Kita selalu diminta untuk mengikuti keingintahuan kita dan menjawab semua pertanyaan yang muncul bersamanya. Namun, menurut saya ada satu pertanyaan yang sebaiknya tak perlu kita cari jawabnya:
“Mengapa kita jatuh cinta?”
Tak apalah untuk kasus ini, sementara kita lupakan nasihat Simon Sinek soal memulai segala sesuatu dengan menemukan alasannya terlebih dahulu.
Romeo dan Juliet tidak perlu tahu mengapa mereka saling jatuh cinta. Mereka hanya tahu bahwa cinta mereka begitu kuat, begitu mendesak, hingga tak memberi ruang bagi logika untuk ikut campur.
Jika Rahwana sempat memikirkan alasan ia mencintai Sinta, mungkin ia akan jadi ragu untuk melakukan aksinya.
Dan pada akhirnya, ia justru kehilangan satu-satunya kesempatan ketika, di Taman Argasoka, Sinta mulai memahami luka-luka yang membentuk dirinya, dan diam-diam mulai menaruh simpati padanya.
Ada yang lebih penting
Barangkali, yang lebih penting daripada alasan mengapa kita jatuh cinta adalah kepada siapa dan bagaimana kita merespon perasaan itu.
Bukan sebuah rahasia lagi, jatuh cinta itu bisa terjadi pada siapa saja, kepada siapa saja dan kapan saja. Seorang pria dapat merasakan jatuh cinta yang luar biasa pada seorang wanita ketika mereka berpapasan di lift atau di peron stasiun kereta.
Bayangkan: pria itu berdiri sendirian, matanya lelah oleh dunia, pikirannya sibuk oleh hal-hal yang tak selesai. Lalu wanita itu lewat—dan entah kenapa— langkahnya seperti musik indah yang perlahan naik nada-nadanya. Tatapan mereka bertemu. Dunia seketika mengecil, suara stasiun meredup. Dan lewat isyarat yang hanya mereka pahami berdua, mereka berkata, “aku tahu, kamu merasakannya juga.”
Dan mereka berdua, tanpa aba-aba, jatuh cinta. Sejatuh-jatuhnya.
Sekarang bayangkan: pria itu sudah beristri. Dan wanita itu pun istri dari pria lain. Keduanya tahu apa yang sedang mereka rasakan, tapi juga tahu persis apa yang sedang mereka pertaruhkan.
Kadang hidup memang lucu. Ia memberikan perasaan yang tulus pada waktu yang salah, dan mempertemukan dua orang yang tepat di kondisi yang sepenuhnya keliru.
Ah..sudah, ya. Cukup sampai di sini saja kita berandai-andai.
Jatuh cinta itu rumit
Jatuh cinta itu sebenarnya proses yang rumit, meski bisa datang dari hal-hal yang sederhana.
Penelitian di bidang neurobiologi menunjukkan bahwa proses jatuh cinta melibatkan reaksi biologis yang kompleks. Otak melepaskan hormon seperti dopamin, oksitosin, dan serotonin yang memengaruhi rasa senang, keterikatan, dan euforia.
Dan yang menarik, dengan memahami prosesnya, ternyata perasaan jatuh cinta juga bisa direkayasa.
Psikolog Arthur Aron pernah melakukan sebuah eksperimen terkenal: ia meminta dua orang asing untuk saling menatap dan menjawab 36 pertanyaan pribadi dalam suasana intim dan terkendali. Hasilnya? Banyak dari mereka merasa saling terhubung. Beberapa bahkan benar-benar jatuh cinta.
Eksperimen ini kemudian banyak diadaptasi dan dipopulerkan, salah satunya dalam video klip lagu Wildfire dari Seafret. Dalam klip itu, beberapa pasang orang yang awalnya asing perlahan-lahan terhubung karena rangkaian diskusi yang tampaknya sepele, tapi mengundang emosi, menciptakan kedekatan. Kalau sempat, tontonlah. Bagus.
Konsep serupa juga menjadi fondasi cerita dalam film Korea Cyrano Agency. Lee Byong Hun adalah mantan aktor teater yang mendirikan agensi khusus untuk membantu kliennya membuat orang jatuh cinta. Ia dan timnya merekayasa pertemuan, menulis dialog, mengatur cahaya dan suasana—semuanya agar cinta terasa muncul secara alami. Padahal di balik itu, setiap momen adalah naskah yang ditulis rapi.
Proses-proses ini bisa saja berhasil. Meski begitu, kita belum tahu persis apa risikonya.
Yang jelas, Camelia Malik sudah lebih dulu mengingatkan kita semua: “kalau cinta sudah direkayasa”, maka “budi yang kaya, adat budaya, tak lagi terjaga.”
Dan seperti biasa, kadang lagu dangdut lebih jujur dari teori akademik mana pun.
Tanpa aba-aba
Tapi dari semua cara manusia memahami cinta, ada satu hal yang tetap sulit dijelaskan: bagaimana rasa itu muncul begitu saja, tanpa aba-aba.
Meski saya orang Jawa tulen, saya bukan penganut pepatah “witing tresna jalaran saka kulina” alias cinta tumbuh karena terbiasa.
Saya malah lebih condong untuk setuju dengan kata-kata Kahlil Gibran dalam bukunya The Broken Wings:
> “It is wrong to think that love comes from long companionship and persevering courtship. Love is the offspring of spiritual affinity, and unless that affinity is created in a moment, it will not be created for years or even generations.”
Cinta, menurut Gibran– eh, Kahlil–, bukanlah hasil dari kebersamaan yang panjang atau pendekatan yang gigih, melainkan buah dari kesesuaian spiritual yang muncul seketika.
Jadi, jatuh cinta itu bukan karena terbiasa, tetapi karena adanya momentum– yang seringkali tidak dapat diperkirakan seperti apa bentuknya dan kapan datangnya.
Mungkin itu pula yang membuat sebagian orang begitu sulit jatuh cinta, sementara yang lain merasa begitu mudahnya.
Ada orang-orang yang merasa “belum menemukan orang yang tepat” meskipun secara logika orang itu ada di sekitarnya–tepat di depan matanya. Atau mereka yang sudah menemukan orangnya, tapi merasa belum menemukan “klik” untuk beranjak ke tahap hubungan yang selanjutnya.
Sebaliknya, ada juga manusia yang bisa langsung jatuh meski baru pertama berjumpa. Aktor Michael Caine, contohnya. Dia bahkan langsung memutuskan wanita cantik yang pertama dia lihat di sebuah iklan kopi di televisi untuk menjadi istrinya, dan langsung terbang ke Brazil untuk mencarinya.
Untuk kasus ini, saya termasuk tipe yang kedua.
Oh, tetapi jangan dibayangkan bahwa hubungan seperti ini bisa berjalan tanpa rintangan, sebegitu mulusnya. Jangan pula dibayangkan cinta seperti ini tidak pernah ada pasang surutnya.
Dengan yakin saya bilang bahwa saya hanya sedang beruntung saja.
Karena meskipun saya jatuh cinta sedemikian mudahnya, saya berkali-kali jatuh cinta pada orang yang sama.



