Dari North Finchley ke Emirates Stadium: Sehari Menjelajah London Utara

Pagi itu, saya dan Hendy memutuskan untuk berjalan-jalan di North Finchley, salah satu hub di bagian utara kota London.

Hendy menjelaskan bahwa Greater London terbagi atas beberapa “layer”, dan di setiap layer tersebut terdapat “hub”—semacam kota kecil yang menjadi pusat kegiatan.

Hub biasanya dilengkapi pusat perbelanjaan serta berbagai layanan lain dengan aktivitas yang lebih ramai. Karena banyaknya hub tersebar di berbagai lokasi, tinggal di mana saja di London akan terasa serupa dalam hal kemudahan layanan maupun kualitas hidup. Sistem ini juga memastikan pemerataan pelayanan sekaligus menyeimbangkan distribusi penduduk.

Peta yang menunjukkan lokasi North Finchley di Greater London

Ini adalah kesempatan pertama saya untuk melihat lebih banyak sudut di pinggiran kota London, sekaligus memahami cara hidup di sini. Kami naik bus tingkat dan langsung memilih duduk di bangku paling depan di lantai atas.

Dari sini, pemandangan kota terasa berbeda dengan apa yang saya bayangkan—jalan raya yang sepi, bangunan seragam yang nampak klasik, dan trotoar lebar yang lengang dengan sedikit pejalan kaki.

“Ini masih pagi dan hari ini juga hari terakhir libur sekolah”, kata Hendy menjelaskan, ketika saya bertanya apakah tempat ini selalu sesepi ini. “Libur di musim dingin, orang-orang lebih memilih untuk tinggal di rumah.”

Kami turun dari bus dan mulai berkeliling jalan kaki dengan ritme santai, untuk menikmati suasana, dan juga karena putra Hendy yang berumur hampir 6 tahun ikut bersama kami.

Selain cuacanya yang dingin, kesan pertama yang saya rasakan adalah keteraturan dan keindahan. Di sepanjang jalan, bangunan ruko tampak seragam.

Hal serupa saya dapati ketika memasuki area permukiman, di mana bangunan yang biasa disebut “mews” juga dibangun dengan desain seragam. Pemerintah kota London menerapkan aturan dan larangan renovasi yang cukup ketat, demi mempertahankan tampilan kota agar tetap sama estetiknya seperti dua ratus tahun silam.

Foto yang saya ambil di North Finchley. Kiri: kotak telepon yang masih berfungsi. Kanan dari atas ke bawah: bus khas London dengan latar belakang suasana ruko yang sepi; pemandangan permukiman dan parkir mobil di pinggir jalan; salah satu mews di North Finchley

Misi pertama: membeli kartu SIM

Misi pertama saya adalah membeli kartu SIM lokal. Saya memilih Vodafone, berharap koneksi internetnya bagus, tetapi ternyata sinyal 5G tidak selalu stabil, bahkan di beberapa tempat justru tidak ada sinyal sama sekali. Sebuah catatan penting untuk perjalanan berikutnya: mungkin perlu mempertimbangkan provider lain.

Saya memilih hanya membeli kartu perdana, dengan asumsi pembelian paket internet dapat dilakukan via aplikasi nantinya. Ternyata hal ini hanya menambah keruwetan saja. Saya perlu mengganti lokasi negara di akun Google Play untuk memasang aplikasi bawaan kartu. Sesuatu yang nampak sederhana ini ternyata terbukti menjadi masalah ketika -tidak tahu mengapa- pengaturan ini tidak aktif di akun saya. Sebuah catatan penting yang lain: belilah kartu sekalian beli paket internetnya.

Gara-gara tidak berjalannya pengaturan soal lokasi negara ini, saya juga tidak bisa melakukan pemasangan Google Pay. Aplikasi ini sebenarnya bisa digunakan agar semua pembayaran cashless bisa dilakukan langsung dengan tap in menggunakan handphone, asal sudah memiliki ditur NFC. Karena hal ini tidak berhasil saya lakukan, saya menggunakan kartu Jenius yanh memiliki fitur NFC untuk melakukam pembayaran.

Dalam perjalanan, kami berhenti di sebuah minimarket untuk beli permen. Sekadar tips, permen mint benar-benar membantu untuk melegakan tenggorokan yang selalu kering karena pengaruh suhu yang dingin. Di toko itu, Hendy memperlihatkan cara melakukan pembayaran di kasir mandiri.

