Bus berhenti. Saya mengernyitkan dahi, menyadari bahwa Westgate sudah begitu dekat. Dengan cepat, saya turun, sedikit tergesa-gesa. Salah naik bus, ternyata membawa keberuntungan — saya justru turun lebih dekat ke tujuan saya: Sungai Stour.
Tujuan saya ke sana adalah untuk melihat biwara. Biwara — atau beaver dalam bahasa Inggris — adalah pengerat pembuat bendungan yang kerap disangka berang-berang. Padahal berang-berang adalah otter, karnivora berekor silindris.
Semalam, Ella bercerita tentang ketidakberuntungannya. Berkali-kali ia menyusuri Sungai Stour di tengah kota Canterbury, berharap melihat biwara secara langsung, tetapi satwa itu tak pernah muncul di hadapannya. Dave lalu membuka Google Maps dan menunjuk lokasi yang menurutnya adalah titik paling tepat untuk melihat biwara.
“Lihat di percabangan sungai ini. Mereka selalu ada di sana sesaat setelah matahari terbenam,” katanya yakin.
Jam di smartwatch saya menunjukkan pukul 17.14.
Saya harus bergegas. Dari halte, saya berjalan melewati Westgate, belok kiri mengikuti alur Sungai Stour, hingga tiba di parkiran Sainsbury Store, tempat yang direkomendasikan Dave.

Di Titik Percabangan
Saya sampai di titik percabangan sungai pukul 17.35, sedikit terlambat dari perkiraan.
Dengan cermat, saya mengamati permukaan air, mencari tanda-tanda keberadaan biwara. Namun, yang ada hanyalah aliran sungai yang tenang, membuat kecemasan mulai menyelinap.
Apa saya akan bernasib sama seperti Ella? Apa saya juga akan gagal melihat biwara?
Apalagi ketika saya menyadari bahwa area yang ditunjukkan Dave di peta membentang ratusan meter panjangnya. Jika saya berdiri di tempat yang salah, mungkin saya tak akan melihat apa-apa.
Lalu, di tengah kecemasan itu, saya melihat seorang pria tua berdiri di tepi sungai. Ia mengenakan jaket dan ransel The North Face. Wajahnya tampak tenang, menatap aliran sungai seolah mengerti setiap gerakannya.
Dalam hati, saya langsung yakin: dia juga sedang menunggu biwara. Dan lebih dari itu, saya merasa dia adalah orang yang tepat untuk ditanyai. Mungkin dia “The Old Man with Thermal Scope” yang diceritakan Emily.
“Do you also come to see the beaver?” tanya saya.
“Yes. Almost every day,” jawabnya ramah.
The Old Man with Thermal Scope
Siang tadi, Emily menceritakan pengalamannya bertemu “The Old Man with Thermal Scope” saat menunggu biwara muncul.
Menurutnya, pria ini tidak hanya memberi tahu di mana dan kapan biwara akan terlihat, tetapi juga meminjamkan teropong termalnya, agar mereka bisa mengamati hewan itu dalam gelap.
Saya dan teman-teman sepakat betapa beruntungnya Emily bisa bertemu dengannya.
Namun, saat ini, tampaknya saya yang beruntung.
“I am your best chance if you want to see the beaver,” katanya, ketika saya bertanya di titik mana dan kapan tepatnya mereka akan muncul.
Dengan percaya diri, ia menunjuk ke semak di bawah sebuah pohon besar di seberang sungai, lalu ke semak lain sekitar lima meter dari sana. “Mereka akan berenang dari sana ke sana, tepat pukul 17.45.”
Ia melanjutkan dengan nada tenang namun penuh wawasan. “Biwara adalah hewan teritorial. Ada dua individu dewasa dan dua atau tiga anaknya yang tinggal di sini. Saya pernah membuat film tentang mereka. Saya punya lebih dari 150 video.”
Saya jadi teringat video tawuran antara kelompok biwara mempertahankan teritorinya. Semakin lama mendengarnya berbicara, saya mulai curiga — siapa sebenarnya pria ini?
Melihat biwara
“Where are you come from? Nepal?”
“Indonesia.” Jawab saya.
“Saya dapat cakap Bahasa Indonesia. Saya tinggal di sana 7 tahun”. Katanya menimpali.
Meskipun terdengar cukup fasih dan alami, kalimat dia dalam bahasa Indonesia di sore itu hanyalah dua kalimat itu. Selebihnya, dia bicara dalam Bahasa Inggris. Saya hendak bertanya lebih lanjut. Namun, ada hal lain yang lebih menarik muncul.
