Layout Peta

Layout peta memiliki arti yang penting terhadap tampilan suatu peta.

Tampilan yang bagus akan menarik pembaca peta untuk melihat dan selanjutnya berusaha mengetahui isi dari peta yang kita buat, sehingga tujuan dari pembuatan peta itu sendiri, yaitu memberikan informasi yang bereferensi spasial dapat tercapai.

Definisi layout peta

Layout peta adalah cara penempatan isi peta beserta unsur-unsur kartografis lainnya. Unsur-unsur kartografis lain yang dimaksud adalah judul peta, skala peta, legenda/ keterangan tentang isi peta, petunjuk lokasi peta (inset), dan unsur penting lainnya.

Penempatan unsur-unsur tersebut beserta dengan isi peta, selain memperhatikan faktor estetika juga harus memperhatikan faktor kemudahan bagi pembaca untuk memahami isi dari peta.

Dalam kerangka Sistem Informasi Geografis (SIG), proses layout peta merupakan satu tahap terakhir.
Data spasial yang sudah diinput, dianalisis, dan divisualisasikan kemudian disusun dan diatur untuk menjadi keluaran (output) proses SIG.

Hal ini dilakukan karena sebagian besar user menghendaki output peta yang siap pakai baik dalam bentuk hardcopy (cetak), atau dalam bentuk softcopy (misal format JPG atau PDF).

Fungsi layout peta

Layout peta berfungsi untuk mempermudah pembacaan peta dengan membuat tampilan peta yang mudah dibaca dan menambah informasi dengan menambahkan kelengkapan komponen-komponen peta.

Jenis layout peta

Jenis atau macam layout peta ada tiga, yaitu:

• Tipe frame map
• Tipe island map
• Tipe bleeding edge map

Frame map

Tata letak peta dari tipe ini memiliki kerangka/garis batas luar yang mengelilingi muka peta.
Garis batas tepi ini mempunyai fungsi memisahkan antara muka peta dengan informasi tepi secara jelas.

Contoh layout frame map:

Contoh layout peta sesuai kaidah kartografis

Island map

Tipe tata letak peta yang lebih konvensional dari frame adalah Island Map. Batas area yang dipetakan berfungsi sebagai batas garis (frame). Tipe ini memberikan keleluasaan pada kita untuk merancang tata letak peta yang menyesuaikan bentuk area kajian.

Contoh layout peta tipe pulau:

jenis jenis layout peta

Bleeding Edge Map

Tata letak peta tipe ini mempunyai informasi sampai pada batas potongan dari area peta, dengan kata lain tidak mempunyai kerangka peta (frame)

Contoh tipe bleeding edge map:

Contoh layout peta

Standar layout peta

Sebenernya peta dapat dikreasikan sesuai dengan kreatifitas pembuatnya.

Ketentuan umumnya adalah bahwa peta mampu menampilkan informasi yang akurat, dan informasi dalam peta dapat dibaca dan dipahami dengan mudah, cepat dan tepat oleh pengguna atau pembacanya.

Untuk memastikan hal ini, maka dirumuskan adanya kaidah kartografi (cartographic grammar) dalam pembuatan peta.

Layout peta sesuai kaidah kartografi

Layout peta sesuai kaidah kartografi dapat diartikan secara teknis sebagai layout peta yang memuat komponen-komponen atau unsur-unsur peta.

Komponen peta terdiri atas:

  • Judul peta
  • Muka/badan peta (daerah yang dipetakan)
  • Penunjuk skala
  • Penunjuk arah mata angin
  • Penunjuk grid koordinat
  • Legenda
  • Inset
  • Sumber peta
  • Informasi proyeksi
  • Informasi tahun pembuatan
  • Informasi pembuat peta

Peta-peta resmi keluaran pemerintah biasanya memuat semua komponen ini demi menampilkan semua informasi yang menyertai peta. Dengan skema seperti ini, pembaca peta dapat dengan jelas melihat akurasi dan legalitas informasi yang termuat dalam peta yang dia baca.

Cukup sering, saya berada pada situasi di mana tidak semua elemen peta saya tampilkan.

Misal, saya membuat peta untuk digunakan dalam badan laporan atau paper ilmiah. Untuk peta seperti ini, layout dapat dibuat dengan sangat minimal.

Peta pada laporan seperti ini biasanya hanya memuat komponen badan peta, legenda, grid koordinat dan penunjuk skala saja. Informasi lain seperti tahun pembuatan, pembuat peta, sumber data sudah tertulis di dalam bagian lain di laporan tersebut.