Mesin kasir mandiri ini bentuknya mirip ATM, namun memiliki papan lebar di sisi kiri dan kanan. Cara penggunaannya juga mudah. Letakkan barang belanjaan di tatakan sebelah kanan, pindai barang, dan pindahkan ke tatakan sebelah kiri.
Tatakan sebelah kiri memastikan jumlah dan jenis barang belanjaan, pemindai tidak berfungsi jika terjadi ketidakcocokan. Jika semua cocok, layar akan menampilkan total harga yang harus dibayar. Terakhir, tinggal tap untuk melakukan pembayaran. Bedanya, Hendy membayar menggunakan hape-nya, sedangkan saya menggunakan kartu.

Gambaran alat pembayaran mandiri. Sumber: retailgazette.co.uk https://www.retailgazette.co.uk/wp-content/uploads/b70bc8665cad6bc998f2a1b643109d38-1.jpg.webp

Sholat Jumat dan Masjid pertama yang saya kunjungi

Menjelang siang, kami bergegas menuju masjid untuk shalat Jumat. Ada rasa penasaran—seberapa ramai masjid di sini? Apakah suasananya akan sama seperti di rumah?

Saya mengunjungi Finchley Mosque. Hal pertama yang menarik perhatian saya adalah bangunan masjid, yang tak terlihat seperti masjid. Mungkin saya saja terlalu terbiasa dengan masjid dengan kubah dan menara. Bangunan masjid nampak seperti bangunan tiga lantai biasa.

Bangunan Finchley Mosque yang saya ambil dari foto di Google Map. Sedang direnovasi ketika saya datang jadi tidak bisa mengambil foto bagus.

Kami datang lebih awal demi mendapat tempat. Saya bertemu dengan orang-orang penuh kehangatan yang memberi salam dan menanyakan kabar meskipun tidak kenal. Beberapa orang bahkan memanggil saya “Brother”. Saya lumayan kaget melihat betapa penuhnya masjid. Bahkan, shalat Jumat dilakukan dalam dua kloter karena banyaknya jamaah.

Sebelum adzan, ada ceramah dari Imam Osama, yang mengingatkan tentang datangnya bulan Ramadan yang tinggal seminggu lagi. Ia berbicara tentang bagaimana setan selalu menggoda manusia melalui nafs (nafsu) yang dimilikinya. Setan tidak peduli dosa apa yang akan diperbuat manusia- berzina, berjudi, berbohong, dosa besar, dosa kecil- sepanjang manusia tersebut melakukan dosa.

Sesuatu yang terdengar sederhana, tetapi terasa dalam di tengah perjalanan saya di negeri orang.

Setelah shalat, kami kembali ke rumah karena Hendy ada pertemuan daring dengan pembimbingnya. Di perjalanan pulang, saya berhasil menggunakan kartu saya untuk membayar bus.

Jalan-jalan sendiri ke Stadion Emirates

Bermodal sudah punya kartu untuk alat pembayaran dan sedikit pengalaman, saya jalan-jalan sendiri sore itu.

Mengingat waktu yang mepet, saya memilih lokasi yang dekat-dekat saja. Namun bukan berarti itu tidak spesial: Emirates Stadium. Markas kesebelasn Arsenal ini hanya 30 menit dari rumah Hendy, satu kali naik bus.

Bus yang akan membawa saya ke Emirates Stadium

Di bus, saya baru teringat bahwa saya hanya waktu dua jam untuk menyusun formasi Fantasy Premier League. Mencoba peruntungan, saya memakai chip Assistant Manager, dan memasang Arteta, pelatih Arsenal. Siapa tahu bawa hoki gara-gara datang ke markasnya.

Ternyata mencari informasi dan menyusun formasi membuat saya terlena dan lupa waktu. Selesai menyusun formasi, saya membuka Google Map dan segera menyadari bahwa saya kebablasen, melewatkan bus stop di mana saya seharusnya turun. Dari halte ini, saya berjalan selama tiga belas menit untuk sampai ke Emirates Stadium.