Seekor biwara muncul dari semak, berenang mengikuti arus sungai, dan kembali bersembunyi di semak yang lain, sejauh lima meter dari semak pertama.
Muncul dan menghilang di lokasi yang tepat ditunjuk pria tua tadi.
Tak ingin kehilangan momen, saya mengambil ponsel di saku jaket dan mulai merekam biwara yang sedang berenang itu.
“Look at your watch”.
Saya tidak melihat jam tangan, tapi indikator jam di ponsel.
Pukul 17.45. Tepat seperti perkiraannya.
Belum habis kekaguman saya, biwara kedua muncul berenang di sisi seberang sungai di depan saya. Buru-buru saya arahkan kamera ponsel saya untuk merekamnya.
“(Biwara) yang tadi adalah jantan, dan yang ini yang betina. Now that the two of them has come out. It’s time to move.”
“Follow me”.
Ratu Nevertiti
Sambil berjalan menyusuri sungai, saya bercerita mengenai siapa saya dan mengapa saya berada di Canterbury. Dia tampak sedikit melebarkan bibir, mengangkat alis dan memiringkan kepalanya, tanda sedikit kaget begitu mendengar nama lengkap saya.
“Speaking of University of Kent, I used to be Professor Emeritus in there.
Do you know Nevertiti, the Egyptian Queen, Mr. President?”
Kami menyeberangi jembatan kecil yang hanya muat untuk berjalan seorang. Sekarang, kami berpindah di sisi sungai yang lain.
Berseberangan dengan area parkir, sisi tempat kami berjalan ini adalah sebuah pulau, atau delta tepatnya.
Dia berhenti dan menunjuk sebuah sisa batang pohon yang tumbang karena aktivitas biwara.
“That is Nevertiti” katanya pelan.
Apa yang dia sebut dengan Nevertiti adalah sebuah sisa batang pohon yang tumbang karena aktivitas biwara. Di sisa batang itu, biwara membuat gigitan yang simetris, melingkar di bagian tengah, membentuk leher Nevertiti, dengan batang yang utuh sebagai badan dan kepalanya.

“They cut the trees for diffeent reasons.”
Dari penjelasannya, saya jadi sedikit tahu tentang biwara. Mereka memotong batang besar, memakan cabang yang lebih kecil, dan menggunakan sisanya untuk membangun sarang. Kadang, mereka memotong pohon tanpa menggunakannya, membiarkan pohon lain tumbuh menggantikannya.
Teropong Termal
Setelah mengucap selamat tinggal kepada Nevertiti, kami meneruskan perjalanan kami mengikuti jalan setapak berkonblok di sepanjang sungai.
Hari mulai gelap. Saya sudah tidak bisa melihat wajah pria tua itu dengan jelas lagi. Namun kami masih bercakap, meski setengah berbisik.
“You said that you are working with DICE, right? You know Bob Smith?”
“I was his PhD supervisor. “
Boom. Satu lagi fakta terungkap soal bapak tua ini.
Prof. Bob Smith adalah mentor saya selama seminggu ini, dan rencananya akan bekerja sama dalam sebuah proyek selama dua tahun ke depan. Betapa beruntungnya, saya melakukan pengamatan satwa dengan mentor of my mentor.
“Look at that bush”, katanya. Dia berhenti, memandang sisi seberang sungai dan menyerahkan teropong termalnya.
Menggunakan teropong itu, saya bisa melihat ada sebuah tumpukan kayu yang berwarna lebih cerah, menandakan tumpukan itu memiliki suhu yang lebih panas daripada sekitarnya. Menurut penjelasannya, tumpukan kayu itu belum lama dibangun oleh biwara.
Kami berhenti beberapa kali, bergantian menggunakan teropong termal untuk melihat dan mengamati biwara berenang di sungai. Si jantan dewasa itu nampak menyelam dan kembali berenang di permukaan. Seolah tahu dan sengaja pamer keberadaannya kepada kami.
Saya menggunakan teropong termal ini dengan sangat hati-hati.
Bahkan sedikit tegang setiap kali dia menyodorkannya ke depan saya. Hanya dengan memegang dan melihat kejernihan tampilannya, saya tahu persis saya harus merogoh tabungan cukup dalam jika saya merusakkan benda ini.
The Last Stop
Kami berhenti di dekat bangku di pinggir sungai. Di sebelah bangku itu, ada sebuah sisa batang pohon, berikut tumbangannya.
