Langkah Demi Langkah Menyusuri London

Setelah dua hari beradaptasi dengan ritme London—dari transportasi hingga rutinitas harian—hari ketiga akhirnya saya dedikasikan sepenuhnya untuk menjelajah kota ini.

Langit mendung menyelimuti London sejak pagi, dan mungkin akan bertahan seharian. Udara terasa sama atau bahkan lebih dingin dari hari sebelumnya.

Kami tetap bersemangat menjelajah, dengan jaket yang selalu terpasang rapat. Suasana seperti ini justru membuat kota terasa lebih tenang dan hening.

Malam sebelumnya, kami sudah menyiapkan rencana. Hendy menyusun rute transportasi dan jalur jalan kaki paling efektif, agar bisa mengunjungi sebanyak mungkin tempat menarik dalam satu hari perjalanan.

Saya hanya punya satu permintaan: kembali ke Emirates Stadium di sore hari untuk merasakan atmosfer matchday. Kebetulan, hari ini Arsenal menjamu West Ham, derby kota London. Selebihnya, saya percayakan semuanya pada Hendy.

Kami memulai perjalanan dengan naik bus ke Stasiun East Finchley, lalu melanjutkan dengan tube Northern Line menuju Stasiun Embankment. Saat menunggu, saya sempat merekam kedatangan kereta lain dalam video slow motion dan mengirimkannya ke istri. Kali, anak kami yang berusia lima tahun, sangat menyukai bus dan kereta. Ia bahkan meminta saya mengirim video untuk setiap jenis bus dan kereta yang saya temui.

Tube atau kereta bawah tanah London

Embankment dan Cleopatra’s Needle

Setibanya di Stasiun Embankment, saya tak bisa tidak terkesan dengan suasananya. Untuk mencapai pintu keluar, saya harus naik tangga berjalan hingga dua level. Belakangan saya tahu, peron yang saya lewati berada lebih dari 30 meter di bawah permukaan tanah—salah satu yang terdalam di jaringan kereta bawah tanah London.

Keluar dari stasiun, saya disuguhi pemandangan khas kota besar: jalan raya dengan trotoar lebar dan beragam pengguna jalan—kendaraan bermotor, pesepeda, dan pejalan kaki. Kami berjalan kaki menuju Cleopatra’s Needle, sebuah obelisk kuno yang berdiri tegak di tepi Sungai Thames.

Bagi saya, obelisk ini memang tak begitu menarik secara visual. Namun dari sudut tertentu, ia menyajikan komposisi foto yang menarik: patung sphinx, aliran Thames, beberapa perahu, dan siluet London Eye di kejauhan. Mungkin yang paling menarik justru pertanyaannya: mengapa peninggalan berusia ribuan tahun dari Mesir Kuno bisa berada di sini?

Pemandangan Sungai Thames dari Cleopatras Needle. London Eye di seberang sungai nampak dari sini

Cleopatra’s Needle London adalah obelisk granit berusia lebih dari 3.000 tahun yang berasal dari kota Heliopolis, Mesir. Monumen ini dihadiahkan kepada Inggris pada abad ke-19 sebagai simbol hubungan diplomatik dan prestise kolonial. Kini, ia menjadi salah satu landmark bersejarah yang sering terlewatkan wisatawan, padahal hanya beberapa langkah dari Embankment Pier.

Cleopatra’s Needle

Kami melanjutkan perjalanan menuju Westminster Palace dengan berjalan kaki ke arah selatan. Sepanjang jalan, saya melihat berbagai ikon London: bus merah bertingkat, taksi hitam, dan boks telepon merah yang menjadi ciri khas kota ini.

Telepon ini masih aktif alias bisa dipakai. Kalau orang di foto ini ya jelas berpura-pura saja

Trotoar selebar sekitar lima meter benar-benar memanjakan pejalan kaki, yang mayoritasnya adalah wisatawan. Di sebelah kanan kami, jalan memiliki beberapa lajur, dan terdapat lajur khusus untuk pesepeda. Tak sulit menemukan pengendara sepeda di sini.

Jalur sepeda dan bus yang berhenti di lampu merah

Jangan lupakan Sungai Thames, yang mengalir di sisi kiri kami. Sungai yang membelah jantung kota London ini memberikan nuansa damai yang berbeda. Di sini terdapat Embankment Pier, sebuah dermaga wisata yang menawarkan pemandangan Sungai Thames dari atas kapal—mulai dari boat biasa hingga tipe cruise. Saya mengambil banyak foto, dan meminta Hendy memotret saya dari berbagai sudut.

Sungai Thames yang membelah London. Nampak di foto beberapa kapal yang melintas di bawah Jembatan Westminster

Big Ben, Westminster Palace, dan London Eye

Big Ben sudah nampak dari kejauhan. Kami bergantian mengambil foto dari berbagai sudut, dengan menara jam itu sebagai latar belakang. Banyak orang menggunakan istilah itu untuk menyebut keseluruhan bangunan atau menara. Sebenarnya, Big Ben adalah nama untuk lonceng besar di dalam Elizabeth Tower, bukan nama jam atau menaranya. Menara setinggi 96 meter ini terletak di bagian utara Westminster Palace, gedung parlemen Inggris. Sebuah simbol ikonik dari kota London selama lebih dari satu abad.