Beberapa foto yang saya ambil dari bus dalam perjalanan menuju Emirates Stadium

Gerimis kecil turun begitu saya sampai, menambah gigil tubuh saya yang sedari tadi sudah kedinginan. Sial sekali, payung yang saya siapkan dari Indonesia tertinggal di rumah Hendy. Gerimis ini tentu cukup mengganggu saya untuk mengeksplorasi setiap sudut stadion. Tetapi setelah berteduh sebentar, gerimis ini mulai bisa reda.

Saya kemudian memuaskan diri untuk mengambil foto dan selfie di setiap sudut Stadion. Cukup lama saya mencari sudut kamera yang pas untuk menunjukkan gambaran stadion dengan tulisan Emirate Stadium yang penuh, namun tetap estetik.

Karena saya datang sendiri, saya perlu mencari lokasi yang pas untuk meletakkan smartphone sebelum melakukan selfie. Titik ini harus pas dengan menyesuaikan jarak saya berdiri. Timer kamera menjadi teman setia. Tips tambahan lainnya: bawa tripod kecil jika jalan-jalan sendiri.

Selfie di depan Emirates Stadium

Selain berfoto dengan latar belakang stadion, saya juga tidak lupa foto dibeberapa patung ikonik: Dennis Bergkamp mengontrol bola di udara, selebrasi Thierry Henry setelah mencetak gol di gawang Tottenham Hotspurs dan Arsene Wenger yang memamerkan tropi emas Invincible-nya. Beberapa foto saya kirimkan ke Surya, yang sejak siang meminta update foto.

Foto di patung- patung ikonik di Emirates Stadium

Highbury, mantan yang terasa spesial

Setelah puas, saya berjalan ke Highbury yang hanya berjarak sekitar lima menit jalan kaki dari Emirates. Ex- stadion Arsenal ini kini telah dibangun menjadi apartemen. Bagian tribun dibangun menjadi bangunan apartemen, sedangkan bagian lapangannya dijadikan taman. Karena merupakan bangunan private, di sini saya tidak leluasa untuk berkeliling dan mengambil foto.

Meskipun sudah banyak berubah, kunjungan ke Highbury ternyata terasa lebih emosional daripada ke Emirates. Mungkin karena kenangan masa kecil. Saya teringat momen-momen saat menonton pertandingan Arsenal di TV, melihat stadion ini penuh dengan suporter yang bergemuruh, dengan ciri khasnya: tribun yang sangat dekat dengan lapangan.

Kini, stadion itu tak lagi ada, tetapi jejak sejarahnya masih terasa. Saya membaca beberapa memoriam untuk mantan pemain dan juga suporter yang menambah rasa emosional.

Jalan-jalan ke Highbury Stadium

Balapan dengan Waktu: Menuju Masjid untuk Ashar

Setelah puas di Highbury, saya mengecek jam. Waktu Ashar hampir habis. Saya buru-buru mencari masjid terdekat melalui Google Maps, dan ternyata ada satu masjid sekitar 10 menit dari stadion.

Saya berjalan cepat—setengah berlari—dan tiba tepat waktu. Perjalanan ini terasa semakin heroik karena kaki saya mengalami kram ringan. Saya sampai di Masjid Holloway , sepuluh menit sebelum adzan. Masjid ini hanya dibuka menjelang waktu shalat, jadi saya beruntung masih bisa masuk dan menunaikan shalat Ashar sebelum adzan Maghrib berkumandang.

The Holloway Mosque, masjid terdekat dari Emirates Stadium

Setelah Maghrib berjamaah, saya segera kembali ke rumah Hendy. Baterai HP sudah di bawah 10%, dan tanpa HP, saya benar-benar tidak bisa kemana-mana.

Hari kedua ini mengajarkan saya banyak hal. Dari pengalaman naik bus sendiri pertama kali, membayar mandiri, merasakan suasana Jumat di negeri orang, hingga akhirnya mengunjungi dua tempat bersejarah bagi seorang penggemar sepak bola.

Saya juga menyadari bahwa di antara banyak klub lainnya, ternyata Arsenal (masih) punya tempat di hati saya. Surya, teman yang tadi meminta update foto menyebut saya fans. Tetapi saya lebih memilih menggunakan kata yang lain: pemerhati.

London masih punya banyak cerita, dan saya siap untuk petualangan berikutnya.

Saddam Hussein
Saddam Hussein
Articles: 137

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Link QQ88

Daftar QQ88

QQ88

slot gacor terbaru

QQ88