Ketentuan layout peta

Layout peta dapat dibuat sesuai dengan kreasi pembuat peta, menyesuaikan dengan tujuan peta, pembaca peta dan media peta.

Meskipun demikian, pada peta-peta resmi yang kemudian akan diproduksi dan digunakan untuk keperluan orang banyak, atau peta akan digunakan sebagai dasar pembuatan peta lain, standar atau ketentuan layout peta ini dibuat.

Biasanya peta-peta resmi keluaran pemerintah sudah memiliki aturan-aturan baku dalam banyak hal secara detil, antara lain:

  • Skala cetak dan ukuran kertas
  • informasi yang harus ditampilkan,
  • penyusunan dan pengaturan setiap komponen peta,
  • pengaturan simbolnya
  • pengaturan label termasuk pengaturan hurufnya.

Layout peta BIG

Badan Informasi Geospasial (BIG) merupakan lembaga resmi yang berwenang dalam informasi geospasial, termasuk pembuatan peta-peta.

BIG telah menerbitkan beberapa Standar Nasional Indonesia (SNI) penyajian peta, antara lain:

Layout peta RBI

Layout peta geologi

Contoh lain dari peta yang sudah ada standarnya adalah peta geologi. Peta ini merupakan peta terbitan Badan Geologi, Kementerian ESDM. Panduan pembuatan peta geologi, termasuk layoutnya tercantum pada SNI 13-4691-1998 tentang Penyusunan Peta Geologi.

Untuk pembacaan cepat, secara ringkas panduan ini dirangkum dan dituliskan juga di sini.

Layout peta geologi

Panduan membuat layout peta

Untuk membantu membuat peta yang efektif dan estetik, berikut saya berikan tips-tipsnya:

1. Pastikan sudah ada panduan atau standar yang mengatur peta yang akan kita buat

Ada beberapa peta yang telah memiliki standard dan memiliki landasan hukum berupa peraturan yang mengatur bagaimana layout dan desain petanya. Contohnya peta RBI, peta desa, dan peta geologi.

Selain itu, cek kembali jika memang organisasi/ lembaga/ universitas punya preferensi tertentu.
Karena meskipun tidak tertulis secara eksplisit, biasanya layout dan desain peta dapat pula menjadi “trademark” organisasi tempat kita bekerja.

Sebagai contoh, lihat Petunjuk Teknis Penggambaran dan Penyajian Peta Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang dipakai sebagai pedoman Kementerian LHK.

Jika ada panduan resminya, kita ikuti saja. Selain peta tersebut standar, hasilnya sudah pasti bagus.

2. Selalu ingat dengan tujuan peta

Tujuan peta yang akan dibuat sangat menentukan faktor-faktor lainnya. Saat tujuan peta sudah ditentukan, banyak pertanyaan yang kemudian muncul.

Siapa yang akan membaca dan menggunakan peta tersebut?

Di mana dan bagaimana peta akan ditampilkan?

Informasi apa saja yang harus muncul?

3. Pahami pembaca atau pengguna peta

Setelah tujuan peta ditentukan, selanjutnya, pertimbangkan siapa pengguna atau pembaca petanya.

Kita sebagai pembuat peta harus mengetahui atau setidaknya menerka calon pembaca atau pengguna peta kita.

Pembaca dan pengguna peta akan menentukan kompleksitas informasi dan tampilan petanya.

Semakin awam pembaca peta, maka peta perlu dibuat semakin sederhana, baik kedalaman informasi maupun kompleksitas tampilannya.

Membuat peta yang akan digunakan oleh seorang surveyor berpengalaman untuk kegiatan lapangan tentunya akan berbeda dengan peta yang akan digunakan untuk sosialisasi ke masyarakat atau peta untuk media pembelajaran di sekolah dasar.

4. Sesuaikan dengan media petanya

Kita harus mempertimbangkan apakah peta tersebut hanya akan dibaca di layar monitor, atau akan dicetak.

Jika akan dibaca di layar monitor PC, laptop atau HP, pertimbangkan nilai DPI saat melakukan proses eksport petanya.

Nilai DPI ini juga harus diperhatikan juga saat akan membuat export peta untuk dicetak. Untuk keperluan ini, ukuran resolusi 300 dpi seharusnya sudah cukup bagus.

Jika peta akan dicetak, ukuran cetaknya harus kita perhatikan.