Ini adalah keterkejutan saya untuk kesekian kalinya malam ini. Betapa tidak, pohon dengan diameter sekiar 50 cm tu tumbang akibat aksi biwara ini.
Beberapa saat kemudian, biwara jantan datang mendekati batang pohon dan mulai makan.
Biwara ini tampak seperti bola hitam yang sangat besar di malam itu. Dia nampak jelas karena kami hanya berdiri sekitar 5 meter darinya. Dan karena langit malam itu sangat cerah, meskipun suhu mencapai nol derajat celsius. Bukan suhu yang ramah untuk manusia tropika seperti saya.
“Can we move any closer?” Saya ingin melihat biwara lebih dekat lagi.
“I am afraid we can’t”, jawabnya.
Jalan setapak ini bukanlah jalan yang sepi. Dalam semenit, setidaknya ada satu hingga tiga orang yang berjalan, melewati biwara yang sedang makan ini.
Pada awalnya, dia bersembunyi ke dalam air setiap ada orang yang lewat. Namun lama-lama dia tidak lagi melakukannya, dan tetap makan. Mungkin dia merasa aman karena orang-orang yang lewat tadi juga tidak peduli atas keberadaannya.
Selain kami dapat melihat wujudnya, kami juga dapat mendengar suara makan dengan sangat jelas. Saya agak kesulitan mendeskripsikan suaranya. Suara itu seperti bunyi “tektektek” (huruf e dibaca seperti huruf e pada kata tepat) secara teratur dengan frekuensi yang rapat.
‘Biwara paling aktif di sore hari, lalu aktivitasnya menurun hingga tengah malam, sebelum kembali aktif antara pukul 03.00–04.00 pagi. Saya memasang kamera termal selama empat malam dan membuat grafik aktivitas mereka.”
Itu mungkin adalah penjelasan terakhir darinya terkait biwara. Waktu menunjukkan pukul 07.02. Tidak terasa satu setengah jam kami melakukan pengamatan bersama-sama.
Ini adalah titik terakhir pengamatan. Beberapa meter ke arah sungai mengalir ada tanggul buatan yang membuat biwara itu tidak bisa melintas.
Si jantan tadi juga sudah kembali berenang melawan arus, kembali ke arah rumahnya.
Melanjutkan percakapan
“What were you doing back then, in Indonesia?” Saya memulai percakapan kembali, masih di titik terakhir pengamatan kami.
“Saya dulu bekerja di Indonesia, dengan WWF, tahun 1978 hingga 1984. Tinggal di Bogor selama di sana.”
“Oh, jadi bapak ini pernah jadi orang Bogor juga rupanya,” batin saya.
“Saya meneliti orangutan, burung-burung, dan beberapa satwa lainnya juga.”
“Oh, jadi bapak ini bukan cuma ahli biwara saja ya”.
“Saya membantu Departemen Kehutanan menyusun perencanaan area konservasi di sana.”
“Oh, jadi bapak ini pekerjaannya mungkin mirip dengan apa yang kami kerjakan”.
“Saya juga menulis buku Birds of Borneo, Jawa, Bali and Sumatra,” lanjutnya santai.
“Oh, jadi bapak ini.. Wait, Bapak ini….” Batin saya menjerit.
“Prof. Mackinnon?” tanya saya ragu.
“Yes. John Mackinnon”, jawabnya santai.
Saya tercengang.
Saya mungkin belum lama bergelut di dunia konservasi. Namun, nama itu jelas bukan nama yang asing di benak saya.
Seorang ilmuwan dan peneliti terkenal di dunia konservasi satwa liar. Banyak menulis tentang biodiversitas Indonesia. Orang yang telah banyak berkontribusi terhadap konservasi Indonesia.
Bukunya, menurut beberapa teman, telah menjadi semacam kitab suci dalam identifikasi jenis burung di lapangan.
Cara surveinya, di lapangan biasa disebut metode MacKinnon. Diamalkan dalam survey burung dan diadopsi untuk survey beberapa spesies lainnya.
Percakapan kami berlanjut.
Saya semakin kagum.
Saya tak menyangka bisa mendapat kuliah langsung tentang ekologi biwara dari seorang pakar sekelas dia.
Bukan hanya itu saja, kami juga melakukan pengamatan bersama!
One on one.

Venus dan kisah jari kelingking
Kami kembali berjalan, melawan arah arus sungai, ke arah dari mana kami datang. Seperti si biwara jantan. Bedanya, dia melewati sungai, kami menyusuri jalan.
