Salah satu hal yang paling sering lupa kita syukuri adalah hari yang biasa saja.
Hari-hari di mana tidak ada kejadian besar. Tidak ada kegembiraan yang meledak-ledak. Tapi juga tidak ada kesedihan yang luar biasa.
Kita bangun tanpa alarm yang menyebalkan. Jalanan macet, tapi tidak sampai membuat kita telat. Email masuk, tapi tidak ada yang bernada darurat.
Tak ada ban kempes. Tak ada yang julid. Tak ada atasan yang tiba-tiba ngajak meeting jam lima sore.
Dengan kata lain: biasa saja.
Kita bangun, minum kopi, berangkat kerja, menatap layar, menguap, lalu malam datang seperti biasa.
Hari-hari seperti inilah yang sering luput dari perhatian. Padahal sebenarnya, diam-diam, semesta sedang bersikap sangat baik pada kita.
Negativity bias
Memang sudah wajar kalau kita lebih mudah mengingat hal yang mengganggu. Itu bagian dari desain otak manusia. Psikologi menyebutnya negativity bias, yaitu kecenderungan otak untuk memberi bobot lebih besar pada pengalaman negatif dibanding yang netral atau positif.
Sedangkan sebuah studi juga menyebutkan bahwa otak manusia lebih mudah mengingat kejadian yang penuh emosi—baik positif maupun negatif—daripada kejadian netral.
Ya jadi wajar kalau kita sering lupa bersyukur untuk hari-hari yang tenang, karena otak kita memang tak dirancang untuk mengingat ketika “tidak terjadi apa-apa”.
Tapi mari bayangkan ulang. Hitung berapa banyak hal buruk yang ternyata dihindarkan dari hidup kita. Sesuatu yang mungkin terjadi tapi tidak jadi terjadi.
Mobil bisa saja mogok, tapi tidak. Anak bisa saja sakit, tapi sehat. Langit bisa saja penuh awan hitam dan menurunkan hujan besar saat kita lupa bawa jas hujan, tapi nyatanya cerah.
Dengan berpikir seperti ini, barulah kita mengerti bahwa terlalu banyak kebetulan baik yang terjadi tanpa kita sadari.
Konsep homeostatis dan syukur kehidupan
Kita belajar bahwa sistem yang baik bukan sistem yang terus berubah, tapi yang bisa menjaga kestabilan.
Dan dari biologi, kita mengenal konsep homeostatis, yaitu mekanisme biologis tubuh untuk mempertahankan kestabilan.
Nah, hari yang biasa adalah bentuk homeostasis dari roller coaster kehidupan kita.
Ada sebuah kutipan yang saya suka:
“Peace is not when nothing happens. Peace is when nothing disturbs.”
Kita hidup dalam budaya yang memuja puncak dan momen besar. “Hari ini harus bermakna.” “Setiap momen harus ditangkap.”
Tapi tidak semua hal dalam hidup harus menjadi cerita besar. Ada hari-hari yang cukup dengan menjadi jalan lurus tanpa tanjakan.
Jadi mulai hari ini, kita bisa mulai membentuk kebiasaan kecil: mengucapkan terima kasih pada hari yang tidak membuat kita kewalahan.
Barangkali saat berjalan pulang dari kantor, dan semua terasa biasa saja, kita bisa bilang dalam hati:
“Terima kasih, Tuhan, hari ini saya tidak jatuh.”
Tidak jatuh dari motor. Tidak jatuh dalam lubang overthinking. Tidak jatuh pada keputusan-keputusan bodoh. Tidak jatuh hati pada orang yang salah.
Lalu kita bisa mulai bersyukur atas hal-hal yang biasa.
Listrik menyala sepanjang hari. Wifi tidak ada gangguan. Tidak ada kabar dari rumah yang bikin khawatir. Hingga bisa makan siang dengan santai tanpa terburu-buru.
Seperti kura-kura yang berjalan
Betul bahwa dalam kehidupan modern yang begitu cepat dan bising, hari yang biasa adalah kebosanan. Mereka datang tidak membawa kejutan. Namun jangan lupa, mereka juga tidak memberi beban tambahan.
Ingatlah bahwa hari biasa bukanlah hari yang kosong.
Mungkin ia hanya seperti kura-kura yang berjalan pelan. Tapi pelan, bukan berarti sia-sia, kawan!
Bahkan banyak momen besar dalam hidup pun lahir dari fondasi hari-hari biasa.
Kita tidak jadi ahli dalam sehari. Kita tidak jadi dewasa dalam semalam. Kita tidak pulih dari luka hanya dengan satu pelukan.
Semuanya terjadi perlahan. Di antara hari-hari biasa yang tidak kita ingat, tapi sebenarnya kita butuhkan.
Hari yang biasa adalah bentuk kasih sayang paling halus dari semesta.
Kita tidak tahu, mungkin hari ini Tuhan menahan sekrup lepas dari jembatan panjang di jalan yang kita lewati.
Dan mungkin hari ini bukan tentang apa yang terjadi. Tapi tentang semua hal yang tidak jadi terjadi.
Jadi, kita tidak perlu membuat hari ini luar biasa untuk menjadikannya berarti.
Dan barangkali, itu saja sudah cukup sebagai alasan untuk bersyukur hari ini.