Di momen inilah saya benar-benar merasa ada di London.

Duduk santai menyimak London

Kami lalu berbelok ke Westminster Bridge untuk mendapatkan sudut pandang yang lebih luas, dan lebih banyak foto Big Ben dan Westminster Palace. Di sisi lainnya, pemandangan London Eye tampak lebih dekat. Saya memilih untuk tidak naik—melihatnya dari jauh sudah cukup, terutama karena harganya yang mahal.

Kami beruntung mendengar dentingan jam yang khas, yang menjadi suara standar untuk banyak jam dinding di dunia. Big Ben berdenting sebelas kali, tanda hari sudah cukup siang dan kami harus segera beranjak.

Westminster Palace dan Elizabeth Tower dengan Big Ben-nya. Foto diambil dari Jembatan Westminster
Bus merah, taksi hitam dan London Eye dalam satu frame. Saya menunggu cukup lama untuk mendapatkan momen foto ini.

Dari jembatan, kami berbalik ke arah timur, berjalan ke arah Buckingham Palace, melewati Westminster Palace dan St. James Park.

St. James Park: Mencicipi taman kota

London sering disebut sebagai ibu kota negara paling hijau di dunia. Google Maps dan pengamatan langsung saya mengaminkan hal itu. Terdapat setidaknya puluhan taman kota di ibu kota Inggris ini. Yang paling terkenal tentu saja Regent’s Park dan Hyde Park. Taman-taman ini bukan hanya ruang publik, tetapi juga ruang terbuka hijau yang tetap menjaga biodiversitasnya.

Atas saran Hendy, kami menyempatkan mampir ke St. James’s Park untuk sekadar mencicipi rasa taman kota di sini.

Setibanya di St. James’s Park, kami disambut oleh sekumpulan burung pelikan, dikerubungi para pengunjung yang mengabadikannya. Di dalam, ada sebuah danau buatan di tengah-tengah taman. Danau ini menjadi pusat biodiversitas taman, selain pohon-pohon besar yang berdiri tegak di sekelilingnya. Beberapa satwa saya jumpai di sini, seperti burung air, bebek kartun, dan tupai.

Beburung pelikan yang kedinginan

Taman ini dikelola dengan baik. Ada banyak papan informasi yang menjelaskan tentang satwa-satwa di dalamnya. Saya juga melihat tag di kaki beberapa burung dan bebek—tanda bahwa keberadaan mereka dipantau dan dicatat dengan baik. Saya membayangkan, data ini digunakan untuk evaluasi dan perencanaan taman. Dan mungkin, ada peneliti-peneliti berdedikasi tinggi di balik ini semua.

Satu satwa yang terpasang tag di kakinya

Kalau tidak terlalu tertarik pada satwa dan biodiversitas, taman ini tetap punya daya tarik lain. Jalan setapak dibangun melingkar, memudahkan pengunjung untuk berjalan mengelilingi taman. Di beberapa titik tersedia bangku taman untuk duduk dan bersantai.

Waktu sudah hampir pukul satu siang. Kami memutuskan berhenti di salah satu bangku dan menikmati waffle bekal kami. Saya menyempatkan video call dengan anak, menunjukkan bebek kartun, burung, dan tupai sembari menemaninya makan malam.

Ini yang saya sebut dengan bebek kartun

Buckingham Palace, Istana Keluarga Kerajaan

Kami tiba di Buckingham Palace saat anak-anak prajurit mulai berbaris. Orang-orang berkerumun di depan pagar istana, berharap melihat sesuatu yang spesial, seperti momen pergantian penjaga. Saya berdiri di antara mereka, mencoba menangkap momen.

Prajurit anak-anak yang berbaris di depan Istana Buckingham

Jujur saja, istana kerajaan Inggris ini tidak banyak meninggalkan kesan bagi saya. Tidak ada keterikatan emosional atau ketertarikan khusus lainnya. Cukup untuk menjawab pertanyaan: “Sudah pernah ke sana belum?” Itu saja.

Berfoto di depan Istana Buckingham

Dari sini, kami berjalan kaki, masuk ke Stasiun Green Park dan naik tube menuju Piccadilly Circus, salah satu titik paling ramai dan ikonik di pusat Kota London.

Penutup – Bagian 1

Hari itu belum selesai. Setelah mengunjungi berbagai landmark ikonik di pusat London—dari Embankment hingga Buckingham Palace—kami beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke bagian kota yang berbeda nuansanya.

Di bagian selanjutnya, saya akan menceritakan pengalaman menjelajah sisi lain London yang lebih hidup, penuh warna, dan ramai oleh pengunjung: Piccadilly Circus. Juga cerita saya kembali ke Emirates Stadium, bersama puluhan ribu fans Meriam London lainnya. Ini baru setengah hari, dan cerita London masih berlanjut.

Saddam Hussein
Saddam Hussein
Articles: 137

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Link QQ88

Daftar QQ88

QQ88

slot gacor terbaru

QQ88