“Look, Venus! If you can identify, you can watch each of seven planets tonight”.
Saya menengadah. Benar juga. Mungkin tadi saya terlalu fokus mengamati sungai dan biwara, atau masih terkesiap meresapi pengalaman yang tak terlupakan. Langit nampak sangat cerah dan bintang beserta benda celestial lainnya seperti menari memamerkan kecantikannya.
Dan venus! Ini mungkin adalah venus terbesar yang pernah saya lihat di sepanjang hidup. Tentu ukuran venus akan selalu sama. Tapi pasti tahulah ya, apa maksud saya.
“Well, I think this is where we part.” Katanya begitu sampai di pertigaan.
Kami akan berpisah. Prof. Mackinnon akan belok ke kanan, dan saya akan mengambil jalan lurus untuk kemudian belok ke kiri, mampir di Sainsbury.
Kami berjabat tangan cukup lama di bawah lampu taman. Dia memutar pergelangan tangannya ke atas, seperti sengaja memperlihatkan sesuatu.
Dia tidak punya jari kelingking! Jari kelingkingnya tidak ada!
Seolah tahu saya penasaran, ia melihat saya dan tertawa kecil. “Digigit babirusa di Sulawesi,” katanya ringan.
Saya terkejut. Serius?
“Ya. Ada tukang kayu yang menemukannya, lalu kepala desa menyimpannya dalam botol dengan alkohol”
Ia terkekeh, lalu menambahkan, “Bahkan Bupati Bitung pun tertarik dan memintanya dari kepala desa.
Saya tak akan heran kalau jari itu sekarang ada di Manado, atau bahkan di Bogor!”
Saya ikut tertawa.
Namun, di balik nada tawa itu, saya menyadari satu hal — pria ini telah dan masih menjalani kehidupan penuh petualangan dan dedikasi yang jarang dimiliki orang lain.
Senja terakhir di Canterbury
Hari semakin gelap seiring dengan perjalanan saya yang hampir berakhir. Saya menatap permukaan sungai, dan sesekali menatap Venus di atas sana.
Perasaan saya campur aduk. Jelas senang, juga bersyukur. Sore ini, saya hanya berniat melihat biwara, cari makan malam, lalu pulang. Tak pernah terbayang, saya justru bertemu, dan belajar secara langsung dengan seorang legenda konservasi satwa liar.
Besok saya harus kembali ke London, lalu kembali ke Indonesia dua hari kemudian. Ada banyak hal yang akan selalu saya ingat tentang kota ini, tetapi pengalaman sore ini akan selalu berada di urutan tertinggi.
NB: Jika penasaran dan juga sebagai sebuah bukti, berikut foto beliau. Saya ambil ketika masih mengenalnya sebagai The Old Man with Thermal Viewer. Awalnya, beliau menolak untuk diabadikan. Sampai akhirnya luluh, karena saya tidak mudah menyerah — dan karena saya sedikit memaksa.

Bukti sahih yang lain:
Foto yang saya ambil dari sumber ini. Nampak di foto pertama, beliau tidak memiliki jari kelingking kanan. Jari itu masih tertinggal di Bitung. Saya tahu ini dari sumber pertama.

Catatan tentang Venus yang besar malam itu:
Saya tidak sedang lebay maupun berhalusinasi.
Ukuran Venus di langit selalu ditentukan jarak antara Bumi dan Venus yang sedang berubah sepanjang orbitnya — jadi secara teknis, diameternya memang tak berubah karena lokasi saya di Bumi.
Tapi malam itu memang Venus sedang dalam fase dan posisi yang membuatnya nampak luar biasa mencolok dan ‘besar’. Itu karena sekitar waktu itu, Venus mendekati elongasi maksimumnya — sudut terjauh dari Matahari di langit malam. Saat saya cek, Greatest Eastern Elongation Venus terjadi di 24 Februari, sedangkan malam itu tanggal 28 Februari. Dekat-dekat lah ya.
Di momen seperti ini, Venus berada cukup dekat dengan Bumi dan menampilkan fase sabit tebal yang secara visual memberikan kesan ‘besar’ dan terang, apalagi ketika langit benar-benar cerah tanpa polusi cahaya.
Kombinasi atmosfer yang bersih, posisi rendah di langit yang memperkuat ilusi optik, dan kondisi Venus yang sedang optimal membuatnya benar-benar mencuri panggung malam itu.



