Dalam berbagai literatur, kearifan lokal dan jargon-jargon motivasional, kita sering mendengar kalimat bijak dalam berbagai versi tapi dengan makna serupa:
“Kita harus bisa mengalahkan diri sendiri.”
Tapi masalahnya, jika benar kita melawan dan kemudian mengalahkan diri sendiri, lalu yang menang siapa?
Tolong jangan menganggap ini hanya permainan kata-kata saja. Karena bahkan kata budi bisa bermakna hal yang sangat berbeda tergantung kata apa yang mengikutinya.
Budi pekerti berarti perilaku kebajikan luhur. Tapi Budi Susetyo bisa jadi adalah bapak-bapak paruh baya tetangganya Iman Budiman. Jadi, jangan remehkan kekuatan kata, Bung!
Oke. Kembali ke topik kita di awal.
Saya pikir frasa mengalahkan diri sendiri inilah yang menjadikan masalah yang ada dalam diri kita tak pernah pergi atau tak pernah selesai.
Sebab, siapa sih yang suka menjadi pihak yang kalah?
Ada aku dalam diriku
Saya jadi teringat konsep “Ada aku dalam diriku”—kalimat yang pertama kali saya baca dari twit Sujiwo Tejo. Konsep itu secara sederhana berarti: diri kita bukan satu aku yang utuh, tapi paduan dari banyak aku yang barangkali sering tak sependapat.
Ada aku yang ingin terlihat kuat, tapi juga aku yang mudah patah hati. Ada aku yang disiplin, dan aku yang suka menunda. Sering kali mereka saling bertolak belakang. Tapi kadang, mereka juga bisa duduk berdampingan, mencari keseimbangan.
Tentunya konsep ini tak sendirian.
Dalam psikologi Carl Jung, dikenal istilah shadow self—bagian dari diri kita yang disembunyikan karena dianggap gelap, memalukan, atau “tidak ideal”. Tapi seperti bayangan, ia tak pernah benar-benar hilang.
Jung percaya, hanya dengan mengakui dan mengintegrasikan sisi gelap itu kita bisa tumbuh menjadi manusia yang utuh. Bukan dengan menaklukkannya, apalagi menganggapnya musuh.
Mungkin kalian juga pernah mendengar konsep nafs dalam tasawuf.
Di sana, (nafs) jiwa manusia tidak dilihat sebagai satu entitas tunggal, melainkan bertingkat-tingkat dan berlapis-lapis.
Menariknya, tidak ada satu pun dari tingkatan ini yang bisa “diloncati”. Setiap lapisan nafs adalah bagian dari proses penyucian diri, bukan musuh yang harus dibasmi atau dihindari.
Dan mungkin, justru di sinilah kita sering keliru.
Bagaimana sebaiknya
Kita terlalu sibuk ingin menjadi versi terbaik dari diri sendiri, sampai-sampai kita lupa bahwa versi yang sekarang pun—yang lemah, rapuh, takut—juga bagian dari perjalanan itu.
Maka dari situ saya meyakini, frasa mengalahkan diri sendiri ini enggak pas. Kurang tepat. Meski saya dan kalian paham maksudnya dan memahami konteksnya.
Tapi kembali lagi, kita tak boleh meremehkan kata. Maka saya usulkan kita ganti jadi ini saja: kita harus bisa mendamaikan diri sendiri.
Garis bawahi bahwa saya menggunakan bentuk kata “mendamaikan”, bukan “berdamai”.
Dengan begitu, konsepnya pun bergeser.
Dari menang dan kalah, menjadi soal takaran dan ukuran. Soal bagaimana kita belajar secara bergantian memadukan, dan menyelaraskan aku yang ini dan aku yang itu, dalam berbagai situasi dan kondisi.
Dan dengan cara ini, setiap aku dalam diriku, setiap lapisan jiwa, bahkan our shadow self sekalipun, akan merasa diterima. Tidak sedang disalahkan. Tidak sedang dikalahkan.
Tapi diakui. Diberi ruang. Disediakan tempat untuk pulang.
Sebab, kalau bukan kita sendiri yang menerima mereka—siapa lagi?



