi ini.
Bus warna merah khas London ini membawa kami ke bagian utara kota, ke rumah Hendy. Di sebuah persimpangan, Hendy menunjuk ke arah luar. “Ke sana kalau mau ke Stadion Wembley”, katanya.
Saya sumringah mendengarnya. Tidak menyangka, saya begitu dekat dengan tempat penyelenggaraan semifinal dan final Piala FA yang biasa saya lihat di televisi. Saya memang tidak sempat mengunjungi stadion ternama itu. Namun foto papan jalan bertuliskan “Wembley” sudah cukup untuk kali ini.
Bus akhirnya berhenti. Kami berjalan kaki sekitar tujuh menit untuk sampai di rumah Hendy. Dingin sudah mulai menyelimuti tubuh dan menusuk-nusuk tangan saya yang terbuka.
Waktu menunjukkan pukul 17.14. Masih ada waktu untuk sholat. Hari ini saya tidak ada agenda ke mana-mana. Hanya ingin istirahat setelah perjalanan yang cukup melelahkan, serta mengatasi jetlag ringan yang saya alami.
Ngomong-omong soal jetlag, beberapa teman mewanti-wanti saya soal ini. Hendy saja butuh beberapa hari untuk mengatasinya. Saya, yang tak mau mengalami hal yang sama, mencari tahu berbagai trik untuk menyesuaikan ritme tubuh dengan cepat. Saya membaca artikel dan menonton beberapa video tentang hal ini.
Salah satu caranya adalah dengan segera mengatur ulang jam biologis. Begitu naik pesawat, saya langsung mengubah zona waktu di ponsel, dari WIB ke waktu Dubai, lalu ke London. Trik kecil ini membantu otak saya menyesuaikan diri lebih cepat. Selanjutnya saya memaksa tubuh saya untuk tidur di pesawat, begitu waktu menunjukkan pukul 10 malam waktu London.
Selain itu, saya tiba di sore hari. Ini jelas membantu jika dibandingkan datang di pagi hari. Saya hanya tinggal menunggu sekitar tiga jam untuk dapat segera tidur malam ini dan mempersiapkan tubuh untuk jalan-jalan esok hari.