Pertimbangan-pertimbangan berbeda harus dilakukan saat membuat dan mendesain peta yang akan dicetak di poster ukuran A3 atau akan dijadikan pajangan di dinding dengan ukuran A0, dibandingkan dengan peta yang akan masuk dalam deskripsi area kajian dalam proposal penelitian, atau dalam atlas dan buku. 

5. Cek kembali simbol peta dan label

Proses pemilihan layer, simbolisasi peta dan generalisasi peta, sertapemberian label sebaiknya selesai sebelum proses layout dilakukan.

Namun, pada saat layout kita bisa mengecek kembali apakah simbol peta meliputi warna, bentuk dan yang lainnya sudah pas ata belum

Kita juga perlu periksa teks-teks yang ada dalam peta, apakah sudah jelas terbaca dan tidak membingungkan.

6. Pertimbangkan komponen peta yang harus ada

Pada proses ini, setelah mempertimbangkan tujuan, pengguna, dan media peta, kita bisa menentukan komponen-komponen pertama apa yang wajib ada, atau yang tidak perlu kita munculkan.

7. Desain layout peta, gunakan prinsip attention flow

Kita tidak dapat memaksa untuk membaca peta dalam urutan tertentu sesuai yang kita inginkan.

Tetapi kita bisa membuat desain yang dapat secara halus mempengaruhi aliran perhatian.

Dengan begini, kita bisa mengarahkan perhatian pembaca sesuai kehendak kita.

Idealnya dari kiri atas, ke kanan bawah.

8. Prinsip hirarki visual yang memudahkan pembaca peta

Hirarki visual merupakan salah satu cara untuk mempengaruhi perhatian pembaca peta. Kita perlu menyusun setiap elemen di peta kita sesuai dengan seberapa penting elemen tersebut untuk pembaca. Dengan begini, pembaca akan lebih mudah dan cepat memahami informasi dalam peta kita.

Selain itu, peta akan tampak lebih cantik.

9. Keseimbangan + Keteraturan + Kreatifitas = Harmoni

Keseimbangan adalah perasaan tata letak yang didistribusikan secara merata ke seluruh halaman. Prinsip ini cukup sulit untuk dijelaskan, tetapi bisa jadi cukup mudah dikenali.

Biasanya kita bisa langsung tahu kalau sebuah peta sudah seimbang atau tidak seimbang.
Cara untuk membuat sebuah peta “seimbang” adalah dengan mengatur elemen yang merata dan simetris.

Selain itu, kita bisa mainkan ukuran, posisi, dan jarak antar elemen untuk memaksimalkan estetika peta kita.

Untuk menggunakan prinsip keteraturan, unsur-unsur peta dapat diatur dengan menyusunnya secara simetris, misal dengan menggunakan garis bantu.

Atau yang lebih sering dilakukan, adalah dengan memisahkan muka peta di satu “kotak” utama. Lalu elemen peta yang lain di informasi tepi.

Dengan bantuan kotak-kotak dan garis-garis, pastinya peta akan terkesan lebih rapi. Namun juga sering nampak membosankan.

Maka, kadang-kadang kita perlu membuat ketidakteraturan, tetapi tetap menarik.

Caranya dengan memperhatikan prinsip harmoni.

Kita dapat menggunakan prinsip ini dengan cara melihat semua elemen peta kita sebagai suatu kesatuan.

Prinsip ini seperti secara bersama-sama menggunakan prinsip hierarki visual, keseimbangan, dan keteraturan.
Di sinilah kreatifitas kita diperlukan

Semakin banyak peta yang kita buat, skill kita terkait harmonisasi elemen peta akan semakin terasah.

10. Cari inspirasi sebanyak-banyaknya

Pertanyaan tentang layout peta yang baik ini cukup sulit dijawab. Hal yang bisa kita lakukan adalah mencari inspirasi sebanyak-banyaknya.

Semakin banyak kita melihat peta, semakin banyak inspirasi yang kita dapat.

Berikut ini beberapa contoh layout peta yang dapat kita amati, tiru dan modifikasi:

Maps We Love

Contoh layout peta yang baik

New Look of National Park Service Maps

Contoh layout peta bagus

International Conservation Mapping Contest

Penutup

Melalui tulisan ini, kita telah belajar engenai layout peta, meliputi pengertian, tujuan, jenis, beserta cara membuatnya.

Jika ada pertanyaan tentang layout peta, silahkan tulis di komentar di bawah. Saya akan senang hati berdiskusi.

Saddam Hussein
Saddam Hussein
Articles: 137

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Link QQ88

Daftar QQ88

QQ88

slot gacor terbaru

QQ88